3 Top Weekend News, Pekan Pertama Oktober

| 06 Oct 2018 10:18
3 <i>Top Weekend News</i>, Pekan Pertama Oktober
Ilustrasi (era.id)
Jakarta, era.id - Selamat berakhir pekan, selamat menikmati waktu libur dan bercengkerama bersama keluarga. Untuk kamu yang ketinggalan informasi sepekan ini, lewat fitur ini, kami ingin merangkum tiga isu besar yang beredar sepekan ini. Kali ini, kami bawakan dengan fitur bernama 3 Top Weekend News. Silakan simak rangkuman berita yang kami sajikan

1. Palu Luluh Lantak

Jumat (28/9/2018), gempa berkekuatan 7,4 skala richter melanda Palu dan Donggala Sulawesi Tengah. Gempa ini disusul tsunami dengan ketinggian mencapai 6 meter meluluhlantakkan kedua kota tempat tersebut.

Peristiwa gempa ini direkam dan disebarluaskan di media sosial. Video detik-detik bencana ini pun berseliweran. Simpati bangsa Indonesia pun mengkristal dengan dukungan digital dan gerakan tagar #prayforpalu yang jadi trending topic di Twitter. Seluruhnya ingin mencari kabar tentang peristiwa ini, termasuk kabar sanak saudara yang ada di sana.

Sehari kemudian, pemerintah pusat mengajak kerja sama pengusaha untuk memperbolehkan masyarakat Palu dan Donggala mengambil logistik di warung yang ada. Tujuannya, agar kebutuhan logistik para pengungsi terpenuhi karena akses menuju lokasi gempa terisolasi. Namun, belakangan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menampik kebijakan memperbolehkan masyarakat Palu menjarah minimarket yang tutup. 

Dari sini, isu penjarahan merajalela di sana. Penjarah tidak hanya mengambil bahan makanan pokok, tapi juga barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan bertahan hidup usai gempa ini.

Pada Minggu (30/9/2018), Presiden Jokowi melakukan kunjungan. Dia memerintahkan jajarannya untuk fokus penanganan gempa dan tsunami ini. Penanganan gempa dan tsunami ini pun makin diintensifkan.

(Ilustrasi/era.id)

Selanjutnya, pada Selasa (2/10/2018), polisi melakukan penangkapan terhadap para penjarah di sana. Sebanyak 45 orang ditangkap karena melakukan penjarahan dengan barang bukti antara lain, sound system, monitor LCD, mesin pencetak atau printer, amplifier, mesin ATM Bank BNI, linggis, betel, obeng, sepeda motor, pendingin ruangan atau AC, kunci T, kunci inggris, palu, slang, botol, kompresor AC, dispenser, mikrofon, satu karung sandal, satu karung sepatu, serta satu dus pakaian dan celana. 

Berjalannya waktu, sejumlah negara mulai memberikan perhatian kepada Pemerintah. Pada, Rabu (3/9/2018), bantuan internasional pertama, dari Singapura, tiba di Bandara Mutiara Sis Al Jufri dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules.

Pada Kamis (4/10/2019), alat berat mulai masuk untuk melakukan evakuasi. Alat berat ini masuk ke wilayah Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Sepekan ini, tercatat ada 1.571 korban jiwa yang telah ditemukan. Penyebarannya berada di berbagai wilayah. Di Palu, jumlah korban paling banyak yaitu 1.352 orang, kemudian di Donggala 144 orang, Sigi 62 orang, Parigi Moutong 12 orang, dan di Pisangkayu Sulawesi Barat satu orang.

Sebanyak 1.551 korban meninggal dunia telah dimakamkan di pengungsian massal di Puboya, Pantoloan, dan perkuburan keluarga. masih ada 152 korban dilaporkan tertimbun. Kemudian sebanyak 113 korban dilaporkan hilang.

(Ilustrasi/era.id)

Sementara itu, BNPB mencatat ada 120 orang asing yang menjadi korban. Satu di antaranya, ditemukan tewas. Korban adalah warga negara Korea Selatan yang ditemukan di reruntuhan Hotel Roa-Roa, Palu, kemarin, 4 Oktober 2018. Dia adalah atlet paralayang yang akan berkompetisi di festival paralayang di Kota Palu.

Sedangkan, 119 WNA lainnya, dipastikan dalam kondisi aman. Sebagian besar sudah dievakuasi keluar dari wilayah Palu, dan sudah ada yang sudah kembali ke negaranya.

Masa tanggap darurat bencana di Sulteng rencanannya akan dilakukan selama 14 hari sejak kejadian, atau tepatnya akan berakhir pada pekan depan. Namun, waktu pencarian dipangkas menjadi 10 hari. Keputusan itu sesuai prosedur Basarnas, pencarian korban seharusnya dilakukan selama tujuh hari. Dalam bencana kali ini, ada penambahan waktu hingga tiga hari.

"Itu sesuai dengan mekanismenya. Karena dalam proses pencarian, di atas 10 hari korban diperkirakan sudah meninggal dunia," ujar Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (5/10/2019).

2. Ratna Sarumpaet: Bohong Lalu Ditangkap

Aktivis Ratna Sarumpaet menjadi sorotan publik sepekan ini. Dia pun mengaku sebagai pembuat hoaks terbaik, saat ini. Jelas, ini bikin geger negeri ini. Apalagi, dia adalah juru bicara pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Cerita hoaks ini berawal dari media sosial setelah munculnya foto Ratna yang lebam di muka pada Selasa (2/10). Kubu Prabowo-Sandiaga buru-buru mencari tahu kebenaran kabar tersebut. 

Hingga akhirnya, Waketum Partai Gerindra Fadli Zon; politikus Partai Gerindra Rachel Maryam; juru bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, dan Prabowo menemui langsung Ratna. Setelah mendengar cerita Ratna, mereka punya satu kesimpulan yang sama, yaitu lebam di wajah Ratna karena dianiaya orang tak dikenal di Bandung pada 21 September.

Hanya saja, pernyataan mereka itu tidak benar-benar dipercaya seluruh masyarakat di Indonesia. Di media sosial, lebam yang didera Ratna dianggap janggal. Bukan menganggap sebagai luka dianiaya, lebam diwajah Ratna dianggap sebagai bekas operasi sedot lemak.

(Ilustrasi/era.id)

Keesokan harinya, Rabu (3/10/2018), Polisi membeberkan fakta yang mereka temui setelah melakukan penelusuran atas pernyataan yang disampaikan kubu Prabowo ini. Hasilnya, Ratna diketahui tidak dirawat di 23 rumah sakit dan tidak melapor ke 28 Polsek di Bandung, dalam kurun waktu 28 September sampai 2 Oktober 2018.

Malah, polisi mendapatkan bukti kalau pada tanggal 21 September, Ratna berada di RS Bina Estetika di Menteng, Jakarta Pusat, pada 21 September 2018 sekitar pukul 17.00. Katanya, Ratna melakukan operasi plastik sedot lemak di sana.

Siang harinya, Ratna pun mengakui kalau dia berbohong dan meminta maaf. 

Malam harinya, Prabowo juga ikutan minta maaf karena dia menyebarkan kabar kalau Ratna dianiaya orang tidak dikenal. Ketua Umum Partai Gerindra itu pun meminta Ratna mundur pada Rabu malam.

Kamis (4/10/2018), ibunda Atiqah Hasiholan ini ditangkap polisi saat berada di Bandara Soekarno-Hatta sekira pukul 22.00 WIB. Saat ditangkap, dia hendak pergi ke Santiago, Chili, untuk menghadiri acara The 11th Women Playwrights International Conference 2018 yang disponsori oleh Pemprov DKI Jakarta.

(Ilustrasi/era.id)

Jumat (5/10/2018) dini hari, polisi menggeledah rumah Ratna di jalan Kampung Melayu Kecil V/24, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Mereka menyita sejumlah barang, di antaranya, laptop, beberapa kartu ATM, buku tabungan, buku catatan Ratna ada juga bill-bill pembayaran, untuk kepentingan penyidikan.

Pada malam harinya, Ratna pun resmi ditahan selama 20 hari ke depan, usai menandatangani surat perintah penahanan ditahan dengan Sph/925/10/2018 Ditreskrimum Polda Metro Jaya, setelah dilakukan pemeriksaan kemudian ditemukan alat bukti baik bukti petunjuk, keterangan saksi, keterangan tersangka.

"Alasan penahanan adalah jangan sampai melarikan diri, jangan sampai mengulangi perbuatan, dan menghilangkan barang bukti," ucap kata Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Jumat (5/10/2018) malam.

3. Rupiah keok dari dolar

Sepekan ini, rupiah melemah. Bahkan menyentuh angka Rp15.150 per dolar AS ketika ditutup pada penghujung akhir pekan, Jumat (5/10/2018) sore. 

Sehari sebelumnya, Kamis (4/10/2018), rupiah mencapai Rp 15.199 per dolar. Angka ini adalah puncaknya dolar berjaya dari rupiah di pekan ini.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga terjadi pada perdagangan pagi ini, Rabu (3/10/2018). Saat itu, rupiah mencapai Rp15.065 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (2/10/2018), dolar pertama kalinya menembus angka 15.000, yaitu Rp15.071.

(Ilustrasi/era.id)

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pelemahan ini terjadi karena kondisi eksternal. Dia membantah, kondisi ini bukan karena masalah bencana alam belakangan ini.

Kata dia, salah satu faktor yang menyebabkan dolar semakin kuat adalah munculnya sentimen akibat defisit anggaran yang tengah dihadapi Italia. Sementara dari sisi internal, Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran.

Namun demikian, Sri Mulyani memastikan jika pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya untuk mengendalikan nilai tukar rupiah di level yang wajar.

Misalnya, BI telah mengeluarkan kebijakan terkait suku bunga. Sementara sisi fiskal, pemerintah mengeluarkan beragam kebijakan pengendalian impor untuk komoditas tertentu. Serta, mengeluarkan kebijakan pencampuran CPO ke dalam solar sebanyak 20 persen yang diharapkan bisa menekan impor dan menghemat devisa.

Rekomendasi