Mengintip Tim Identifikasi Korban Lion Air JT 610 Bekerja

Tim Editor

Posko postmortem identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang. (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Proses identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang dilakukan sejak Selasa (30/10) hingga waktu yang belum ditentukan. Ada 189 jenazah, berdasarkan manifes pesawat beregister PK-LQP itu yang harus dikembalikan kepada keluarga.

Jumat (2/11) siang lalu, tim era.id bersama sejumlah pewarta lainnya, berkesempatan untuk mengikuti proses identifikasi jenazah atau postmortem di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Baca Juga : Posko Trauma Healing untuk Mereka yang Ditinggalkan

Sebelum ke proses tersebut, kami diajak untuk mendatangi posko antemortem yang ada di rumah sakit tersebut. Posko ini bertujuan untuk mendata para penumpang yang ikut dalam pesawat nahas ini. Selain mendata, di posko ini Tim DVI Mabes Polri juga mengambil sejumlah DNA dari keluarga penumpang pesawat dari maskapai berlambang singa ini. Tujuannya, untuk dicocokkan dengan jenazah yang ditemukan. 

Saat kunjungan ini, kami melihat sejumlah petugas dari Tim DVI Mabes Polri sedang bekerja merapikan data antemortem para korban, di antaranya ada keluarga yang datang untuk menyerahkan data gigi penumpang.


Sejumlah keluarga melaporkan antemortem milik korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang. (Wardhany/era.id)

Selanjutnya, kami diajak ke posko postmortem. Posko ini jauh berbeda dengan posko antemortem. Di tempat inilah, jenazah para korban diidentifikasi. Jenazah yang ada di sini tidak utuh, sehingga harus dicocokkan dengan data antemortem yang diberikan oleh pihak keluarga di posko sebelumnya.

Baca Juga : Keluarga Korban Lion JT 610 Disarankan Tak Lihat Jenazah

Saat masuk ke dalam, bau tak sedap menyeruak ke rongga hidung kami. Bau desinfektan dan bau lainnya cukup menyengat syaraf penciuman kami. Meski menggunakan masker, baunya tetap saja masuk ke dalam hidung. 

Suhu ruangan di sana cukup dingin. Benda-benda di sana juga semuanya terbuat dari besi, menambah awet rasa dingin di kulit ketika tersentuh.

Baca Juga : Belum Ada Jenazah Utuh Korban dari Lion JT 610

Begitu masuk, kami langsung dihadapkan dengan ruang CT-Scan jenazah. Kami melihat ada papan keterangan tentang data-data dari kantong jenazah yang ada di RS Polri Kramat Jati. 

Menurut Spesialis Forensik dr. Niken Budi Setiawaty, tiap-tiap kantong jenazah yang datang akan dicatat secara administrasi untuk pembeda.

"Jenazah diterima terus kita me-record, kita labeli nomor kantong jenazah dan sebagainya diadministrasi kemudian kita masukan ke dalam freezer," kata Niken. 



Papan keterangan tentang data-data dari kantong jenazah yang ada di RS Polri Kramat Jati. (Wardhany/era.id)

Selanjutnya, kami masuk ke sebuah ruangan. Kami melihat sejumlah alat-alat kedokteran serta meja-meja yang digunakan oleh tim untuk mengidentifikasi jenazah para penumpang Lion Air beregistrasi PK LQP. Meja itu terbuat dari besi dan terdapat lampu di atasnya, ada juga freezer yang digunakan untuk menyimpan jenazah di sana.

Niken menjelaskan, tim idenfikasi ini terdiri dari ahli patologi, ordontologi, ahli forensik, ahli DNA, dan Inafis. Mereka bertugas mencatat maupun menganalisis bila ada tanda-tanda khusus yang melekat di jenazah seperti tanda lahir, tato, atau bekas operasi.

"Jadi sewaktu pemeriksaan dilakukan. Satu meja jenazah itu ada ahli patologis, ada forensik, tim DNA, Inafis, fotografer, dan dokter gigi. Satu meja pasti ada itu,” jelasnya sambil menunjukkan meja otopsi yang terbuat dari besi dan ada di sebelahnya.


Tempat identifikasi korban Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang. (Wardhany/era.id)

Lantas, jenazah itu diambil sampel DNA-nya kemudian akan dicocokan dengan data antemortem. "Setelah dari freezer kita baru masuk proses pemeriksaan. Kita analisis, kita tentukan hal khusus misal tanda lahir, tahi lalat," tambah Niken.

Kemudian dari hasil analisis itu, bagian tubuh akan dinomori dan dilabeli lagi untuk pendataan administrasi untuk dilaporkan kepada Ketua Tim DVI baik sudah teridentifikasi maupun belum.

"Kita catat per-body part, kita beri label lagi. Iya, lalu kita rekonsiliasi. Jadi waktu di sini kita ambil DNA, kan body part asalnya dari satu body," kata dia.


Alat kedokteran untuk proses identifikasi. (Wardhany/era.id)

Hingga hari ini, Sabtu (3/11/2018), tim sudah mengidentifikasi empat korban. Mereka adalah, Candra Kirana, Hizkia Jorry Saroinsong, dan Monni, yang teridentifikasi, Jumat (2/11). Serta, Jannatun Cintya Dewi yang teridentifikasi, Rabu (31/10).

Candra Kirana, laki-laki, diidentifikasi dari bagian kakinya. Dia diidentifikasi dari sepatu yang dikenakannya. Sepatu tersebut terekam di CCTV Bandara Soekarno-Hatta, dan masih melekat di kaki Candra saat bagian tubuhnya itu dievakuasi.

Baca Juga : Foto Pose Tersenyum Bisa Bantu Identifikasi Jenazah

Kemudian, Monni, penumpang perempuan ini berhasil diidentifikasi karena tatonya bergambar bunga yang terletak di punggung atas bagian kanan.

Selanjutnya, Hizkia Jorry Saroinsong, penumpang laki-laki yang teridentifikasi dari sidik jari yang ada di ibu jari, jari telunjuk, dan jari kelingking.

Lalu, Jannatun Cintya Dewi, penumpang perempuan yang teridentifikasi dari sidik jarinya.

Tag: lion air jatuh

Bagikan: