Fenomena Bapak Rumah Tangga

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Bukan hal yang sulit mendapatkan predikat pengangguran, tidak bertanggung jawab, pemalas, dan 'gelar' negatif lain untuk seorang laki-laki yang kesehariannya dihabiskan di rumah mengurus kerjaan rumah tangga.

Mungkin itu salah satu konsekuensi hidup di masyarakat yang berpegang erat pada budaya patriarki. Apalagi, di sini, di Indonesia, yang budaya kolektivismenya kuat. Justifikasi semacam ini gampang muncul buat laki-laki yang memilih berdiam diri di rumah.

Misalnya, Iqbal (30) orang yang kerja di industri media, bercerita tentang kisah seorang temannya yang menjadi bapak rumah tangga. Keadaan itu bukanlah kehendaknya--si teman Iqbal--lelaki berusia 35 tahun itu harus begini karena mengalami putus hubungan kerja (PHK). Di umur segitu, mencari pekerjaan tentu sangat sulit. Ini yang membuat si teman Iqbal tadi menganggur dan memilih mengurus rumah.

"Awalnya dia kerja, terus kena PHK, karena umurnya udah 35 ke atas cari kerja agak susah. Kemudian istrinya yang kerja, karena umur istrinya masih relatif muda yakni 25 tahun," katanya kepada era.id beberapa waktu lalu.

Kenyataannya, melakukan kerja domestik sambil mengurus anak itu bukanlah pekerjaan gampang. Si lelaki berusia 35 tahun itu pun mengaku bahwa dirinya lebih capek di rumah, daripada bekerja seperti biasanya. 

"Karena sebetulnya ia tidak terbiasa dengan rutinitas di rumah. Sementara ia harus beradaptasi dalam melakukan tugas domestik, mengurus anak, dan lainnya," kata Iqbal menirukan keluh temannya tersebut.


Ilustrasi (era.id)

Belum lagi, apa yang dilakukan teman Iqbal tadi tentunya jadi cibiran tetangga. Bahkan, tak tahan dengan cibiran tetangga, akhirnya membuat dia harus hijrah. Yang awalnya tinggal di daerah Tanggerang, kemudian pindah ke Kalideres, Jakarta Barat. 

"Karena banyaknya omongan dari tetangga itu, dia akhirnya pindah ke rumah bapaknya, sambil membawa seorang anaknya" kata Iqbal menirukan cerita temannya.

Kejadian tersebut merupakan contoh kecil dari potret kehidupan bapak rumah tangga yang ada di Indonesia. Mungkin masih ada kejadian sepertinya yang menjadi korban dari budaya patriarkal yang begitu kental.

Apakah ada tempat bagi bapak rumah tangga?

Fenomena bapak rumah tangga ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negeri sakura, Jepang, fenomena laki-laki yang menghabiskan waktu hari-harinya di rumah itu sempat menyita perhatian warga Jepang.

Pada Maret dua tahun lalu, sekitar 30 pria dan wanita lajang berkumpul di acara perjodohan di distrik Yotsuya Tokyo dengan harapan bertemu dengan sang belahan hati. 

Ada yang tidak biasa dari acara biro jodoh itu, di sana, mereka para kaum adam bersedia menjadi bapak rumah tangga, dan kebetulan para perempuannya juga memang mencari pasangan seperti itu.



Ilustrasi (era.id)

Pada sesi perkenalan, para lelaki berbincang tentang hasrat mereka untuk memasak dan tentang pentingnya laki-laki melakukan peran kerumahtanggaan serta seorang bapak yang membesarkan anak-anaknya kelak. 

"Jika saya punya anak di masa depan, saya ingin memainkan peran utama dalam melakukan tugas domestik dan membesarkan anak," kata seorang peserta laki-laki (35) yang menolak disebutkan namanya, seperti dikutip dari japantimes.co.jp.

Sementara seorang pria berusia 57 tahun mengaku lebih bersedia untuk mendukung calon istri yang ingin terus bekerja daripada tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak. 

"Saya sangat suka mencuci baju, memasak, dan melakukan pekerjaan domestik lainnya," kata pria tersebut.

Untuk diketahui, acara ini diselenggarakan oleh sekelompok bapak rumah tangga yang menyebut dirinya sebagai Himitsu Kessha Shufu no Tomo (Kumpulan Rahasia, Teman-teman Suami Rumah Tangga). Acara ini dibuat di tengah agenda nasional untuk membalikkan stereotip status bapak rumah tangga.


Ilustrasi (unsplash)

Pekerjaan mereka itu tidak main-main, mereka berharap bahwa 30 persen pasangan yang menikah pada 2020 akan menjadi istri yang berkeja dan suami yang tinggal di rumah. 

Angka itu muncul awalnya setengah becanda, setelah Perdana Menteri Shinzo Abe berjanji untuk meningkatkan rasio perempuan dalam posisi kerja manajerial hingga 30 persen pada 2020. 

Kendati demikian kelompok ini serius ingin mengubah budaya patriarki yang berlaku di mana laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah bangsa.

"Tujuan kami yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan pilihan gaya hidup bagi pasangan yang sudah menikah. Kami ingin mewujudkan masyarakat di mana orang dapat menjalani kehidupan yang lebih fleksibel, dan di mana mereka dapat memilih peran dalam rumah tangga tergantung pada keadaan mereka," kata Kepala Komunitas Gerakan Suami Rumah Tangga, Taizo Horikomi (39) yang sekaligus seorang Bapak rumah tangga beranak dua ini.


Ilustrasi (unsplash)

Tag: ayah pekerja rumah tangga

Bagikan: