Hasil Investigasi KNKT: Lion Air PK LQP Bermasalah Sebelum Terbang

| 28 Nov 2018 13:16
Hasil Investigasi KNKT: Lion Air PK LQP Bermasalah Sebelum Terbang
Konferensi pers KNKT soal investigasi pesawat Lion Air PK LQP. (Diah/era.id)
Jakarta, era.id - Komite Nasional Transportasi (KNKT) mengeluarkan dua rekomendasi terkait keselamatan penerbangan untuk maskapai Lion Air. 

Rekomendasi ini dikeluarkan berdasarkan hasil investigasi awal terhadap black box Flight Data Recorder (FDR) Lion Air PK LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10).

Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo menjelaskan, KNKT meminta Lion Air menjamin implementasi dari Operation Manual parta A subchapter 1.4.2.

"Hal ini dalam rangka meningkatkan budaya keselamatan dan untuk menjamin pilot dapat mengambil keputusan untuk meneruskan penerbangan," kata Nurcahyo di Kantor KNKT, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Rabu (28/11/2018).

Kedua, lanjut Nurcahyo, KNKT merekomendasikan Lion Air menjamin semua dokumen operasional diisi dan didokumentasikan secara tepat.

Sempat bermasalah di Bali

Nurcahyo menjelaskan kronologis yang disusun dari hasil investigasi catatan FDR. Fakta-fakta itu dirangkum dalam laporan pendahuluan atau preliminary report, yang sesuai ketentuan harus disampaikan 40 hari setelah kejadian.

Pada penerbangan Lion Air rute Denpasar-Jakarta yang terbang pada Minggu (28/11) lalu, persis sebelum jatuhnya pesawat Lion Air PK LQP rute Jakarta-Pangkalpinang, pesawat tersebut mendapatkan masalah.

"Ketika berada di ketinggian sekitar 400 kaki di atas permukaan laut, kapten menyadari terdapat peringatan '(Indicated Airspeed) IAS DISAGREE' kemudian mengalihkan kendali pesawat udara ke kopilot serta membandingkan penunjuk pada Primary Flight Display (PFD) dengan instrumen standby dan menentukan bahwa PFD kiri mengalami masalah," tutur Nurcahyo.

Pada saat penerbangan oleh kopilot, kapten melihat ada permintaan otomatis untuk turun, kopilot mengeluh kendali sangat berat kemudian kapten mematikan trim elektrik, yang artinya harus dikendalikan manual oleh tangan.

Ilustrasi (era.id)

Kapten sempat melakukan deklarasi ‘PAN PAN’ karena mengalami kegagalan instrumen kepada petugas pemandu lalu lintas penerbangan Denpasar dan meminta untuk melanjutkan arah terbang searah dengan landasan pacu. 

"Kemudian sampai tiba di Jakarta. Kapten melaporkan permasalahan pesawat udara kepada teknisi dan menulis IAS dan ALT Disagree dan menyalanya lampu feel differential pressure (FEEL DIFF PRESS) di Aircraft Flight and Maintenance Logbook (AFML)," ucapnya.

Lanjut Nurcahyo, teknisi pun melakukan pembersihan Air Data Module (ADM) pitot dan static port kiri untuk memperbaiki IAS dan ALT disagree disertai dengan tes operasional di darat dengan hasil tidak ada masalah. Kemudian teknisi melakukan pembersihan sambungan kelistrikan pada Elevator Feel Computer disertai dengan tes operasional dengan hasil baik. 

Detik-detik menegangkan

Sampai pada pemberangkatan pesawat Lion Air PK LQP lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta dengan tujuan Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang pada Senin (29/10) 2018, pukul 06.20 WIB, FDR merekam adanya perbedaan antara Angle of Attack (AoA) kiri dan kanan sekitar 20 derajat yang terjadi terus-menerus sampai dengan akhir rekaman. 

"Sesaat pesawat udara sebelum lepas landas (rotation), stick shaker pada control column sebelah kiri aktif dan terjadi pada hampir seluruh penerbangan," ucap dia.

Ilustrasi (era.id)

Saat terbang, kopilot sempat bertanya kepada petugas pemandu lalu lintas penerbangan untuk memastikan ketinggian serta kecepatan pesawat udara yang ditampilkan pada layar radar petugas pemandu lalu lintas penerbangan. 

Kemudian kopilot juga melaporkan mengalami masalah kontrol penerbangan atau flight control problem kepada radar petugas pemandu lalu lintas penerbangan. 

"Setelah flaps dinaikkan, FDR merekam trim AND otomatis aktif diikuti dengan input dari pilot untuk melakukan trim aircraft nose up (ANU). Trim AND otomatis berhenti ketika flaps diturunkan," jelas Nurcahyo.

Ketika flaps dinaikkan kembali, trim AND otomatis dan input dari pilot untuk melakukan trim aircraft nose up (ANU) terjadi kembali dan berlanjut selama penerbangan hingga akhirnya beberapa menit kemudian FDR berhenti merekam data.

Investigasi tetap berlanjut

Nurcahyo bilang, pihaknya masih akan melanjutkan proses investigasi, salah satunya untuk memeriksa sensor AoA dan melakukan simulasi penerbangan dengan menggunakan engineering simulator miliki Boeing. Tim investigasi, lanjutnya, juga akan melakukan analiasa terhadao data Quick Access Recorder (QAR) yang telah didapatkan.

"Investigasi masih lanjut, jika selama proses investigasi ditemukan isu keselamatan maka KNKT akan dengan segera memberitahukan kepada pihak yang terkait agar dapat segera ditanggulangi," kata dia.

Ilustrasi (era.id)

Rekomendasi