Bidut si Manusia Ular dari Buaran

Tim Editor

Pak Bidut dan ularnya. (Mahesa/era.id)

Selamat datang di Ngulik, artikel khas era.id yang bakal tayang setiap akhir pekan. Untuk pekan ini, era.id mengambil tema pawang ular tradisional dari Buaran, Jakarta Timur. Bidut Sableng nama panggungnya. Di tangan Bidut, ular berbisa sekaliber kobra tak bedanya seperti perkutut.

 

"Mau diapain saya? Kok aku disia-sia (dijahatin)? Kok aku ndak punya tempat?" protes seekor ular sanca kepada Bidut saat hendak ditangkap.

"Ndak punya tempat gimana?" tanya Bidut penasaran.

"Di sana punya tempat diomelin, masuk rumah orang dikemplang (dibunuh). Enggak boleh itu sebenarnya. Aku gelem dipateni (aku mau dibunuh) kalau untuk obat. Bismillah, Gusti Allah ngijinin."

Terdengar konyol memang, jika manusia bisa berbicara dengan hewan layaknya Nabi Sulaiman dalam hikayat kitab suci atau Parseltongue (Teknik berbicara dengan ular) ala Harry Potter. Tapi setidaknya ada pesan interaksi antar makhluk hidup yang kami terima saat bertemu seorang pawang ular tradisional di bilangan Buaran, Jakarta Timur. Dia mengklaim bisa berkomunikasi dengan ular dan binatang buas lainnya.

Lupakan mendiang Steve Irwin atau Panji Petualang yang sudah wara-wiri di televisi. Pria sepuh asal Kartosuro, Jawa Tegah, ini sudah masyhur di daerah Buaran, Jakarta Timur dan sekitarnya, bahkan seantero negeri.

"Saya habis dari Boyolali ini, baru pulang. Kemarin dari Aceh," katanya tergopoh-gopoh saat menyambut era.id di rumahnya.  

Bidut Sableng nama panggungnya. Sepanjang interviu, pria yang kini genap berusia 70 tahun itu berhasil menutup rapat soal identitas aslinya. Menjadi misteri hingga sesi interviu berakhir, seperti misteri kemampuannya menaklukan ular dengan mudah di depan mata kepala kami. Ia menyiuli ular kobra yang ditaruh di sebuah kandang di depan rumahnya, bak menyiuli burung perkutut. Kobra dewasa sepanjang satu meter ini pun tampak jinak, diam tak bergeming di tangan Bidut.



Pak Bidut memamerkan keahliannya (Gabriella Thesa/era.id)


"Ini sudah sebulan belum makan, jadi agak galak," kata Bidut sambil terkekeh.

Dengan tenang, ia memegang ular yang baru ditangkapnya. Tak seperti Panji Petualang yang terlihat dramatis dan banyak mengelak saat kobra bereaksi di depan kamera, Bidut malah menyiuli ular dengan nama ilmiah Naja ini. "Hayo jangan nakal. Ayo berdiri," perintah Bidut kepada ular kobra sembari mengangkat tangan dan membelai kepalanya.

Hampir separuh hidupnya, Bidut mendarmakan untuk berkawan dengan ular. Ia sering mendapat job dari masyarakat untuk menjinakkan ular yang ngumpet di rumah-rumah warga. Semacam ada ikatan batin, Bidut mengaku tak ada sedikit pun rasa takut saat berinteraksi dengan hewan melata ini. "Menangkap ular, tak bedanya dengan bersenang-senang," demikian sebut Bidut.

Meski tak takut, bukannya ia tak pernah kena sial. Jempol sebelah kirinya, dan satu ruas jari telunjuknya diamputasi akibat digigit ular. Sudah ribuan gigi ular menjamah tubuhnya sejak pertama kali berkarier sebagai pawang. Hal itu juga yang membuat Bidut mematok harga cukup tinggi untuk jasanya menaklukkan ular. Sekali beraksi, Bidut meminta bayaran Rp5 juta. Upah itu digunakan untuk membeli serum antibisa ular yang harganya mencapai Rp2 juta.



Jempol Pak Bidut Putus (Gabriella Thesa/era.id)

"Ya kita kan kalau digigit suntiknya mahal. Sekali jus (suntik) dua juta lho serumnya itu. Rahasia Tuhan enggak tahu. Ilmu itu kan kalahnya sama apes. Ularnya juga ndak salah sama saya. Saya yang salah karena membangunkan tidurnya, terus kaget dia," ucapnya.

Bidut menceritakan, dia pertama kali menangkap ular saat duduk di kelas 1 Sekolah Rakyat (SR). Kala itu, kakeknya lah yang menyuruhnya untuk menangkap seekor ular kobra saat mereka turun ke sawah atau ladang. Dari situ Bidut mulai menyadari bahwa dia punya bakat menjinakkan dan berbicara dengan ular --baik yang berbisa tinggi maupun yang tak berbisa.

"Saya umur 12 tahun sudah nanganin ular. Dulu saya tukang sulap, tukang hipnotis, tapi sekarang sudah berhenti. Dulu ikut sirkus lah, tidur sama ular ular berbisa," katanya.

Berbekal keahlian itu Bidut bisa menyambung hidupnya. Pada tahun 1960an, dia memutuskan pindah ke Jakarta, bergabung dengan rombongan sirkus dan bekerja di beberapa tempat wisata di Ibu Kota seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) hingga Kebun Binatang Ragunan. Seiring berjalannya waktu, Bidut pun kemudian meninggalkan panggung hiburan dan memutuskan untuk fokus menjadi pawang ular panggilan.

"Kalau bisa saya pengen kerja yang lain, jadi pengusaha. Tapi enggak bisa. Sudah enggak bisa lepas lagi dari ular," kata Bidut.

Kebanyakan orang, kata Bidut, mengandalkan bakatnya untuk menangkap ular jenis kobra atau ular berbahaya lainnya. Jika ditotal, sudah ada ribuan makhluk jenis reptil itu yang berhasil dia tangkap. Namun dia mengaku tidak ada satu pun ular yang dibunuh, melainkan dilepaskan kembali ke alam bebas.

Tips Menghadapi Kobra


Percakapan dengan pria tua berambut gondrong terus berlangsung. Wajahnya gusar saat ditanya soal maraknya kasus ular di perkampungan saat ini. Bidut berkeluh atas perbuatan orang yang membunuh ular, kendati atas dasar melindungi nyawa manusia.

"Ngapain sih bunuh ular. Wong mereka ini ndak punya rumah karena manusia. Mbok ya hidup berdampingan saja, kalau dibunuh terus nanti punah," kata Bidut.



Infografik (Ilham/era.id)

Dia lantas menyarankan, jika melihat ada ular masuk ke rumah sebaiknya diusir saja menggunakan sapu. Kata Bidut, ular tidak akan melawan jika mereka diusir dengan baik. "Hush.. hush.. hush.. gitu ngusirnya. Kalau takut ya pakai sapu, tapi jangan dipentung (dipukul). Ndak salah apa-apa mereka itu," kata Bidut.

"Mereka (Kobra) itu aslinya ndak mau gigit, beda sama (ular) sanca, yen ngelih opo ae dipangan (kalau lapar apa saja dimakan). Tapi aslinya baik semua," lanjutnya.

Kami pun diajak oleh Bidut melihat sejumlah koleksi lainnya di sebuah tempat berbentuk warung, yang letaknya hanya 15 menit berjalan kaki dari rumahnya.

Saat tiba di lokasi, bau tak sedap terasa menusuk hidung. Di sana, sejumlah hewan peliharaan koleksi bidut, mulai dari kobra, sanca, hingga monyet menempati jejeran kandang. Sekitar lima menitan Bidut bermain bersama ular Kobra yang katanya baru saja menetaskan telurnya. Atraksi Bidut yang begitu luwes memegang ular Kobra berhasil mengundang orang di sekitar berkerumun.



Pak Bidut memamerkan keahliannya (Gabriella Thesa/era.id)

Decak kagum hingga jerit ketakutan terdengar kala Bidut bermain bersama koleksinya. "Saya dulu itu bisa tidur sama ribuan ular berbisa. Benar-benar ndak bisa lepas lagi saya sama mereka ini," katanya.

Meski sudah mempunyai 11 cucu dan 1 cicit, namun ia belum menurunkan ilmunya sebagai pawang ular. Tapi ada satu cucu yang menurutnya berbakat, meski masih jauh dari kata mumpuni. "Belum ada yang bisa. Ini ilmu ndak gampang," tutup Bidut.

Tag: ngulik

Bagikan: