Melihat Sekolah Orang Utan di Kalimantan

Tim Editor

    Sekolah orang utan (Sumber: Kementerian LHK)

    Kalimantan, era.id - Sebuah terobosan menarik untuk mendukung langkah konservasi orang utan dilakukan oleh Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungah Hidup dan Kehutanan (LHK). 

    Terobosan itu bernama Orang Utan Forest School, sekolah khusus yang diperuntukkan bagi orang utan. Bukan untuk baca tulis, apalagi belajar matematika. Orang Utan Forest School, didirikan sebagai sarana latihan orang utan yang akan dilepas ke alam bebas.

    Didirikan di kilometer 6 dan 7 Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, sekolah yang didirikan atas kerja sama dengan Yayasan Jejak Pulang ini jadi langkah penting dalam upaya konservasi hewan yang terancam punah ini.

    Selain sebagai sarana latihan orang utan hidup di alam bebas, Orang Utan Forest School merupakan tempat pendidikan dan rehabilitasi bagi individu-individu orang utan.

    Di sana, individu-individu orang utan bakal diajari cara mengenali makanan, memperoleh makanan, hingga dilatih membuat sarang dan kemampuan memanjat serta mengenali berbagai macam bahaya.

    Kepala Balitek KSDA Samboja, Ahmad Gadang Pamungkas menyebut pendirian Orang Utan Forest School sebagai langkah maju dan optimis yang sangat penting dalam kerangka upaya konservasi orang utan.

    "Fasilitas ini merupakan langkah maju penuh optimis dalam jejaring kerjasama Balitek KSDA, Balai KSDA Kalimantan Timur dan Yayasan Jejak Pulang untuk Program Pusat Penelitian Orangtuan/Orangutan Research Centre (ORC) di KHDTK Semboja," tutur Ahmad sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian LHK.

    Enggak cuma soal orang utan. Pendirian sekolah ini dapat menjadi kesempatan besar untuk menghasilkan peneliti-peneliti handal nasional di bidang konservasi orang utan. 

    "Sebuah wahana yang bukan hanya sangat bermakna untuk konservasi orangutan, akan tetapi juga sebuah kesempatan besar untuk menghasilkan peneliti Indonesia yang ahli di bidang konservasi orangutan," kata Ahmad.





    (Foto-foto: Kementerian LHK)

    Masih terancam

    Populasi orang utan di Kalimantan masih terancam. Berdasar informasi yang dirilis World Wide Fund for Nature (WWF) pada 2017 lalu, populasi orang utan di Kalimantan diperkirakan berada di angka 54.000 individu.

    Di antara tiga subspesies yang ada, P.p pygmaeus merupakan subspesies yang tersisa paling sedikit, yakni sekitar 3.000 hingga 4.500 individu. Angka ini setara dengan delapan persen dari jumlah total populasi orang utan di seluruh kawasan Borneo.

    Selain predator liar seperti harimau, manusia juga jadi faktor yang menyebabkan populasi orang utan makin menipis. Alih fungsi lahan yang begitu menyebabkan kehancuran ekosistem orang utan.

    Selain itu, sebagai buntut dari hancurnya ekosistem akibat alih fungsi lahan, berbagai konflik yang melibatkan manusia dan orang utan pun kerap berujung pada pembantaian hewan yang memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 97 persen itu.

    Padahal, orang utan merupakan satwa yang dilindungi dalam hukum nasional, lewat Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

    Enggak cuma itu, pada level internasional, orang utan menempati status Appendix I dalam CITES, sebuah konvensi yang mengatur perdagangan spesies di dunia. Status itu berarti orang utan merupakan spesies yang amat dilarang untuk diperjualbelikan.

    Tag: satwa dilindungi mereka terancam punah orang utan hari lingkungan hidup kementerian lhk

    Bagikan :