Sepak Terjang Miyuki "Demon Midwife" Ishikawa, sang Bidan Iblis dari Jepang

Tim Editor

Miyuki Ishikawa

ERA.id - Nama Miyuki Ishikawa sempat tenar ke permukaan pada sekitar tahun 40-an. Namun, bukan karena prestasi, ia dan kompotannya dikenal karena aktivitas membunuh para bayi. Perempuan yang lahir pada tahun 1897 itu pun dikenal dengan julukan Demon Midwife atau Bidan Iblis.

Miyuki merupakan lulusan salah satu universitas ternama di Jepang yakni Universitas Tokyo. Setelah lulus, ia bekerja di rumah sakit bersalin Kotobuki sebagai direktur. Di sanalah, kekejiannya dimulai.

Saat itu di Jepang praktik aborsi sangat dilarang. Akan tetapi apa boleh buat, banyak masyarakat Jepang yang tidak memiliki uang untuk merawat bayi mereka memilih aborsi sebagai pilihan.

Mulanya praktik aborsi itu terjadi lantaran para orang tua di rumah sakit tempat Miyuki bekerja tak mampu membayar tagihan pengobatan dan perawatan bayi. Dampaknya, rumah sakit bersalin tempat Miyuki Ishikawa bekerja merugi, karena merawat bayi membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Akhirnya, Miyuki sengaja membiarkan bayi-bayi yang dirawat mati kelaparan dan kadang dibiarkan sakit hingga meninggal. Miyuki lalu berpikir, kesempatan tersebut bisa meraup keuntungan. Ia lantas meminta bantuan dari seorang dokter bernama dr. Shiro Nakayama, untuk mengeluarkan sertifikat kematian palsu bayi yang sudah dibiarkan meninggal begitu saja.

Ilustrasi (Марина Вельможко dari Pixabay) 

 

Dari sertifikat palsu itu--yang kemudian menjadi penanda bayi meninggal secara wajar--terkumpul banyak uang dari para orang tua bayi. Miyuki beralasan daripada pada orang tua bayi membayar biaya perawatan bayi yang jauh lebih mahal, maka aborsi jadi pilihan terbaik.

Transaksi biadab tersebut menumbalkan 103–169 bayi. Pemerintah lokal membiarkan kasus ini terus berjalan dan membuat bidan-bidan yang bekerja di rumah sakit tersebut mengetahui malpraktik ini dan akhirnya memutuskan untuk keluar.

Tapi kejahatan itu tidak bertahan lama. Kasus Miyuki terendus oleh polisi dan akhirnya mereka menginvestigasi rumah sakit bersalin tempat Miyuki bekerja. Sesampainya di rumah sakit, mereka menemukan lima jasad bayi. Hasil dari autopsi menyatakan bahwa penyebab kematiannya tidak wajar.

Miyuki ditangkap

Miyuki ditangkap/Absolut crime

 

Miyuki Ishikawa akhirnya ditangkap bersama dengan suaminya dan dr. Shiro Nakayama. Setelah ditelusuri, polisi menemukan lebih dari 40 jasad bayi di rumah pekerja Miyuki yang bertugas untuk mengurus pemakaman. Ditemukan pula 30 jasad bayi di dalam kuil.

Banyaknya jasad bayi membuat polisi kewalahan dalam menentukan rentang waktu kejadian dan jumlah korban. Pihak berwajib menilai tindakan Miyuki adalah kelalaian dalam bekerja dan hanya dijatuhi hukuman 8 tahun penjara, sedangkan suami dan Dr. Shiro Nakayama dijatuhi hukuman 4 tahun penjara.

Dalam pembelaannya, Miyuki berkilah bahwa anak-anak itu merupakan buangan orang tuanya. Sehingga, ia merasa bahwa orang tua mereka pun seharusnya mendapat hukuman.

Kejadian ini juga memberikan tamparan balik bagi pemerintah Jepang dan akhirnya melegalisir praktik aborsi, hanya jika sepasang suami istri memiliki masalah ekonomi dan tidak mampu membiayai perawatan bayi mereka dengan menetapkan Euginic Protection Law (Hukum Perlindungan Ibu).

Tag: sejarah aborsi

Bagikan: