Mengenang Ade Irma Suryani, 'Perisai' Jenderal Nasution pada 30 September 1965

| 01 Oct 2021 19:54
Mengenang Ade Irma Suryani, 'Perisai' Jenderal Nasution pada 30 September 1965
Jenderal Nasution bersama keluarganya sebelum pecah peristiwa 30 September 1965 (Wikimedia Commons)

ERA.id - Ada hal menyedihkan saat si putri bungsu Jenderal Nasution, Ade Irma Suryani, menjadi korban tembak pasukan Cakrabirawa pada 'malam jahanam' 30 September 1965, jelang 1 Oktober.

Menurut kisah keluarga Jenderal Nasution, yang diceritakan kembali oleh cucunya, Eka Trisny Edyanti Nurdin, Ade Irma sempat mengeluh sakit.

"Waktu itu Ade Irma umur 5 tahun. Saat itu Ade Irma gak sadar telah ditembak," terang Eka yang notabene putri mendiang Yanti Nasution.

Ade Irma Suryani Nasution (Twitter @tukangpulas)

Usai kejadian itu, istri Nasution, Johanna, langsung bertanya kepada Ade Irma. Tak disangka, jawaban Ade di luar dugaan.

"'Ade masih hidup; masih, mama; apa yang sakit; perut mama'," ujar Eka menirukan komunikasi Omanya (Johanna) bersama tantenya, Ade sebelum meninggal.

"Terus tante Ade juga tanya sama Oma, 'kenapa ayah ditembak? Itu siapa yang mau jemput ayah?' Itu tante Ade terus sadar sampai masuk ruang operasi. jadi itu sadar terus," tambah Eka.

Terakhir, setelah Ade Irma menjalani operasi, ia masih berusaha menenangkan hati kakaknya yang terus menangis melihat Ade terluka.

"Kakak jangan menangis, adik sehat."

Diorama Cakrabirawa dan Ade Irma Nasution yang ditembak (ERA.id)

Diketahui, tiga peluru menembus kulit bocah yang lahir pada 19 Februari 1960 itu. Masih sangat muda untuk merasakan sakit akibat ganasnya manuver politik pada masa itu.

Ade dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto untuk diberikan pertolongan.

Sampai di RSPAD, Ade masih sadar namun kondisinya sudah sangat lemah. Dokter langsung menyarankan untuk melakukan operasi kepadanya.

Di RSPAD, Ade dirawat selama 5 hari. Pada 6 Oktober 1965 dinihari, Ade akhirnya mangkat. Dia dimakamkan di Jakarta pada 7 Oktober 1965.

Ade dimakamkan di Kompleks Wali Kota Jakarta Selatan. Saat hadir di pemakaman, Nasution merasa sangat terpukul anaknya mesti lebih dulu 'pamit'.

Di nisan Ade, Nasution menulis, "Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu," begitu tulis Nasution.

Kini, tiap peringatan 1 Oktober di Hari Kesaktian Pancasila, ramai peziarah yang menaburkan bunga untuk mengenang 'perisai terkasih' dari Jenderal Nasution.

Diorama Jenderal Nasution, istrinya, dan Ade Irma Suryani yang bersimbah darah usai ditembak (ERA.id)
Rekomendasi