Ismail Marzuki Bikin Lagu untuk Memperjuangkan Kemerdekaan Bangsa dan Cinta

| 26 May 2022 10:10
Ismail Marzuki Bikin Lagu untuk Memperjuangkan Kemerdekaan Bangsa dan Cinta
Ismail Marzuki (Wikimedia Commons)

ERA.id - Jika lagu-lagu Ismail Marzuki terus dinyanyikan dan direkam ulang atau di-cover hingga hari ini, kata Ninok Leksono dalam bukunya, Seabad Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman, penjelasannya paling sedikit ada dua. 

Pertama, Ismail Marzuki memang genius yang sukses menemukan tema dan melodi yang secara musikal pas mengena di hati masyarakat bangsa Indonesia. 

Kedua, Ismail Marzuki dengan karya dan baktinya kemudian ditakdirkan menjadi bagian dari sejarah Indonesia, hal yang akan membuatnya terus dikenang sampai kapan pun. 

Bila dua alasan di atas terlalu teoritik, dan mau alasan yang sederhana, silakan saja berkunjung ke YouTube. Di sana begitu bejibun yang mengaresemen ulang tiga lagu Ismail Marzuki: “Juwita Malam”, “Rindu Lukisan”, dan “Aryati”. 

Dari musisi lama hingga penyanyi baru, semuanya ada. Mengapa bisa terjadi? Sebab, ciptaan Ismail memang bagus. Dua lagu itu semacam sudah lulus melewati beberapa zaman. 

Ada saja penyanyi muda dan senior yang merasa tak sempurna repertoarnya jika belum menyanyikan lagu-lagu Ismail Marzuki. Band besar seperti Slank juga tak ketinggalan mangarasemen ulang lagu “Juwita Malam”.

Lagu-lagu Ismail Marzuki tak hadir dari ruang kosong. Ada pemantiknya. Salah satunya adalah semangat zamannya yang ketika Indonesia sedang melewati fase revolusi dan mempertahankan kemerdekaan dari bangsa penjajah.

Republik baru saja merdeka, baru diproklamasikan oleh dua tokoh Soekarno dan Hatta pada 1945. Namun, tak berarti perjuangan selesai, tak ada lagi penjajah datang. Maka dari itu, dalam “In Memoriam” di Minggu Merdeka, Juni 1958, ada pernyataan begini: 

“Di samping segala-galanya, perjuangan untuk kemerdekaanlah yang harus menjadi pokok pekerjaan semua orang Indonesia di zaman kesukaran seperti sekarang ini.”

Pernyataan itu seolah menekankan bahwa, semua elemen, wabilkhusus musisi atau komposer harus mengambil bagian untuk mempertahankan kemerdekaan. Sebab, ini semua adalah “pokok pekerjaan semua orang Indonesia”.

Ninok Leksono memberi penegasan bahwa jika diluaskan refleksi perjuangan, kenyataannya yang ada bukan saja kesukaran dalam merebut kemerdekaan, tetapi juga kesukaran untuk meneggakkannya. Ini momen ketika Ismail Marzuki banyak mendapatkan ilham produktif untuk mengarang lagu-lagunya yang abadi. 

Karena hidup di zaman kolonial dan juga menjadi bagian untuk kemerdekaan Indonesia, Ismail melihat sendiri perjuangan bersenjata dari tentara rakyat Indonesia. Dan, melawan dengan senjata adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dielakkan. 

Apalagi, kekuatan kolonial juga menggempur dengan begitu agresif dan kekejaman tak berperikemanusiaan hadir di bumi Ibu Pertiwi. Ismail Marzuki merekamnya lewat lagu berjudul “Beta dan Ayunda”.

Di mana ayah dan bunda, di mana kampung dan halaman

Di mana sawah ternak di mana kekasihku sayang

Musnahlah habis harta dan benda hatiku remuk redam

Angkara murka mengganas melanggar perikemanusiaan

Kini tinggal beta dan ayunda, handai taulan lain tiada

Nun jauh nyiur melambai-lambai, Pertiwi  bahagia sudah

Walaupun besar pengorbanan kita tak kan sia-sia

Dengarlah murai berdendang Tanah Air kita jaya.

Ismail Marzuki (Wikimedia Commons)

Selain karena bangsanya sedang berjuang untuk sebuah kebebasan, Ismail Marzuki juga membuat lagu untuk cintanya, kekasihnya Eulis Zuraidah.

Ismail dan Eulis berpacaran selama tiga tahun tanpa sepengetahuan orang tua Eulis. Walau Ismail seorang musisi yang oke, ternyata tak membuat orang tua Eulis menyetujui hubungan mereka.

Perjuangan cinta tersebut diukir dalam lagu “Dari Mana Datangnya Asmara”. 

Dari mana datangnya asmara, aku pun tak mengetahui 

Cara bagaimana dia dapat mengikat hatiku

Bagaimana dapatnya asmara, merajalela di hati

Tak dapat berpantun, hatiku berdetik

Kubalas dengan senyum, sambil mataku melirik

Kemudian datang rasa sayang, mulai wajahnya terbayang

Setiap waktu terkenang, akhirnya aku bertunang ...

Karena sikap Ismail baik kepada keluarga Eulis, akhirnya pada 1940, hubungan mereka  disetujui.

Tanggal 25 Mei 1958, Ismail Marzuki meninggal. Mungkin repertoar lagu karyanya dipasang di gawai dan komputer masing-masing untuk mengenang jasa-jasanya untuk Republik. Yah, minimal "Juwita Malam" dan "Aryati". 

Rekomendasi