Obituari: Selamat Jalan Gradi yang Tak Pernah Sunyi

Tim Editor

Gabriel Gradi Mahendra. (Ilham/ERA.id)

ERA.id - Semenjak saya diminta membantu proses rekrutmen di ERA.id, mungkin cuma Gabriel Gradi Mahendra kandidat yang bikin saya kesengsem sejak pandangan pertama. Perawakannya unik, pemikirannya sistematik, dan cara bicaranya tertata dengan apik. 

Belum lagi tulisannya yang bukan sekadar deratan kata-kata. Namun, lebih jauh dari itu: Mengandung mistik! Bisa-bisanya huruf-huruf itu punya bunyi. Gradi yang dikenal pendiam pada kenyataannya tak pernah sunyi. 

19 Juli 2020, Gradi mendarmakan raga dan pikirannya untuk bergabung di ERA.id, setelah memutuskan hijrah dari Gatra. Tak butuh waktu lama bagi pria berkacamata tebal itu untuk menyelami ideologi yang dianut ERA.id

Singkatnya, selain sebagai rekan kerja, kami cukup sering ngobrol di sela hilir mudik kesimbukan di redaksi. Mulai dari soal kerjaan sampai percintaan. Sampai pada kesimpulan: Gradi terlalu makrifat untuk kami yang masih betah di maqam syariat.

Ia bahkan berkawan baik dengan penyakit yang belakangan kami tahu itu adalah 'surat cinta' dari Tuhan untuk segera menemui-Nya. Barangkali surga sedang butuh penyair Grad!

29 September 2021, sebuah pesan WhatsApp masuk dari Brian, adik Gradi yang sejak seminggu lalu menemani dan mengurus semua kebutuhan Gradi di Rumah Sakit Tebet, Jakarta Selatan. Pesannya singkat. Namun, bikin patah hati. Gradi meninggal dunia setelah didiagnosis menderita bronkopneumonia, sebuah infeksi yang mengakibatkan terjadinya peradangan pada paru-paru.

"Masss maaff, diskusi siang ini ngga jadi, mas gradi udah meninggal 😭😭😭." "Maaf banget tolong sampaikan ke teman teman era, mohon doa dan yang terbaik untuk mas gradi 🙏😭."

Sekitar pukul 13.30 WIB sebelum mengembuskan nafas terakhir, Brian meminta kami untuk menemaninya berbincang dengan dokter pada pukul 14.00 WIB untuk mengetahui kondisi penyakit Gradi. Tapi, belum sempat bertemu, Tuhan memintanya untuk pulang lebih cepat. Mungkin sudah kadung rindu.

Kepergian Gradi betul-betul mengagetkan dan jadi mimpi buruk. Barangkali itu gambaran saya saat memberitahu kabar meninggalnya Gradi. Pesan hingga telepon saling sahut-menyahut masuk pada ponsel yang biasanya di akhir bulan ramai oleh tagihan. 

ERA.id berduka. Kami tak pernah berkhayal bagaimana rasanya ditinggal Gradi saat tahu penyakitnya makin mengkhawatirkan. Sebab sering kali khayalan justru lebih menakutkan dari kenyataan. Tapi kali ini lain. Mimpi buruk itu betul-betul nyata. Kami kehilangan. 

30 September 2021, akhir bulan yang selalu kami rindukan bersama Gradi: Gajian. Tapi akhir bulan kali ini jelas tidak kami rindukan. Kadang kami berpikir, andai Tuhan ganti tanggal 30 jadi tanggal 1.000 atau 10.000, itu sepertinya lebih baik bagi kami. 

Gabriel Gradi Mahendra dikebumikan di Utara Pasar Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis 30 September 2021.

Selamat jalan sahabat. Kehilanganmu bukan main-main..

 

Tebet, 30 September 2021, dalam kerinduan

 

Redaksi ERA.id

Tag: obituari

Bagikan: