'Action' Perdana Ahok Setelah 40 Purnama

| 17 Sep 2020 19:01
'Action' Perdana Ahok Setelah 40 Purnama
Basuki Tjahaja Purnama (era.id)

ERA.id - Sejak nonaktif sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Mei 2017 silam, dan divonis dua tahun penjara karena kasus penodaan agama, nama Basuki Tjahaja Purnama seakan tenggelam dalam tiga tahun belakangan. 

Action-nya yang lugas, bicaranya yang keras --apalagi kalau menyangkut anggaran-- menjadi ciri khas pria yang sering disapa dengan panggilan Ahok ini. Masih lekat di ingatan, perseteruannya dengan DPRD DKI Jakarta soal anggaran UPS, atau anggaran sebesar Rp8,8 triliun yang diajukan DPRD untuk sosialisasi SK Gubernur DKI. Saat itu Ahok menulis kata 'pemahaman nenek lu' dalam rancangan anggaran tersebut.

"Pas gue lihat, apa-apaan nih! Gue kasih lingkaran terus tulis 'nenek Lu!'. Apa yang mau disosialisasi dari SK Gubernur? Tinggal dilihat doang, makanya gue tulis 'Nenek lu!' di lingkaran. Balikin. Sudah baca 'nenek lu!' tersinggung kali mereka," tutur Ahok kepada wartawan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2015).

Tapi, semua 'action' Ahok tak lagi muncul sejak ia menjadi pesakitan di Rutan Cipianng dan dipindah ke Rutan Brimob Kelapa Dua Depok sejak Mei 2017.

Pada tanggal 24 Januari 2019, Ahok bebas dari penjara. Setelah itu, ia mengaku tak ingin lagi terjun ke politik. Ia memilih menghabiskan waktu bersama keluarga barunya. Saat itu ia baru saja bercerai dari Veronica Tan dan menikah lagi dengan Puput Nastiti Devi dan dikaruniai seorang putra pada awal 2020. Ia dipercaya sebagai Komisaris Utama PT Pertamina pada 22 November 2019.

Baru belakangan 'koar-koar' Ahok keluar lagi. Ini adalah pernyataan keras perdana Ahok sejak '40 purnama' atau 40 bulan terakhir. Ia membongkar aib Pertamina yang ia liat selama hampir setahun bekerja di sana. Mulai dari gaji orang yang sudah tak menjabat hingga lobi-lobi petinggi perusahaan BUMN energi tersebut ke menteri.

Infografik (Ilham Amin/era.id)

Kementerian BUMN pun buka suara soal pernyataan Ahok yang membuka aib perusahaan minyak nasional ke publik. 

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menilai Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina mempunyai hak bicara kepada publik.

"Menjawab Pak Ahok sebagai Komisaris Utama, tentunya itu adalah urusan internalnya di Pertamina, kami berikan ruang bagi komisaris dan direksi untuk lakukan komunikasi," ujar Arya kepada awak media, Rabu (16/9).

Hanya saja, Arya meminta komunikasi yang dilakukan ke publik tetap dilakukan dengan cara yang baik. Begitu pula komunikasi antara komisaris dan direksi di internal.

"Jadi kita sih tetap minta mereka komunikasi dengan baik antara komisaris dan direksi," ucapnya.

Tak butuh waktu lama, Ahok Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pada Kamis (17/9). Pertemuan dilakukan usai Ahok membongkar aib direksi Pertamina ke publik.

"Tadi habis bertemu dengan Menteri BUMN. Kritik dan saran yang saya sampaikan diterima dengan baik oleh Pak Erick," ucap Ahok dikutip dari Instagram pribadinya.

Dalam pertemuan itu, Ahok menyampaikan kritik dan saran kepada Erick. Selain itu, Erick juga memberikan pesan kepada Ahok untuk menjaga soliditas kerja tim dengan baik. 

Sementara itu, anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menilai Ahok telah membuat Pertamina gaduh.

"Menurut saya sebagai anggota DPR Komisi VI, ya, yang mitra BUMN bahwa tidak gunanya Presiden mempertahankan Pak Basuki Tjahaja Purnama sebagai Komut Pertamina. Kenapa? Pertama, ya, yang bersangkutan selalu membikin gaduh," kata Andre kepada wartawan, Selasa (15/9/2020).

menurut Andre, permasalahan internal Pertamina bukan untuk diumbar-umbar ke publik.

"Seharusnya komut itu kalau ada masalah, perbaikan, dia selesaikan di internal atau laporkan ke Menteri BUMN, tidak mengumbar ke keluar, sehingga menimbulkan kegaduhan dan memberikan citra negatif kepada Pertamina yang berjuang di semester kedua tahun 2020 ini untuk mengembalikan, mendapatkan keuntungan setelah di semester pertama rugi kan," papar Andre.

Menarik ditunggu 'action' Ahok berikutnya dalam membongkar aib dan borok dalam tubuh perusahaan energi pelat merah tersebut ke depannya.

Tags : ahok
Rekomendasi