A-Z yang Kacau dari Konser Berdendang Bergoyang

| 08 Nov 2022 19:25
Ilustrasi. (ERA/Nisa Rahma Tanjung)

ERA.id - Tahun 2022 menjadi tahun pembalasan bagi segala festival musik yang tertunda sejak pandemi Covid 2019. Berbagai festival musik dibuka kembali, mulai dari Java Jazz, PestaPora, Synchronize, hingga Soundranaline yang rencananya bakal digelar 26-27 November nanti. Dari sekian banyak festival musik tahun ini, banyak yang sepakat bahwa Berdendang Bergoyang menjadi konser terburuk di Indonesia sepanjang tahun.

Berdendang Bergoyang pada mulanya akan berlangsung selama tiga hari, 28-30 Oktober 2022 di Istora Senayan, Jakarta. Namun, konser tersebut terpaksa dihentikan polisi pada hari kedua, dan harus dibatalkan pada hari ketiga imbas dari ketidakprofesionalan promotor dan event organizer (EO) acara, Emvrio Production.

Penonton menikmati penampilan di Berdendang Bergoyang 2022. (Istimewa)

 

CEO Emvrio Production Vino Sefvirrano menyatakan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/10), bahwa mereka sudah mengikuti prosedur penyelenggaraan event dan sudah mengantongi izin acara. “Kami sudah berusaha melakukan penyesuaian alur penonton, mengatur ulang jumlah penampilan, menambah keamanan dan tim medis,” tulisnya.

Menurut kesaksian beberapa penonton Berdendang Bergoyang yang hadir saat acara, pada hari kedua alur penonton memang lebih teratur dari hari pertama, tetapi kapasitasnya membeludak parah. 

Firawan yang menonton di Bergelora Stage bercerita bahwa alur penonton tidak teratur dan sangat berantakan pada hari pertama. “Crowd tidak ada yang kontrol, keluar masuk cuma lewat satu pintu, yang masuk tabrakan sama yang keluar,” kata Firawan. “Hari kedua ada peningkatan, cuma overcapacity,” lanjutnya.

Nafsu meraup untung dan abaikan keselamatan

Aura Kasih dijadwalkan tampil pukul 22.00 WIB pada hari kedua Berdendang Bergoyang, bersama dengan Feel Koplo dan beberapa penampil lain. Namun, ia hanya mampu menyanyikan sekitar seperempat lagu Mari Bercinta sebelum dipaksa turun panggung.

“Pada saat itu ada beberapa pihak kepolisian udah nungguin. Ini gila overload banget dan overcapacity. Aku juga liat udah serem, karena udah numpuk-numpuk di tangga,” ujar Aura Kasih kepada wartawan, Minggu (30/10). “Alhamdulillah meskipun cuma seperempat lagu kali ya, yang penting mengobati kekangenan orang,” lanjutnya.

Meskipun sudah mengantongi izin acara selama tiga hari, pihak kepolisian terpaksa menghentikan Berdendang Bergoyang pada hari kedua karena kerumunan penonton mulai tak terkendali. 

“Harus kami hentikan tadi, tepat pukul 22.00. Mengingat fakta yang kami temukan bahwa di lokasi kegiatan tadi terjadi penumpukan jumlah penonton yang sangat-sangat over kapasitas,” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Komarudin, Sabtu (29/10). “Hari ini jumlah pengunjung yang tembus lebih dari 21.000,” tandasnya.

Kerumunan penonton Berdendang Bergoyang 2022 di Berdendang Stage. (Istimewa)

 

Harga tiket Berdendang Bergoyang dijual mulai dari Rp275 ribu hingga Rp790 ribu. Sementara itu, banyak penonton mengeluhkan harga makanan di dalam venue yang terlampau mahal. Novi yang membeli tiket presale seharga Rp545 ribu harus merogoh kocek Rp75 ribu untuk sekali makan.

Menurut Kombes Komarudin, izin yang diberikan kepada penyelenggara Berdendang Bergoyang sebatas 3.000 penonton. Namun, hingga acara berlangsung, promotor menjual hingga 27.879 tiket. Sembilan kali lipat lebih banyak dari yang diizinkan. Belum lagi kapasitas maksimal Istora Senayan hanya 10.000 orang. 

Akibat dari kelebihan kapasitas ini, penonton sempat berdesak-desakan hingga puluhan orang pingsan dan luka-luka. Beruntung sebelum jatuh korban jiwa izin Berdendang Bergoyang segera dicabut pihak kepolisian.

Penonton gelap dan event yang kurang terorganisir

Berdendang Bergoyang sejak awal penuh risiko, dan penyelenggara yang paling paham akan risiko tersebut. Para penonton hanya membeli tiket dan berharap dapat menonton musisi favoritnya tampil, tanpa tahu akan ada berapa banyak orang di lokasi nanti. Setelah menjual habis lebih dari 27.000 tiket, penyelenggara Berdendang Bergoyang tampak tidak punya kesiapan yang matang.

Banyak penonton yang akhirnya kecewa sejak pertama kali masuk lokasi acara. Puteri datang ke Berdendang Bergoyang sejak hari pertama. “Dari awal dapet wristband Berdendang Bergoyang udah bingung barcodenya mana, ternyata emang gak di-scan,” ungkap Puteri lewat akun media sosialnya. “Parahnya, hari pertama gue dateng itu gak diperiksa, kocak!”

Wristband Berdendang Bergoyang 2022 tanpa barcode. (Istimewa)

 

Firawan juga mengeluhkan hal serupa. “Aku masuk itu nggak dicek wristband aku asli apa nggak, ada yang nggak pake wristband juga bisa masuk, volunteer yang jaga entrance itu agak kurang fungsional bagi aku,” ujar Firawan. Pada hari kedua ia bahkan bisa masuk lokasi tanpa mengenakan wristband.

Parahnya lagi, Firawan sempat melihat beberapa orang di luar pintu masuk menjual wristband palsu dengan harga jauh lebih murah dari tiket aslinya. “Wajar aja overcapacity,” ujarnya.

Selain banyak penonton gelap yang masuk karena tidak ada pengawasan memadai, penyelenggara juga tidak menyiapkan tong sampah yang cukup, sehingga sampah berserakan di mana-mana. Sementara itu, menurut Nopal yang juga menonton Berdendang Bergoyang, panitia acara di dalam hanya berleha-leha sambil menikmati konser.

“Feel Koplo sampai jadi panitia, minta massa ngosongin tangga biar show mereka bisa lanjut,” curhat Nopal di media sosialnya, Minggu (30/10).

Sampah-sampah yang berserakan usai acara Berdendang Bergoyang 2022. (Istimewa)

 

Usai izin Berdendang Bergoyang dicabut, penyelenggara meminta maaf dan mengumumkan acara hari ketiga tidak akan berlanjut di media sosialnya, Minggu (30/10). Setelah itu, mereka menyatakan akan mengembalikan uang tiket hari kedua dan ketiga. 

“Dengan ini kami mengumumkan untuk seluruh pembeli tiket Berdendang Bergoyang Festival 2022 tanggal 29 & 30 Oktober 2022, serta 3 Days Pass dapat mengajukan permohonan refund atau pengembalian uang tiket 100%,” tulis penyelenggara.

Penyelenggara lalu menyediakan tautan untuk pengajuan refund hingga tanggal 2 November 2022. Namun, sejumlah penonton mengaku tidak bisa mengakses tautan tersebut. 

“Di IG Berdendang Bergoyang itu bilang refund dari 30 Oktober sampai 2 November. Tapi pagi 2 November itu link-nya udah tutup,” ungkap Firawan. “Aku udah email sama WA mereka nggak dibalas,” lanjutnya.

Efek domino kekacauan Berdendang Bergoyang

Polisi menetapkan dua orang tersangka atas kasus ini, yakni HA sebagai penanggung jawab acara dan DP selaku direktur. Mereka dikenakan Pasal 360 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Kelalaian yang Menyebabkan Luka Berat dan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Kombes Komarudin mengungkapkan, tidak tertutup kemungkinan ada tersangka baru. "Tidak menutup kemungkinan mana kala dalam proses penyidikan ditemukan fakta-fakta baru lagi, dimungkinkan ada tersangka lagi," kata Komarudin saat dihubungi di Jakarta, Senin (7/11).

Kekacauan Berdendang Bergoyang juga berimbas pada festival musik yang lain. Hal ini disampaikan Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) saat konferensi pers di M Bloc, Jakarta, Kamis (3/11).

“Contohnya ada beberapa peraturan dari pihak keamanan yang memberikan aturan acara musik harus indoor, tidak boleh outdoor. Ada juga yang harus selesai jam 18.00 WIB. Di Jakarta, yang berkembang, izinnya tidak boleh melewati batas jam 24.00 WIB,” kata Sekjen APMI Emil Mahyudin. Tiga festival musik besar Indonesia yaitu Soundrenaline, DWP, dan Heads in The Cloud (HITC) juga terancam batal digelar.

Ketua Bidang Program dan Investasi APMI Dewi Gontha menyampaikan, saat ini APMI akan menyusun panduan bagi para promotor dalam penyelenggaraan acara. “Ke depan, APMI akan buat standar. Mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan setelah acara,” ucapnya.

Rekomendasi