Tangan Dingin Friedrich Silaban di Masjid Istiqlal

Tim Editor

Friedrich Silaban dan Presiden Soekarno. (Foto: arsitekturindonesia.org)

Jakarta, era.id - Siapa yang menyangka di balik kemegahan dan keindahan arsitektur Masjid Istiqlal, ada sosok kristiani yang berperan penting merancang masjid yang dinobatkan sebagai yang terbesar di Asia Tenggara itu. Ya, dialah Friedrich Silaban.

Pada 22 Februari 1955 Silaban terpilih sebagai arsitek Masjid Istiqlal. Kala itu, Bung Karno yang juga Ketua Dewan Juri menjuluki Friedrich sebagai By the Grace of God karena memenangi sayembara tersebut.

Konsep Ketuhanan yang diusung Silaban rupanya membuat Bung Karno dan dewan juri lain--para kiai--jatuh cinta dengan desain dan maket yang ditawarkan Silaban. Padahal, ia bukan sarjana arsitektur, melainkan hanya lulusan Kweekschool (Sekolah Teknik) Betawi (sekarang Sekolah Menengah Kejuruan). 

Tak tanggung-tanggung, 22 pesaingnya yang berlatar belakang pendidikan mumpuni dan ahli di bidang arsitektur pun disingkirkannya.


Proses pembangunan kubah Masjid Istiqlal. (arsitekturindonesia.org)

Silaban lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912. Setelah meninggalkan Sibolga pada tahun 1927, putra seorang pendeta itu belajar di KWS Betawi. Berita duka menghampiri Silaban, ketika kepergian ayahnya saat ia masih duduk di kelas satu. 

Namun, kecerdasan mengantarkan Silaban meraih beasiswa menyelesaikan sekolah. Minat Silaban membuat denah dan rancang bangunan dimulai sejak ia kelas 3 di KWS. Kendala biaya membuat Silaban gagal melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Tak patah arang, Silaban tetap semangat mendedikasikan hidupnya berkarya di bidang arsitektur.

Kendati bukan muslim, Silaban kala itu paham betul keinginan umat Islam, bagaimana perwujudan masjid yang menggambarkan kebesaran Islam tapi tak melupakan unsur kenyamanan ketika beribadah di masjid.

Kekhusyukan ibadah terbalut harmoni bersama detail bangunan yang estetik. Hampir setiap bangunan memiliki maknanya tersendiri. Tinggi menara berukuran 6.666 sentimeter atau 66,66 meter melambangkan banyaknya jumlah ayat-ayat Al-Quran. Tinggi menara yang memiliki material baja antikarat berukuran 30 meter melambangkan jumlah juz dalam Al-Quran.


Maket Masjid Istiqlal hasil karya F SIlaban. (arsitekturindonesia.org)




Suasana sekitar Jalan Taman Wijayakusuma, Gambir, Jakarta Pusat. (arsitekturindonesia.org)

Sedangkan diameter dari kubah bangunan utama berukuran 45 meter memiliki arti 1945--Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kubah itu ditopang 12 tiang ruang ibadah utama, yang dimaknai sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni 12 Rabiul Awal. Angka itu juga merepresentasikan jumlah bulan dalam penanggalan Islam maupun Masehi.

Empat tingkat dan satu lantai utama masjid ini, melambangkan angka lima sebagai jumlah rukun Islam, sekaligus Pancasila sebagai falsafah kebangsaan Indonesia. Terdapat 7 buah pintu gerbang yang dinamakan berdasarkan Asmaul Husna, ketujuh pintu tersebut adalah: Al-Fattah (Gerbang Pembuka), Al-Quddus : Gerbang Kesucian, As-Salam : Gerbang Kedamaian, Al-Malik  (Gerbang Raja), Al-Ghaffar (Gerbang Ampunan), Ar-Rozzaq (Gerbang Rezeki), Ar-Rahman (Gerbang Pengasih).

Silaban tutup usia pada hari Senin, 14 Mei 1984, di RSPAD Gatot Subrotot karena mengalami komplikasi.

Selain Istiqlal, jejak Silaban juga terlihat pada sekitar 700 bangunan penjuru Tanah Air, seperti Stadion Gelora Bung Karno, Monumen Pembebasan Irian Barat, Monumen Nasional atau Tugu Monas, Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata, hingga Tugu Khatulistiwa.

 

Bagikan: