Buffalo Boys dan Keberlanjutan Film Western Lokal

Tim Editor

    Buffalo Boys (Sumber: IMDB)

    Jakarta, era.id - Buffalo Boys jadi perbincangan, setelah Screenplay Films merilis trailer film hasil kerja sama mereka dengan Infinite Studios dan Zhao Weil Films itu. Enggak heran, trailer Buffalo Boys memang sangat memikat. Cita rasa khas film western langsung tertangkap indera penglihat dan pendengar sejak tombol play diketuk.

    "Selama beberapa keturunan, kami hidup di bawah bayang-bayang kelam penjajahan," sebuah suara lirih yang kukenal baik bertutur. Pevita Pearce, bertutur menarasikan kisah penjajahan. Di layar, gambaran kekejaman juga ditampilkan, lewat barisan pria bersenjata yang menodongkan senapan yang mendesak ke punggung manusia-manusia tua, hingga sebuah tembakan yang menjatuhkan seorang pria yang berlari jauh di ujung cakrawala.
     


    Sangat western. Sekilas, kami teringat Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak, dengan kudanya, gurun sabana, dan barisan pria kurang ajar yang sok kuasa. Gambaran itu sekilas tercitra dalam trailer Bufallo Boys. Penjajahan, penindasan, kekerasan, hingga berbagai bentuk kekerasan hingga perbudakan dan dominasi penguasa di atas kaum proletar.

    Tentu saja, keduanya enggak bisa dibandingkan. Tapi, merujuk pada Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak pun enggak ada salahnya. Suka enggak suka, Marlina adalah film lokal terakhir yang mengusung genre western, yang berhasil menarik banyak mata untuk masuk bioskop. 


    Bau selangkangan penguasa

    Sejak dulu, western selalu begitu. Konflik yang diangkat senantiasa menggambarkan benturan antara penguasa dan wong cilikDjango Unchained misalnya. Karya Quentin Tarantino rilisan tahun 2012 itu menggambarkan kondisi perbudakan di Amerika pada abad pertengahan. Django Freeman, yang diperankan Jamie Fox melawan kondisi tersebut.

    Dalam kisah-kisah klasik film western lainnya, perjuangan wong cilik menjatuhkan para penguasa yang berdiri kelewat ngangkang juga kerap diangkat sebagai jalan cerita. Selain latar yang menyiratkan kesan american old west ala High Noon (1959) --karya yang jadi rujukan penting film western di dunia, tema cerita yang terpusat pada konflik antara penguasa dan proletar juga jadi ciri khas. 

    Selain itu,  cara film western menyisipkan pesan-pesan moralitas sederhana di balik berbagai kerasnya dunia dan sulitnya sebuah kondisi juga menjadi aroma khas film western. 

    Film Buffalo Boys sendiri mengisahkan petualangan dua bersaudara melawan penjajahan sekaligus membalaskan dendam atas ayah mereka, seorang sultan yang diasingkan bertahun-tahun ke Amerika.

    Buffalo Boys bakal dibintangi oleh sederet pemain keren, mulai dari Yoshi Sudarso, Ario Bayu, Pevita Pearce, Tio Pakusadewo, Mikha Tambayong, Happy Salma, Zack Lee, Hannah Al Rasyid, serta Alex Abbad.

    Andai Oktober betul-betul jadi bulan dirilisnya film ini, maka, akan kunantikan bulan Oktober.








    (Foto-foto: IMDB)

    Tag: hari film nasional 2018 film western buffalo boys

    Bagikan :