Douwes Dekker yang Mengungkap Tabir Kolonial Pribumi Lewat "Max Havelaar"

Tim Editor

    Douwes Dekker (Wikimedia)

    Jakarta, era.id - Haram hukumnya jika asing dengan nama E.F.E Douwes Dekker. Tokoh yang juga dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi ini adalah pahlawan nasional yang menjadi salah satu perintis konsep kemerdekaan. Pria bernama pena Multatuli ini juga ikut memprovokasi para tokoh perjuangan kemerdekaan lain lewat salah satu karya fenomenalnya: Max Havelar. Lewat karya tulis itu, Dekker berhasil menginspirasi para pendiri bangsa, mulai dari Tirto Adhi Soerjo, Kartini, Sukarno, Tan Malaka, Agus Salim, Hatta, hingga Sjahrir. 

    Tepat hari ini, 140 tahun lalu --tepatnya 1879, Dekker lahir di Pasuruan, Hindia Belanda. Ia tumbuh menjadi seorang penulis, wartawan, sekaligus aktivis politik yang kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Sebelum nama Indonesia tercetus, Dekker lah yang menggagas nama Nusantara sebagai nama untuk Hindia Belanda yang merdeka. 

    Meski lahir di tanah Jawa, Dekker bukanlah seorang pribumi. Ayahnya, Auguste Henri Eduard Douwes Dekker adalah seorang Belanda yang jadi agen di bank Belanda, Nederlandsch Indisch Escomptobank. Sedangkan ibunya, Lousia Neumann seorang keturunan darah campuran Jerman-Jawa yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah. 

    Kendati bukan seorang pribumi, Dekker malah menjadi martir bagi perlawanan orang-orang pribumi terhadap tindak kolonialisme yang terjadi zaman pra kemerdekaan. Dekker kian aktif mengkritisi kebijakan-kebijakan kolonial saat dirinya menjadi seorang reporter koran Semarang, De Locomotief. 

    Tulisan-tulisannya semakin pro terhadap kaum indo dan pribumi ketika ia menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad pada 1907. Beberapa tulisan yang membuat ia mulai terlacak radar intelijen penguasa saat itu adalah berjudul, "Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda" dan "Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?". 

    Pengalamannya di dunia jurnalistik tidak hanya mempertajam tulisannya, namun memperkuat intuisinya, dan membuatnya mahir berorganisasi. Dari kemampuan itu kemudian ia bersama teman-temannya dari mahasiswa Stovia --cikal bakal Universitas Indonesia-- merintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia pertama. Ia bersama Sutomo dan Cipto Mangunkusumo mendirikan Budi Oetomo (BO). 

    Karena menganggap BO terbatas pada masalah kebudayaan yang saat itu masih diisi oleh orang Jawa, Dekker tidak terlibat banyak di dalamnya. Sehingga ia memutuskan untuk membuat organisasi yang lebih inklusif yang mendobrak batasan ras dan suku. Oleh karena itu ia mendirikan Indische Partij (IP). Pandangan ini dikatakan original karena pada saat itu orang-orang lebih aktif pada kelompok ras atau sukunya masing-masing. 

    Dekker bersama Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang dikenal sebagai tiga serangkai menggelar kampanye ke beberapa kota yang berhasil menggalang lima ribu anggota IP dalam waktu singkat. Partai ini diterima oleh semua golongan, baik golongan indo, pribumi, tionghoa, dan suku-bangsa lainnya. 

    Partai yang punya semangat anti-kolonial ini memiliki gagasan agar Hindia Belanda atau Indonesia merdeka. Namun pada 1913, IP dibubarkan oleh pemerintah kolonial karena gagasannya dianggap radikal dan dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.


    Douwes Dekker bersama Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara (Wikimedia)


    Max Havelaar 

    Salah satu buah dari kemahirannya dalam menulis tertuang dalam sebuah buku berjudul "Max Havelaar". Buku itu sangat berpengaruh bagi kaum pergerakan pada zaman pra kemerdekaan. Sehingga para bapak penemu bangsapun terinspirasi dari kisah Max Havelaar tersebut.

    Buku itu mengisahkan tentang seorang bernama Max Havelaar yang merupakan seorang asisten residen di Hindia Belanda. Pada awalnya, ia merupakan asisten residen di Natal, kemudian dipindahkan menuju Lebak karena Permasalahan dengan Gubernur Jenderal.

    Max Havelaar digambarkan sebagai karakter yang sangat berpegang teguh terhadap idealismenya. Tak jarang ia mengorbankan dirinya untuk menambal penderitaan orang lain. Misalnya ketika ia diceritakan meminjamkan uang kepada seorang yang terjerat hutang rentenir. 


    Max Havelaar (Wikimedia)
     

    "Max Havelaar" merupakan buku yang membuka mata tentang kolonialisme di Indonesia. Apabila melihat buku-buku pelajaran sejarah di sekolah, tak sedikit yang menyatakan bahwa Belanda yang paling bertanggung jawab atas praktik kolonialisme di Indonesia. 

    Namun, dalam buku "Max Havelaar", Dekker berani mengungkap tabir lain, yakni tak sedikit orang-orang pribumi yang punya mental kolonialisme. Banyak di antara mereka yang bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk melanggengkan praktik kolonialisme khususnya diskriminasi.

    Hal tersebut dapat dilihat dari kisah seperti ketika bupati harus mempekerjakan ratusan orang di kebun tanpa bayaran untuk membayar upah kepada Belanda. Dalam kisah itu, bupati sendiri mendapat porsi yang cukup besar. Gaya hidup mewah bupati membuatnya harus menyediakan pesta besar ketika Bupati Cianjur datang berkunjung, lagi-lagi dengan mempekerjakan orang tanpa upah. 

    Satu lagi cuplikan kisah yang menggambarkan persekongkolan antara pribumi dan Belanda adalah ketika Max Havelaar memahami bahwa hidupnya dalam bahaya, ketika ia mengetahui bahwa asisten residen sebelumnya ada kemungkinan diracun oleh salah satu demang, akibat berupaya mempertahankan keadilan.

    Tag: sejarah nusantara

    Bagikan :