KPU Bandung Janji Fasilitasi Pemilih Difabel

Tim Editor

Simulasi pencoblosan oleh kelompok difabel di Bandung. (Arie/era.id)

Bandung, era.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung berjanji akan memberikan pelayanan maksimal bagi pemilih difabel pada Pemilu 2019. Misalnya, penyediaan alat bantu pencoblosan, petugas pemandu dan petugas bahasa isyarat, serta tempat pemungutan suara (TPS) aksesibilitas.

Komisioner Divisi Program, Data dan Informasi KPU Kota Bandung, Adi Prasetyo mengatakan saat ini pelayanan bagi pemilih difabel hanya tersedia berupa alat bantu pencoblosan (template) braille bagi difabel netra. Sedangkan untuk petugas bahasa isyarat bagi difabel rungu masih dipertimbangkan keberadaannya.

"Kita upayakan ada (petugas difabel rungu), karena yang diundang-undang itu kan sekarang yang disediakan template braille untuk presiden dan DPD saja. Untuk pelayanan lain seperti translater tuna rungu, kita juga sedang siapkan cuman urgensinya sejauh apa? Toh kan bisa untuk tuna rungu itu ya dalam acara sosialisasi-sosialisasi semacam ini. Karena kalau efektifitas di TPS, juga kan itu bisa jadi tidak efektif," kata Adi di Bandung, Rabu (27/2/2019).

Adi beralasan tidak efektifnya keberadaan petugas bahasa isyarat di TPS, karena tidak semua wilayah di Kota Bandung terdapat difabel rungu. Sehingga nantinya petugas bahasa isyarat hanya akan ditempatkan di TPS tertentu saja.



Sedangkan untuk penyediaan TPS yang aksesibilitas untuk difabel, Adi mengaku masih kesulitan mencari lokasi yang tepat. Kendalanya adalah padatnya pemukiman penduduk, sehingga tidak ada lagi lapangan yang luas.

"Kita akan sediakan selayak mungkin tapi mengingat tata ruang Kota Bandung yang sempit. Apalagi sekarang jumlah TPS yang membludak dari 4.000 saat pilkada lalu menjadi 7.000 TPS. Efeknya ketersediaan tempat baru untuk mendirikan TPS yang akses," ujar Adi.

Tuntutan adanya TPS yang akses bagi difabel berkursi roda dikatakan oleh atlet kursi roda balap, Linda Indriani. Meski mengaku selama pelaksanaan pemilu yang diikutinya terdapat perubahan soal TPS yang akses, namun belum dapat sepenuhnya terlaksana.

Linda mencontohkan saat masuk lokasi TPS, lokasinya banyak yang berundak-undak sehingga menyulitkan pengguna kursi roda. Sehingga harus mempersiapkan penyangga kaki.

"Tapi kalau surat suaranya banyak suka gemetar menahannya karena lama. Itu kalau saya tapi kan ada juga difabel kursi roda yang tidak bisa total berdiri meski pake peyangga kaki. Tapi kalau bisa menggunakan kursi roda, bilik suaranya itu sempit dan mejanya ketinggian," jelas Linda.

Linda menambahkan kesulitan lainnya saat di TPS yaitu saat memasukkan surat suara ke kotak. Tingginya meja tempat menyimpan surat suara menjadi kendala lainnya.

Tag: difabel pemilu 2019

Bagikan: