Kebakaran Hutan dan Bencana yang Diciptakan Manusia

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Kerusakan alam yang terjadi di dunia, sering kali terjadi akibat ulah tangan tangan manusia. Kebakaran hutan di Provinsi Riau jadi contoh paling mutakhir. Padahal, hutan jadi satu-satunya penghasil oksigen di planet ini. 

Berlangsungnya musim kemarau juga sering dijadikan kambing hitam meluasnya kebakaran hutan. Hal itu sengaja untuk menutupi aksi jahat yang dilakukan para pembakar hutan demi membuka lahan pertanian baru.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) punya catatannya. Luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla mencapai 49.266 hektare. Dari analisis dalam situs Global Forest Watch Fires, tercatat 2.768 titik panas di Provinsi Riau dalam periode 8 September hingga 15 September 2019, di mana titik lokasi kebakaran hutan terjadi di luar kawasan bisnis sawit.

Kepala BNPB Doni Monardo mengungkapkan, 80 persen dari seluruh hutan dan lahan yang terbakar di kemudian hari akan berubah menjadi ladang perkebunan. Selain itu, ia juga menyebutkan penyebab kebakaran hutan 99 persen karena ulah manusia, demikian seperti dikutip Antara.

Kebakaran yang terus-menerus terjadi setiap tahunnya ikut mengikis keberadaan hutan yang menjadi sumber utama kehidupan di bumi. Tak hanya alam, manusia pun kini turut menjadi korban akibat karhutla. Kabut asap telah merampas hak masyarakat untuk beraktivitas, hak anak-anak untuk pergi sekolah dan bermain, serta hak masyarakat untuk hidup sehat.
 

Laporan terbaru menyebutkan seorang bayi berusia empat bulan asal Sumatera Selatan, Elsa Pitaloka, meninggal dunia setelah tujuh jam dirawat karena sesak napas. Elsa jadi satu di antara banyak orang yang kehilangan nyawa akibat kabut asap.

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda beberapa wilayah di Pekanbaru menyebabkan kualitas udara masuk dalam kategori berbahaya. Menurut Data Air Quality Index (AQI) dalam AirVisual, kualitas di sejumlah wilayah terdampak karhutla sangat tidak sehat di angka 470 dari 500 pada Senin (16/9). Dampak dari buruknya kualitas udara menyebabkan masyarakat mengalami iritasi mata, iritasi kulit, asam, hingga ISPA.

Umat manusia dan kiamat yang diciptakan

Tidak hanya di Indonesia, kerusakan alam akibat tangan jahat manusia juga terjadi di belahan dunia lain. Beberapa waktu lalu, kebakaran hutan juga melanda area vital dunia, yakni hutan hujan tropis Amazon yang masuk kawasan sembilan negara.

Kebakaran hutan hujan tropis terbesar di dunia ini telah terjadi sejak 9 Agustus lalu dan disebut-sebut mencapai rekor terparah. Lagi-lagi kebakaran hutan ini dipicu oleh tangan kotor manusia.

Amazon dengan segala keajaibannya telah menjadi produsen oksigen terbesar untuk bumi, rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna, di mana sampai saat ini hanya satu persen flora di Amazon yang telah dijamah oleh manusia.

Sayangnya, aktivitas manusia telah membuat derita bagi Amazon dalam beberapa dekade terakhir. Dalam 50 tahun, 17 persen hutan hujan tropis ini telah hilang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Institut Penelitian lingkungan Amazon (IPAM) dan Federal University of Acre, Brasil, kebakaran hutan yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir berkaitan langsung dengan deforestasi.

Deforestasi di Amazon tak hanya untuk mengambil kayu dan membuka lahan baru, tetapi juga untuk bisnis ilegal penambangan emas. National Geographic menyebutkan menebang lebih banyak pohon akan mengarahkan pada transisi di mana jumlah gas rumah kaca di bumi meningkat.

Peniliti hutan hujan tropis, Adriane Esquivel-Muelbert mengatakan, jika kita mengacaukan Amazon, emisi karbon dioksida akan meningkat secara besar-besaran sehingga setiap orang akan menderita.

Tag: kebakaran hutan

Bagikan: