Nasib Lansia di Masa Tanggap Darurat Pascagempa Maluku

Tim Editor

Lansia korban gempa Maluku (Kemensos RI)

Jakarta, era.id - Masa tanggap darurat pascabencana gempa Maluku diperpanjang dua minggu ke depan. Pemerintah Provinsi Maluku memutuskan tidak mengakhiri masa tanggap darurat seseuai rencana awal pada 9 Oktober, karena sejumlah alasan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Maluku Farida Salampessy mengatakan, keputusan tersebut berdasarkan hasil evaluasi pada 5 Oktober lalu. Salah satu alasannya, karena proses pendataan pengungsi belum rampung.

"Kami harus memperpanjang masa tanggap darurat karena mempertimbangkan berbagai penyaluran bantuan bagi para pengungsi sampai data di lapangan rampung," kata Farida dilansir dari Antara.

Ia melanjutkan, ada sejumlah keluhan dari para pengungsi antara lain lokasi pengungsian yang jauh, penanganan pelayanan kesehatan, distribusi bahan pokok belum merata, dan terjadi kesenjangan di tempat-tempat pengungsian. Farida mengakui, memang warga yang mengungsi cenderung meningkat pada malam hari ke lokasi-lokasi di dataran relatif tinggi. Sebab, mereka khawatir tsunami sehingga menghambat pendataan maupun penyaluran bantuan.

Baca Juga : Kamis Pagi, Ambon Diguncang Gempa 6,8 Magnitudo 

"Petugas teknis seperti kesehatan dan relawan dengan jumlah relatif masih terbatas dipastikan belum optimal menjangkau semua lokasi pengungsi sehingga diputuskan masa tanggap darurat diperpanjang lagi dua minggu," katanya.

Sebagian dari korban-korban gempa Maluku adalah lansia. Kementerian Sosial melaporkan, ada tim petugas respon kasus dari Loka Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (LRSLU) "Minaula" Kendari untuk memberikan dukungan psikososial dan pemeriksaan kesehatan terhadap mereka.
 

Tim respon kasus LRSLU "Minaula" Kendari terdiri dari Penyuluh Sosial, Psikolog, dan Perawat. Mereka diturunkan untuk mendirikan shelter lapangan lansia.

Petugas melakukan dukungan psikososial dan pemeriksaan kesehatan terhadap lansia terdampak bencana. Sebagian dari para lansia datang sendiri ke shelter, sebagian lainnya didatangi oleh tim ke berbagai tempat pengungsian di kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah.

"Lansia merupakan salah satu dari beberapa kelompok rentan pada saat terjadi bencana. Untuk itu, mereka adalah prioritas utama yang harus diberikan pertolongan," ungkap Riki Firmansyah, Penyuluh Sosial LRSLU "Minaula", dilansir dari website resmi Kementerian Sosial.

Rifki menjelaskan, hingga saat ini sudah lebih dari 700 kali gempa susulan. Walhasil, mereka yang berada di pengungsian yang berada di dataran tinggi, enggan turun ke bawah. Mereka takut terjadi tsunami.

"Hal itu memberikan permasalahan baru karena akan menyulitkan aksesibilitas khususnya bagi para lansia," kata Riki.

Bersama Dinas Sosial Provinsi Maluku dan Kota Ambon, serta Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) PALM, tim tersebut melakukan pendataan terhadap lansia terdampak bencana untuk diserahkan ke Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (RSLU).

Baca Juga : Ratusan Gempa Susulan Guncang Ambon

Franky Suitela selaku Ketua LKSLU PALM mengatakan, “Masih banyak lansia yang belum terdata. Hal itu disebabkan terpencarnya lokasi pengungsian sehingga memakan waktu lebih lama dalam pendataan lansia. Kami berusaha secepat mungkin merampungkan data lansia tersebut."

Salah satu pengungsi lansia wilayah Liang Kab. Maluku Tengah, H. Ali Ismail ketika ditemui di lokasi, mengatakan bahwa rumahnya sudah rusak. "Rumah saya rusak di bagian dalam dan tidak bisa ditempati untuk sementara. Gempa susulan masih sering terjadi sehingga untuk sementara ini saya tinggal mengungsi di gunung. Saya tinggal disini bersama anak dan cucu-cucu saya," ungkap Ismail.

Kepala LRSLU “Minaula Kendari Syamsuddin menjelaskan, timnya merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Sosial yang menyelenggarakan rehabilitas sosial lanjut usia dengan jangkauan wilayah di delapan provinsi. "Tim ini diturunkan dalam rangka memberikan layanan dukungan psikososial dan pemeriksaan kesehatan bagi lansia yang terdampak bencana dan dukungan berupa penguatan dan mengembalikan semangat hidup para lansia," katanya.

Mengingat jangkauan layanan yang begitu luas dan agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan, LRSLU "Minaula" Kendari juga mengembangkan pengaduan respon kasus berbasis online.

"Jadi setiap kasus kedaruratan yang melanda lansia, baik bencana, kekerasan, perlakuan salah dan kasus khusus lainnya dapat dilaporkan melalui aplikasi pengaduan online yang dapat dilakukan melalui Android," pungkas Syamsudin.

Sampai saat ini, pengungsi pascagempa di Kota Ambon berjumlah 95.256 jiwa. Para pengungsi itu berasal dari pengungsi Kota Ambon sebanyak 2.940 jiwa, Kabupaten Maluku Tengah berjumlah 50.250 jiwa, dan 42.066 jiwa dari Kabupaten SBB.

Korban meninggal sebanyak 38 orang yakni Kota Ambon 13 orang, Maluku Tengah 15 orang dan SBB 10 orang. Sedangkan, korban luka, baik berat maupun ringan di Kota Ambon 27 orang, Maluku Tengah luka berat 72 orang dan luka ringan 18 orang serta SBB luka berat tiga orang dan luka ringan 29 orang.

Tag: gempa

Bagikan: