Pesona Santri dan Kursi Cawapres

Tim Editor

(Ilustrasi: Arno Mahendra/era.id)

Jakarta, era.id - Meski disibukkan dengan berbagai tugas kepresidenan, Joko Widodo (Jokowi) ternyata masih menyempatkan diri menyusun langkah politik jelang 2019 dari jauh-jauh hari. Jokowi bahkan diketahui telah mencari sosok cawapres untuk mendampinginya.

Hal tersebut terungkap dari pengakuan Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Menurut Romi --sapaan Romahurmuziy, Jokowi pernah meminta masukan kepadanya terkait sosok siapa yang cocok menjadi cawapresnya.

Menanggapi permintaan Jokowi, Romi pun mengusulkan agar Jokowi menggandeng cawapres dari kalangan dari kalangan 'hijau'. Entah bagaimana menginterpretasikan kata 'hijau' yang dikatakan Romi.

Tapi, rasanya, kata 'hijau' dapat diartikan sebagai kalangan dari partai politik (parpol), organisasi masa ataupun tokoh-tokoh berlatar identitas keislaman, termasuk santri. 

Pertimbangannya adalah untuk meredam berbagai isu SARA yang selama ini terus menerpa Jokowi. Langkah menggandeng kalangan identitas berkeislaman, dikatakan Romi, sangat penting untuk menjaga kedamaian, keamanan dan keberadaban selama kontestasi politik.

Selain Jokowi, kabarnya, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto juga disebut-sebut telah safari, mencari ilham ke sana-sini soal siapa cawapres yang tepat untuknya. 

Berbeda dengan Jokowi yang disarankan menggandeng kalangan dari identitas keislaman, Prabowo justru mendatangi sejumlah tokoh islam untuk meminta masukan soal siapa calon pendamping yang cocok untuknya. 


(Infografis: Arno Mahendra/era.id)


Pesona santri di tahun politik

Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti mengatakan, menguatnya fenomena politik identitas jadi salah satu penyebab dari tingginya nilai jual tokoh-tokoh berlatarkan identitas tertentu.

"Bisa dipahami kemudian, para calon presiden akan mencari wakil presiden, selalu mencoba mencari calon-calon yang memiliki hubungan identitas dengan itu," kata Ray kepada era.id, Kamis (25/1/2018).

Dalam konteks Jokowi dan Prabowo misalnya. Kalangan dari identitas keislaman jadi unsur yang digandeng Jokowi dan Prabowo dalam langkah politiknya. Kalangan islam dinilai representatif dengan mayoritas masyarakat di Indonesia.

"Ya itu karena berhubungan dengan pasar-pasarnya gitu loh. Pasar-pasarnya kan lagi sekarang politik-politik identitas ini gitu loh," ungkap Ray.

Tertular kultur politik Jawa Timur

Entah apa yang tengah terjadi. Konstelasi politik nasional memang beraroma seperti Jawa Timur. Tokoh-tokoh agama bermunculan. Entah digandeng langsung ataupun sebagai pemanis agenda-agenda kampanye.

"Yang jelas, sejumlah nama nyatanya betul-betul sudah turun gelanggang. "

"Ya memang harus diakui bahwa salah satu produsen terbanyak santri itu ya ada di Jawa Timur. Karena di sana banyak pesantren," tutur Ray.

Menurut Ray, untuk basis suara pemilih identitas keislaman, Jawa Timur jadi wilayah paling strategis, selain Jawa Barat yang sejatinya juga memiliki basis masa besar dari kalangan identitas keislaman. 

Lebih jauh, Ray memprediksi, jika Jokowi dan Prabowo akan menjadi lawan dalam pilpres. Dan jika keduanya diminta memilih cawapres dari kalangan santri, maka Ray menyebut sosok Ketum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) akan dipilih oleh Jokowi. Sedangkan Prabowo, Ray memprediksi nama mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (PKS) sebagai sosok yang paling mungkin mendampingi Prabowo.

Tag: pemilu 2019

Bagikan: