Harga Komoditas Pertanian Malah Jatuh Jelang Musim Panen

Tim Editor

Pasar (Iman Herdiana/era.id)

Bandung, era.id – Pandemi COVID-19 memukul banyak sektor ekonomi di Jawa Barat, mulai industri manufaktur hingga pertanian. Di bidang pertanian dan peternakan, para petani kesulitan mencari pembeli.

Kepala Divisi Stabilisasi Ekonomi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Provinsi Jabar Rahmat Taufik bilang, kondisi saat ini, petani dan peternak kesulitan menjual komoditasnya karena tidak ada pembeli.

"Mei (seharusnya) puncaknya panen. Padi harusnya panen, peternak sudah menyiapkan pula untuk panen di bulan puasa dan Lebaran, peternak kesulitan menjual," ujar Rahmat, di Bandung, Sabtu (16/5/2020).

Pandemi juga bikin ironi di sektor pertanian. Di tingkat produksi, harga komoditas pertanian mengalami kejatuhan, tetapi di tingkat konsumen harga tetap melambung tinggi. "Maka inflasi masih meninggi," ujar Rahmat yang juga Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi Jabar.

Untuk meminimalisir dampak dari tertekannya sektor pertanian, Pemprov Jabar berkoordinasi dengan asosiasi pengusaha dan pemerintah kota kabupaten. "Di sektor pangan kita masih melakukan berbagai koordinasi untuk penyerapan di sentra produksi, juga di berbagai pasar," tambah Rahmat.

Dampak ekonomi COVID-19 juga lebih dulu menyerang sebagian besar industri terutama di kawasan Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan sekitarnya. Bahkan di sektor industri ini tekanan sudah dimulai sejak akhir tahun 2019 akibat perdang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Dengan pandemi ini, tekanan kepada dunia industri menjadi berlipat ganda.

Antara November-Desember 2019 perang dagang AS-China telah menimbulkan dampak cukup parah pada industri di Jabar. Hal ini mengakibatkan laju ekonomi Jabar di bawah nasional. Salah satu pemicunya, kata Rahmat, kerena bahan baku beberapa industri masih bergantung ke luar negeri, termasuk China.

Maka ketika skala wabah meningkat, banyak pelabuhan di China ditutup yang menghambat proses produksi, termasuk bahan baku untuk alat pelindung diri (APD). "Inilah juga yang mengakibatkan banyak PHK," kata Rahmat.

Menurut Rahmat, Jabar memegang peran strategis dalam menopang perindustrian nasional. Sebanyak 20 persen pabrik manufaktur Indonesia ada di Jawa Barat dan hampir sebagian besar manufaktur ini tujuannya ekspor. "Automotif, elektronik, tekstil, hampir semua di Jawa Barat," sebutnya.

Tag: pertanian

Bagikan: