Syarat Kata Masuk KBBI

Tim Editor

Ilustrasi (Putranto Hilmy/era.id)

Jakarta, era.id - Jalan Indonesia untuk menjadi lingua franca masih panjang. Berkaca pada bahasa Inggris misalnya, yang butuh waktu ratusan tahun pengembangan hingga akhirnya ditahbiskan menjadi bahasa internasional.

Bahasa memang bukan barang mati. Ia selalu berkembang seiring dengan peradaban manusia. Seluruh bahasa, tak terkecuali bahasa Indonesia. Buktinya, dalam periode tertentu, bahasa-bahasa baru selalu masuk perbendaharaan kata dalam kitab komunikasi bangsa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Menarik, bagaimana KBBI mengikuti peradaban masyarakat Indonesia yang terus berkembang, termasuk bagaimana sebuah kata dapat disertakan dalam perbendaharaan kata KBBI.

Yang jelas, prinsipnya begini. "Bahasa berkembang sepanjang waktu, dan kata yang sudah ada di dalam KBBI tidak boleh dihilangkan, namun lebih diberi label, misalnya arkais, tidak baku, percakapan, dan sebagainya," demikian tertulis dalam website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kbbi.kemendikbud.go.id.

Informasi yang dihimpun dari Kemendikbud, ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah kata agar dapat dimasukkan ke dalam KBBI.

Pertama, sebuah kata harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Misalnya, jika terdiri dari dua penggalan, kata itu harus memenuhi unsur 'Diterangkan-Menerangkan'. Kata yang penting harus disebutkan lebih dulu, sesudah itu baru kata yang memperjelas maknanya.

Kedua, kata tersebut harus eufonik alias sedap didengar. Syarat selanjutnya, kata yang masuk KBBI harus unik, berkonotasi positif dan berfrekuensi tinggi.

Pertimbangan

Dalam menyertakan kata baru dalam KBBI, Badan Bahasa mengangkat sejumlah hal untuk jadi pertimbangan. Misalnya, apakah kata tersebut dapat ditemukan di berbagai sumber atau tidak. Lalu, apakah kata tersebut dapat digunakan oleh berbagai kelompok atau tidak.

Pertimbangan lainnya, Badan Bahasa juga mempertimbangkan perkiraan, apakah kata tersebut sudah cukup lama beredar dan diprediksi dapat beredar dalam jangka waktu yang cukup lama pula atau kira-kira dapat dengan mudahnya dilupakan.

Selain itu, jika kata tersebut adalah nama, apakah sudah digunakan secara meluas atau sudah digunakan juga sebagai verba atau belum.

Menurut poin ketentuan lain yang diatur oleh Badan Bahasa, ada beberapa kriteria yang dapat menggagalkan proses penyertaan kata dalam KBBI. Yakni konsep sudah ada dalam bahasa Indonesia, terlalu rinci, tidak sedap didengar atau konsep malahan sudah ada dalam bahasa daerah lain --di Indonesia-- yang sudah masuk KBBI.

Jadi, sekaya-kayanya potensi bahasa di Indonesia, pemerintah tak serta merta memasukkan setiap kata ke dalam kitab komunikasi bangsa, KBBI. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, demi terjaganya kaidah berbahasa Indonesia yang baik.


Ilustrasi (Putranto Hilmy/era.id)

Tag: cinta bahasa indonesia cinta bahasa ibu

Bagikan: