Ketika Tradisi Cium Tangan Mendunia

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Rahmad/era.id)

Jakarta, era.id - Beberapa bulan lalu, dunia sepak bola berdecak kagum atas sikap yang ditunjukkan tim nasional Indonesia U-12 yang berlaga di Danone Nations Cup. Dalam kompetisi sepak bola yang dihelat di Red Bull Stadium, New Jersey, Amerika Serikat pada September 2017 itu, para pemain Indonesia mencium tangan wasit setiap menjelang dimulainya pertandingan.

Pemandangan ini dengan serta merta menjadi bahan pembicaraan netizen sejagat, khususnya di Indonesia. Bagi mereka, apa yang dilakukan anak-anak timnas U-12 merupakan bentuk pengenalan budaya sopan santun ala Indonesia kepada dunia. Lucunya, para pemain Afrika Selatan juga ikut-ikutan melakukan aksi cium tangan. Tapi bukan kepada wasit melainkan kepada pemain Indonesia yang notabene usianya sama-sama di bawah 12 tahun. 

Budaya cium tangan di Indonesia lahir dari struktur kebiasaan yang telah melekat sejak lama. Metta Rachmadiana, dalam jurnal berjudul Mencium Tangan, Membungkukkan Badan Sebagai Etos Budaya mengatakan, budaya cium tangan dilambangkan sebagai suatu bentuk fenomena sosio-kultural yang multi interpretasi.

Cium tangan dianggap sebagai tuntutan sopan santun dan penghormatan dalam hubungan antarmanusia. Di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, Metta menganalisis pentingnya budaya cium tangan sebagai penghargaan kepada orang yang lebih tua atau lebih berkuasa. Watak khas budaya Yogyakarta dianggap memancarkan keselarasan dan tingkah laku sopan.
 


Tidak hanya Indonesia. Filipina, Malaysia, Brunei dan Turki juga menggunakan tradisi cium tangan sebagai simbol penghormatan kepada pihak yang lebih tua. Tapi di belahan bumi lain, khususnya di negara-negara Eropa Timur, simbol ini dimaknai berbeda. 

Di Polandia, Austria, Hongaria dan Rumania cium tangan  digunakan sebagai budaya pria untuk menyapa dan menghormati wanita. Dalam posisi ini, wanita menawarkan tangannya kepada seorang pria untuk dicium, dengan asumsi status sosial sang wanita haruslah sama atau lebih tinggi daripada pria itu.

Baca Juga : Keragaman Budaya, Identitas Bangsa

Lalu, dari mana tradisi cium tangan ini berasal? Arab kah? Sepertinya bukan. Sejak 2005 Raja Arab Saudi, Abdullah dengan tegas melarang tradisi mencium tangan karena dianggap merendahkan derajat manusia di antara manusia yang lain.

Tag: era eksistensi budaya

Bagikan: