55 Tokoh Lintas Agama Lawan Terorisme

Tim Editor

55 orang lintas agama bentuk gerakan lawan teroris (Yohanes/era.id)

Jakarta, era.id - Lebih dari 55 tokoh lintas agama, profesi (pekerja seni, tokoh agama, akademisi pendidik, pekerja kemanusiaan, dan lembaga pemerintah), etnis dan golongan bersatu menyatakan gerakan lawan terorisme.

Gerakan ini merupakan bentuk empati seluruh kalangan masyarakat terhadap para korban dan keluarga dalam tragedi bom berbagai lokasi di Surabaya, sekaligus mengutuk keras tindakan kejahatan terorisme.

"Rangkaian aksi kejahatan teror yang terjadi di Rutan Mako Brimob Depok hingga bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya, Rusunawa Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya Jawa Timur telah melampaui batas kemanusiaan," kata Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, membacakan surat pernyataan sikap 'Gerakan Warga Lawan Terorisme' di Wahid Foundation, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Baca Juga : Rangkaian Bom di Jawa Timur

Dalam pernyataannya, mereka siap mendukung aparat penegak hukum dan pemerintah dalam menghentikan teror, dengan memperhatikan HAM, tanpa mengurangi ketegasan hukum yang berlaku di Indonesia.

Selain itu, beberapa poin yang disampaikan adalah,

1. Mendorong pemerintah untuk memastikan pemulihan yang efektif kepada para korban dan keluarganya; 

2. Mendesak pemerintah dan parlemen untuk segera mensahkan Revisi UU Anti-terorisme sebagai bagian dari sistem peradilan pidana (criminal justice system) yang didasarkan supennasi sipil dan sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

3. Mendesak pemerintah untuk lebih proaktif dalam memulihkan dan memberikan rasa aman serta perlindungan terhadap segenap warga dari berbagai bentuk teror. 

"Masyarakat kami imbau untuk tidak terpecah belah dan tidak terprovokasi terhadap kekerasan yang terjadi belakangan ini," kata ketua Setara Institute, Hendardi.

Menurut Hendardi, intoleransi adalah langkah pertama dari sikap radikalisme yang terjadi saat ini. Untuk itu pula paham radikalisme dan intoleransi harus dibenahi.

Dalam kesempatan itu, Hendardi mengkritik DPR yang seolah-olah bersikap pahlawan kesiangan setelah mendengar ancaman Perpers oleh Presiden Joko Widodo terkait RUU Anti-terorisme yang tak kunjung selesai.

"Inikan menunjukkan sikap-sikap yang konyol dari DPR. Tidak wajar, RUU yang dibutuhkan sesegera mungkin tidak selesai selama 2 tahun, diproses tapi mudur-maju, mundur-maju," tutup Hendardi.

Tag: bom surabaya teror bom di as ruu anti-terorisme

Bagikan: