Ambisi Jokowi Jadikan Indonesia Pusat Peradaban Islam

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Presiden Jokowi melihat maket pembangunan UIII. (Foto: era.id)

Jakarta, era.id - Dilakukannya ground breaking pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) oleh Presiden Joko Widodo, menandakan proyek ambisius Indonesia untuk menjadi barometer peradaban Islam internasional.

Proyek bernilai 3,5 triliun rupiah tersebut dimulai sejak kemarin, Senin (5/6), dan memulai pembangunan tahap pertama dengan biaya Rp700 miliar. UIII akan berdiri di atas lahan seluas 142 hektare, tapi cuma 30 persen yang digunakan untuk bangunan.

Jokowi mau nilai Islam Moderat dan peran Indonesia dalam perkembangan keagamaan dapat ditingkat melalui berdirinya UIII.

"Karena kita kenal sekarang ini di dunia sebagai negara besar, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah sewajarnya, sudah sepantasnya, sepatutnya Indonesia menjadi rujukan bagi kemajuan peradaban Islam di dunia," kata Presiden saat pidato acara peletakan batu pertama rencana pembangunan Kampus UIII di Kawasan Pemancar LPP RRI Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (5/6) dilansir dari Antara.


Jokowi melihat maket pembangunan UIII

Menjadi Pusat Peradaban Islam

Jokowi menargetkan UIII sebagai pusat peradaban Islam dunia. Maka secara tersirat, Indonesia berusaha untuk menjadi model pengembangan Islam.

Menteri Agama Lukman Saifuddin menyatakan, selama ini peradaban Islam terkonsentrasi di Arab, Persia ataupun Turki. Untuk itu, Indonesia berusaha mengambil peluang lewat peradaban Islam. Tetapi, apakah sebenarnya definisi dan indikator mengapa suatu wilayah mampu dilabeli sebagai pusat peradaban Islam?

Pusat peradaban Islam merupakan sistem peradaban berlandaskan kepercayaan Islam, atau sering disebut dengan Islamdom. Dalam buku Filsafat dan Metafisika Islam karya Muhammad Solikhin menyebut, hadirnya peradaban Islam juga dapat dilihat di mana Islam menjadi agama yang dominan dan telah terbagi dalam tradisi-tradisi kultural yang secara khusus dikatikan secara kolektif.


Arab Saudi sebagai salah satu pusat peradaban Islam dunia. (Foto: Pixabay)

Pusat Peradaban Islam sejatinya dapat dilihat dalam sejarah. Baghdad, Kairo, Instanbul, hingga  Damaskus pernah disebutkan sebagai bagian nyata dari sejarah pusat peradaban itu. Pertumbuhan peradaban di kota-kota tersebut pada dasarnya sering mengaitkan tentang penguatan sistem pendidikan yang sangat kuat, yang mampu menjadi landasan perkembangan keilmuan Islam bagi muslim di seluruh dunia.

Untuk melabeli suatu wilayah sebagai puncak peradaban Islam, banyak faktor yang harus dipenuhi. Dalam buku Filsafat dan Metafisika Islam juga, pembahasan mengenai pusat peradaban Islam era klasik juga memiliki nilai khusus, setidaknya suatu wilayah harus mampu untuk aktif mengembangkan nilai keislaman dalam enam bidang, yaitu pendidikan, sastra dan tulis menulis, ekonomi, sosial politik, hukum, dan ilmu, sains teknologi. 

Khususnya dalam bidang pendidikan, indikator yang harus dipenuhi terjaminnya kebebasan akademik dan inteletual, lembaga pendidikan telah tertata sesuai jenjang, pemenuhan aspek kognitif, afektif dan psikomotor, ketersediaan fasilitas beasisiswa, gaji yang cukup untuk tenaga pengajar, bahasa arab menjadi bahasa komunikasi internasional, dan perpusatakaan dan toko buku. 

Untuk itu, ambisi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam haruslah mampu melihat berbagai indikator penting aspek pendidikan tersebut.

Tag: jokowi forum umat islam riwayat pendidikan tri mumpuni

Bagikan: