Sepakbola Mungkin Kotor Seperti Qatar, tapi Kita Tetap Menikmatinya

ERA.id - Tahun 2022 adalah ironi. Kita merayakan gelaran sepak bola terbesar empat tahunan di Qatar, beberapa asyik berjudi, dan belum lama ini kita mengubur lebih dari seratus nyawa di Kanjuruhan.

Eduardo Galeano pernah bilang suporter tak ubahnya kaum pagan, di stadion mereka berbagi keyakinan yang sama, bahwa tim mereka yang terbaik, semua wasit bajingan belaka, dan klub lawan itu maling. Ia secara singkat menyiratkan sepak bola adalah agama, dan kita tak kuasa menolaknya.

Minggu malam kemarin, di Stadion Al Bayt yang berarti rumah, piala dunia 2022 resmi dibuka. Morgan Freeman yang pernah berperan jadi tuhan di film Bruce Almighty naik ke atas panggung. "Kini dunia terasa kian jauh dan terbagi. Bagaimana bisa begitu banyak negara, bahasa, dan budaya bersatu jika hanya satu cara yang diterima?"

Lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sepenggal ayat Al-Qur'an dibacakan pada piala dunia. Ghanim Al-Muftah menjawab pertanyaan Morgan dengan surat Al-Hujurat ayat 13: Hai manusia, sungguh Kami menciptakanmu dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal.

Pentas teatrikal itu membawa pesan sepak bola sebagai medium pemersatu manusia. Dan di balik semuanya, kita sama-sama mafhum, sepak bola modern penuh kepentingan, dan setiap kepentingannya dipersatukan dengan uang.

Qatar terpilih sebagai tuan rumah juga tak jauh-jauh dari soal uang. Mantan presiden AFC Bin Hammam yang asli Qatar sempat dekat dengan presiden FIFA waktu itu, Sepp Blatter. Pada 2007, mereka berdua duduk satu meja di sebuah jamuan makan malam privat. Sambil senyum, Blatter berjanji ke rekan lamanya. "Kita akan membawa piala dunia ke Qatar." 

Setelah itu, sisanya tinggal sejarah, sebagaimana FIFA memilih tuan rumah pada tahun-tahun sebelumnya, penuh intrik dan isu suap.

Tiada yang tahu pasti kapan pertama kali manusia bermain sepak bola. Namun, organisasi yang menaunginya, FIFA, baru berdiri pada 1904. Liga dan kompetisi pun bergulir, dan seperti olahraga lain, setiap pertandingan sepak bola jadi komersil. 

Walaupun, hingga awal 70-an, sepak bola masih relatif jauh dari ingar bingar politik uang. Sebelum akhirnya Havelange merebut kursi teratas FIFA, dan berbagai sponsor mulai memasuki lapangan. Blatter lalu mengambil alih pada 1998, dan mengubah sepak bola sepenuhnya jadi soal uang.

Galeano pernah mengejek eks presiden FIFA itu sebagai "birokrat yang tak pernah sekali pun menendang bola tapi pergi ke mana-mana dengan limosin 25 kaki yang disopiri orang kulit hitam".

Qatar, sebagaimana Blatter, mampu membeli sepak bola dengan uang. Sebelas tahun lalu, mereka berhasil memasukkan sponsor Qatar Foundation ke Barcelona, klub yang selama 112 tahun menolak memakai sponsor di jerseynya. Bertahun-tahun selanjutnya kita tahu Qatar berhasil membeli PSG, juga hak siar liga-liga Eropa untuk dipertontonkan ke seluruh dunia lewat BeIn Sports.

Piala Dunia 2022 dipersiapkan dengan skala yang jauh lebih masif dari sebelumnya. Tujuh stadion baru dibangun, beserta kota-kotanya, dengan ribuan pekerja migran yang dilaporkan meregang nyawa selama pembangunan. Meski Qatar jelas membantah laporan tersebut. Yang jelas, tidak ada yang memungkiri sepak bola telah banyak menumbalkan korban.

Lalu kita sadar, olahraga ini tidak sepolos yang pernah kita bayangkan. Namun, kita tetap menikmatinya dan menontonnya di mana saja. Mahfud Ikhwan menyebut sepak bola membangkitkan jiwa kekanak-kanakan dalam diri kita, dan ia sendiri mengaku meskipun tak punya lagi alasan untuk menonton piala dunia, ia tak bisa berjanji takkan menontonnya sama sekali.

Mengapa sepak bola punya sihir yang begitu kuat? Mungkin karena di antara sekian banyak olahraga lain, ia yang paling dekat dan mudah dimainkan. Terlepas dari pertandingan profesional, siapa pun bisa bermain sepak bola tanpa butuh uang atau skill yang mumpuni. 

Tidak ada bola kulit? Bola plastik pun jadi. Tidak ada bola plastik? Bocah-bocah kampung biasa mengumpulkan kertas perak dari bungkus rokok, merendamnya dalam minyak, dan menjadikannya bola api. Tidak ada gawang besi? Tinggal menaruh dua potong sandal atau menumpuk batu. Tidak ada lapangan? Itu nyaris mustahil, sebab tanah mana pun selalu bisa dijadikan lapangan bola.

Sepak bola mungkin kotor, tapi ia selalu bisa dinikmati siapa saja. Pertandingan bola profesional mungkin penuh permainan politik di belakangnya, tapi ia selalu bisa jadi pelarian dari kesulitan hidup, lilitan utang, hingga masalah rumah tangga. Menonton dua kesebelasan bertanding berebut satu bola, mendadak kita bisa menjadi komentator, wasit, hingga pelatih.

Maka, kita takkan berdosa jika mengamini kata Mahfud, "Setelah berpuluh tahun, saya sudah terbiasa dengan kontradiksi dan standar ganda dalam menikmati sepak bola. Dan karena itulah, saya pasti akan menonton Piala Dunia Qatar."