Bongkar Stereotipe Pemilik Pajero dan Fortuner yang Arogan

ERA.id - Ada tiga musuh bersama pengguna jalan raya: lampu merah yang kelewat panjang, jalan berlubang, dan strobo yang curang. Konon, musuh yang terakhir kerap dimiliki mobil Pajero dan Fortuner. Walhasil, ibarat mafia di film-film Martin Scorsese, pengendara dua mobil tadi selalu dibayang-bayangi reputasi tak sedap.

Reviewer otomotif kondang Ridwan Hanif sampai pernah membandingkan pemilik Pajero dan Fortuner dengan pemilik Santa Fe. Katanya, mesin Santa Fe jauh lebih ngebut dibanding keduanya. “Tapi untungnya yang punya Santa Fe orangnya gak pada belagu,”  kata Ridwan Hanif.

Kita boleh percaya itu hanya sentimen pribadi, mengingat Ridwan pernah disalip sewenang-wenang oleh pengendara Fortuner di salah satu videonya. Namun, berita arogansi pengendara Pajero dan Fortuner yang kita baca di internet bukan sekali-dua kali muncul. Dan mungkin kita salah satu korbannya.

Mari kita mengingat sejenak beberapa aksi mereka yang sempat viral. Sekurangnya ada dua kasus pengendara Fortuner berlagak macam koboi jalanan yang terekam kamera. 

Pertama pada tahun 2021, seorang pengendara Fortuner tampak ngamuk-ngamuk di belakang setir. “Gua jalan aja ya!” teriaknya saat dihentikan paksa setelah menabrak motor di Duren Sawit, Jakarta Timur. Kepalanya melongok keluar jendela sambil memamerkan pistol di tangannya lalu ngeluyur pergi. 

Kali kedua, korbannya seorang pengendara Avanza yang lewat tol Jagorawi pada September 2022. Mobilnya dipepet ke tepian, spionnya ditutup paksa, dan kepalanya ditodong pistol. Dua kasus yang berbeda, tapi mobilnya sama-sama Fortuner.

Kita cukupkan dengan dua contoh tadi, selebihnya bisa dicari sendiri di internet. Ketik saja kombinasi kata Pajero, Fortuner, dan arogan di Google. Tak kurang-kurang berita yang akan kita temukan. Wajar jika akhirnya stereotipe arogan pemilik Pajero dan Fortuner tumbuh subur.

Sosiolog UIN Jakarta Dr. Tantan Hermansah menerangkan stereotipe tersebut bisa muncul selain karena pemberitaan media, juga disebabkan pembawaan mobil Pajero dan Fortuner yang besar dan terkesan angkuh.

“Karena suaranya gahar, bentuknya besar, banyak orang yang kendaraannya lebih kecil dari mobil tersebut merasa terdominasi,” ujarnya saat dihubungi ERA, Senin (12/12/2022). "Padahal mungkin sebetulnya dia menjalankan mobil biasa-biasa saja."

Masalahnya, menurut Dr. Tantan, kita sering melihat secara gamblang praktek-praktek pelanggaran di jalan diabaikan, apalagi jika menyangkut pengendara mobil besar macam Pajero dan Fortuner yang kebanyakan dimiliki orang-orang berada atau berstatus sosial tinggi.

“Mereka kemudian menggampangkan proses-proses hukum. Di sinilah kemudian kita mendapati masalah lain, di mana aparat penegak hukum pun gampang diajak nego oleh mereka-mereka yang punya uang,” tambahnya.

Semakin besar mobil, semakin sempit pandangan mata

Kepemilikan mobil pribadi, terlepas dari apa pun jenisnya, adalah upaya seseorang memperluas ruang privat miliknya di tengah ruang publik. Semakin banyak yang ia kuasai, semakin banyak juga ruang milik orang lain yang luput darinya. 

Kalau konsep di atas terdengar rumit, mungkin akan lebih sederhana jika kita langsung turun ke jalan. Cobalah berjalan di trotoar dan bandingkan rasanya saat berkendara motor. Kita akan sadar bahwa pejalan kaki selalu punya pandangan lebih luas dari pengguna jalan lain. Mengapa? Karena tidak ada sekat-sekat yang menghalangi pandangan matanya.

Itulah mengapa jika ada kecelakaan di jalan, yang pertama diduga bersalah selalu kendaraan yang lebih besar. Karena memang kemungkinannya lebih tinggi. Pengendara mobil lebih mudah terdistraksi ketimbang pengendara motor, dan pengendara motor lebih mudah terdistraksi ketimbang pejalan kaki.

Semakin besar kendaraan seseorang, semakin terpangkas pandangan matanya. Maka dari itu bus dan truk selalu punya spion lebih banyak dari yang lain. Jika pandangan kita terbatas, selanjutnya hanya ada dua kemungkinan: entah kita lebih hati-hati, atau sebaliknya, lebih gegabah.

Pengendara Pajero atau Fortuner, seperti kata Dr. Tantan, hampir pasti orang kaya. Setidaknya cukup kaya untuk beli mobil. Dan orang kaya jarang naik kendaraan umum, atau malah tidak pernah sama sekali. 

Mereka yang tidak punya cukup pengalaman untuk melihat orang-orang kecil di luar mobilnya akan merasa jadi “raja jalanan” dan mengemudi dengan gegabah. Itu mungkin salah satu faktor arogansi pemilik mobil-mobil besar.

“Jadi sebetulnya yang harus kita kedepankan adalah paradigma keadaban jalanan,” kata Dr. Tantan. “Di mana setiap orang saling menghormati sesama pengguna jalan karena itu jalan umum, jalan publik yang semua orang boleh mengaksesnya dengan aman dan nyaman.”

Paradigma keadaban jalanan ini yang sering ketutupan sirine dan strobo selain dari ambulans. Kelap-kelip lampu biru yang silau dan klakson cempreng itu selalu membuat kita bertanya-tanya. "Buru-buru mau ngapain sih? Kebelet berak?" Sambil membiarkan mereka lewat dengan perasaan dongkol yang menjadi-jadi.