Ketika Pemuda Pancasila Jadi 'Hero' di Pondok Cina

ERA.id - Tak pernah kami bayangkan sebelumnya akan hidup cukup lama untuk menyaksikan Pemuda Pancasila jadi pahlawan. Yang sudah-sudah, kami hanya mengenal mereka sebagai penjaga lahan parkir hingga petugas keamanan. Maka, betapa kami takjub melihat pasukan berseragam loreng-loreng oranye itu dipeluk dan ditangisi bocah-bocah sekolah dasar yang menunggu digusur. Sungguh pemandangan yang mengharukan sekaligus langka.

Semua berawal dari ide Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menambah masjid di Margonda. Lahan yang jadi sasaran adalah SDN Pondok Cina (Pocin) 1 yang berdiri di samping jalan raya sejak 1946. Dinas pendidikan kota Depok datang ke sana dan meminta murid-murid pindah ke SDN Pocin 3 dan 5. Sejak pertengahan November lalu, Pemkot Depok menonaktifkan gedung sekolah itu. Seakan mengusir dengan halus, trotoar tepat di depan gerbang direnovasi hingga menghalangi siapa pun untuk keluar-masuk.

Sebagian murid nurut dan pindah, tapi ratusan lainnya memilih tetap bertahan. Para wali murid membentuk aliansi dan menggugat relokasi dadakan itu. Tanpa ba-bi-bu, guru-guru yang mengajar di SDN Pocin 1 dilarang mengajar di sana. Padahal, minggu pertama Desember sedang masa ujian semester untuk anak-anak, tapi Pemkot Depok tampak tak peduli. Ratusan murid yang menolak pergi terpaksa belajar tanpa pendampingan guru resmi. Pada 25 November lalu, mereka mengadakan upacara memperingati hari guru tanpa kehadiran guru sama sekali.

Terus siapa yang mengajar? Awalnya adalah wali murid, lama-lama warga setempat ikut bersimpati melihat anak-anak SD terlantar seperti kucing liar. Akhirnya mereka turun tangan membantu. Beberapa politisi juga tampak ambil bagian menemani murid-murid SDN Pocin 1. Salah satu yang paling getol membela hak-hak belajar mereka tak lain dan tak bukan adalah anggota Pemuda Pancasila. Mereka tiap hari datang ke sekolah itu dan siap mengajar sebisanya.

Tak hanya mengajar, para anggota Pemuda Pancasila di Margonda juga jadi pagar besi SDN Pocin 1 bersama para wali murid saat sekolah itu digeruduk Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). 10 Desember lalu, tepat malam Minggu, mereka mengepung SDN Pocin 1 dan bersiap menggusur yang tersisa di dalam. Puluhan wali murid terpaksa bermalam di halaman sekolah. Satpol PP masih memaksa masuk hingga dini hari, sebelum akhirnya menyerah.

"Ditunda (penggusurannya), bukan gagal, karena saya tadi sampaikan tetap ini harus dimusnahkan karena tidak sesuai dengan peruntukannya," kata Kepala Satpol PP Kota Depok Lienda Ratnanurdianny di SDN Pocin 1 Depok, Minggu (11/12).

Satpol PP pergi, tapi bayang-bayang penggusuran terus menghantui. Tuntutan para wali murid sederhana saja sebenarnya, kalau mau membangun masjid di sana, siapkan dulu satu sekolah yang mumpuni sebelum memindahkan anak-anak. Jangan dipencar seperti sekarang, sedangkan kapasitas sekolah pindahannya kecil.

“Ketika dipecah ke SDN Pocin 5 dan Pocin 3, itu sebagian masuk sekolah siang,” kata kuasa hukum wali murid Francine Widjojo di SDN Pocin 1, Minggu (11/12).

Setelah ribut-ribut ini ramai di media sosial, baru deh Pemkot Depok agak melunak. Itu juga menunggu instruksi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat yang mengancam bakal membatalkan bantuan dana pembangunan masjid jika masalah dengan murid-murid SDN Pocin 1 belum kelar.

Wali Kota Depok Mohammad Idris akhirnya menunda pembangunan masjid raya Margonda dan mengizinkan murid-murid yang belum pindah tetap belajar di SDN Pocin 1. Sebagian guru mulai kembali masuk per 19 Desember dan para relawan yang sempat jadi pengajar dadakan bisa mengelus dada lega, termasuk kawan-kawan Pemuda Pancasila.

Sabtu kemarin (17/12), mereka melakukan perpisahan dengan murid-murid yang telah ditemani belajar kurang lebih sebulan. Bocah-bocah itu menangis sejadi-jadinya tak ingin mereka pergi. Sekilas penampakan mereka mungkin seperti preman, dengan beberapa anggota yang lengannya bertato. Namun, di mata anak-anak dan orang tuanya, mereka semua pahlawan.

Sambil menonton video amatir yang direkam wali murid, kami berdoa dari jauh agar Pemuda Pancasila tetap seperti yang ada di video itu, pahlawan bagi mereka yang terpinggirkan. Jadi, jika nanti kami melihat seragam loreng-loreng oranye di jalan, kami tak melulu kepikiran soal penagih uang keamanan. Amin.