Ahli IPB: Karhutla di Kalbar karena Pembakaran Serentak

Jakarta, era.id - Melonjaknya jumlah titik api atau hotspot di Kalimantan Barat, mengganggu aktivitas masyarakat. Ahli kebakaran hutan dan lahan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo menjelaskan, Karhutla di sana karena pembakaran serentak.

Setiap bulan Agustus dan September, petani yang menerapkan sistem ladang berpindah, biasanya akan membuka lahan pertanian mereka dengan cara dibakar atau yang dikenal dengan istilah adat 'gawai serentak'.

''Kemungkinan besar iya (akibat gawai serentak), karena kebakarannya terjadi bersama-sama atau serentak,'' kata Bambang Hero Saharjo pada media, Senin (20/8/2018). 

Melihat kondisi kabut asap saat ini, Bambang bilang sumber api sebenarnya berasal dari lahan yang tidak terlalu besar, namun jumlahnya banyak di berbagai lokasi. Makanya, tim pemadam kesulitan untuk melakukan upaya pemadaman secara total.

''Indikasi yang membakar ini adalah masyarakat biasa, karena hotspotnya cenderung naik turun dan tidak stabil, karena mereka membakar hanya dalam hitungan jam, tapi karena di lokasi gambut, sisa asapnya masih banyak. Ini kami lihat dari data satelit,'' jelas Bambang. 

Bambang meminta pemerintah setempat terus mengedukasi masyarakat agar tidak membakar lahan.

''Karena yang terbakar adalah gambut yang kurang pembasahan, maka penghentian kegiatan pembakaran adalah salah satu solusi terbaik,'' tegas Bambang.

Sementara itu, tim Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (MA KLHK) bersama tim satgas yang terdiri dari TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), BPBD, pihak swasta, dan lainnya terus berjibaku memadamkan titik api di Kalbar.

"Tim sudah bekerja tanpa henti setiap hari, baik lewat darat maupun udara untuk memadamkan titik api. Jadi kita sudah lama kerja di lokasi," ungkap Direktur Pengendalian Karhutla, KLHK, Raffles B. Panjaitan.

Tim darat selalu siaga di lokasi kebakaran. Malah tak jarang bermalam di lokasi demi menjaga agar titik api tidak meluas. Beberapa lokasi yang sulit ditempuh melalui jalur darat, dilakukan pemadaman lewat udara dengan helikopter.

Untuk mengatasi Karhutla, telah dikerahkan 35 unit heli dari BNPB, KLHK, TNI AU, dan pihak swasta di lima Provinsi yang telah menetapkan status darurat. Di antaranya 9 unit heli di Provinsi Riau, 16 unit heli di Sumsel, 5 heli di Kalbar (baru dideploy dari Riau 1 unit), 4 heli di Kalteng, dan 1 heli siaga di Jambi. Untuk mengendalikan meluasnya titik api, juga dilakukan langkah modifikasi cuaca dan water bombing. 

"Khusus untuk Provinsi Kalbar yang jumlah hotspotnya kini meningkat, telah di bombing dimulai sejak 26 April dengan total air yang dijatuhkan sebanyak 18.200.000 liter air di Kota Pontianak dan Kab. Kuburaya,'' jelas Raffles.

Jumlah hotspot di Kalbar pernah mencapai puncaknya pada bencana karhutla tahun 2015, sebanyak 2.712 titik api berdasarkan satelit NOAA. Kemudian menurun pada tahun 2016 menjadi 1.576 titik, dan menurun drastis pada tahun 2017 dengan hanya 642 titik api menggunakan satelit yang sama.

Tag: kebakaran hutan