Lip Sync Bukanlah Dosa Besar

Jakarta, era. id - Lip sync bukan lip sing. Sesuai namanya, secara harfiah berarti sinkronisasi bibir (lip synchronization) atau sikap seseorang yang seolah benar-benar bernyanyi dengan menggerakkan bibirnya dibarengi lagu yang diputar melalui compact disc atau media lain.

Lip sync dilakukan karena beberapa alasan. Bisa karena keadaan si penyanyi yang tidak dalam kondisi baik, tidak memadainya tata suara, kesulitan bernyanyi sambil menari, atau memang untuk meringankan pekerjaan bernyanyi di panggung.

Tapi, alasan-alasan di atas tidak berlaku buat penyanyi sekelas Lady Gaga. Penyanyi 28 tahun ini sebisa mungkin menghindari aksi lip sync saat tampil di atas panggung. Bahkan secara blak-blakan, penyanyi bernama asli Stefani Germanotta ini menegaskan melakukan lip sync sama artinya dengan tidak menghargai penggemar dan penonton.

Menurutnya, penyanyi sudah sepantasnya memiliki nyali untuk menyanyikan lagu secara real bagi penonton yang sudah membeli tiket dengan harga yang cukup mahal. Sebaliknya bagi si penyanyi, menyanyikan lagu-lagu untuk para fans tercinta secara langsung merupakan bagian terbaik bagi seorang artis panggung.

Lalu, seberapa besarkah dosa Via Vallen yang melakukan aksi lip sync saat tampil membawakan theme song Asian Games 2018, Meraih Bintang, di upacara pembukaan Asian Games 2018 pada Sabtu (18/8) kemarin? Apakah Via Vallen bisa dikategorikan tidak menghargai penonton yang sudah membeli tiket untuk menonton acara spektakuler itu?

Sesungguhnya, jelas sekali. Seperti dikutip dari akun Instagram-nya, Via Vallen juga mengaku kecewa karena dipaksa panitia melakukan lip sync. Tapi jika demi sebuah alasan yang masuk akal, mengapa tidak? Ya, pertunjukan tersebut mempertaruhkan nama negara. Jika ada kesalahan teknis sedikit saja, yang malu bukan cuma Via Vallen, tetapi juga Indonesia.

Penyelenggara menegaskan kepada Via Vallen, secara teknis, sangat tidak memungkinkan para pengisi acara tampil secara live. Jadi, ketidakpercayadirian seorang Via Vallen yang harus bernyanyi lip sync tidaklah lebih penting dibandingkan menjaga segala kemungkinan terburuk yang terjadi dalam acara tersebut. 

Tapi, mengapa warganet 'yang maha benar' itu tetap mengomentari Via Vallen? Sebagian bilang kalau gerakan mulut dan lagunya tidak pas. Via Vallen juga dianggap terlalu grogi sehingga gerakan di panggung jadi tidak luwes. Lho, kan alasannya sudah jelas. Via Vallen tidak pede, tapi harus tetap menjaga 'kesucian' Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 di mata negara-negara lain.

Warganet memang selalu merasa benar. Di acara ulang tahun salah satu televisi swasta nasional beberapa tahun lalu, Agnes Monica juga diserang haters-nya melalui media sosial. Mantan penyanyi cilik itu dituding melakukan aksi lip sync ketika melantunkan lagu Coke Bottle, Tak Ada Logika dan lagu lainnya.

Seperti halnya Via Vallen, Agnes pun buka suara. Melalui akun Twitter-nya, Agnes memberikan penjelasan mengenai aksinya yang mengundang perdebatan di dunia maya tersebut. Kata Agnes, jika suaranya terdengar seperti bergema (dobel-dobel) itu yang disebut dengan backing vocal dan layer. Dan backing vocal-nya adalah suaranya sendiri. Tapi ya, pemahaman warganet lagi-lagi tidak sampai sejauh itu.

Bayangkan jika kasus Mili Vanilli yang ramai pada era 90an terjadi sekarang. Selain lip sync, duo pop asal Jerman ini juga menggunakan suara orang lain. Ya, sudah lip sync pakai stuntman (pemeran pengganti) pula. Sama persis dengan dua kegaduhan (tak penting) yang terjadi di tengah spektakulernya acara pembukaan Asian Games 2018. Mulai sekarang, bagaimana jika kita melihat pertunjukan sebagai sebuah hiburan semata. Bukan lagi sebagai salah satu kemasan bisnis yang diperdebatkan berlebihan.

Baca Juga : Melihat dengan Akal Sehat Lip Sync Via Vallen

 

Tag: album musik