Ngobrol Bareng Nurdin Halid: Dari Politik hingga Masa Depan Sepak Bola Indonesia

ERA.id - Nama Nurdin Halid tak lepas dari tiga hal: Sepak bola, Golkar, dan koperasi. Mantan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang sempat memimpin organisasi itu dari dalam penjara mengundang ERA bermain ke kantornya di Pancoran, Jakarta Selatan pada Senin (13/2/2023).

Tulisan Wisma NH —singkatan untuk namanya— terpampang besar-besar di depan kantor Nurdin Halid. Penjaga lobi mengantar kami masuk ke ruang tunggu yang dingin. Selang beberapa menit, seorang perempuan yang sepertinya asisten Nurdin memanggil kami untuk masuk ke ruang rapat dan makan siang.

Kami melewati ruang tamu dengan sofa yang gagah. Pigura besar menggantung di dindingnya memperlihatkan mosaik Nurdin Halid yang tersenyum. Pria berusia 64 tahun kelahiran Sulawesi Selatan itu rutin pulang-pergi dari Makassar ke Jakarta karena menjabat Wakil Ketua Umum Partai Golkar. Di kampungnya, ia juga sedang mempersiapkan pencalonannya sebagai wakil rakyat pada 2024 nanti.

Gambar mosaik Nurdin Halid di kantornya Wisma NH, Pancoran, Jakarta Selatan. (ERA/Muslikhul Afif)

Selepas menyantap hidangan khas Manado, kami duduk di sofa yang empuk dan sang tuan rumah tiba. Nurdin Halid masuk ke ruangan dikawal seorang lelaki yang memanggilnya Puang —panggilan kehormatan orang Bugis. Badannya lebih besar saat dilihat secara langsung dan jalannya masih tegap.

Nurdin Halid di era 90-an adalah pahlawan sepak bola di kampungnya. Wali Kota Makassar saat itu, Andi Malik Baso Masry, memintanya jadi manajer klub PSM Makassar yang dijuluki Juku Eja jelang Liga Indonesia musim 1995-1996. Pada musim pertamanya itu, Juku Eja hampir juara dan bertengger di posisi dua.

Nurdin sempat pindah ke Pelita Bakrie sebelum kembali menangani Juku Eja. Kepada Syamsuddin Umar, pelatih yang ia rekrut untuk menggeber performa klubnya, Nurdin berkata, "Syam, saya ingin juara. Saya akan total mendukung kamu." Tekad itu terwujud pada tahun 2000, ketika Juku Eja menekuk PKT Bontang di final dan meraih gelar Liga Indonesia. 

Reputasi Nurdin bersama PSM Makassar mengantarnya jadi Ketua Umum PSSI pada 2003. Sayang, beberapa kali ia tersandung kasus dari mulai penyelundupan gula impor ilegal hingga korupsi minyak goreng dan mendekam di penjara pada tahun 2007-2008. Namun, ia terus memimpin PSSI dari balik jeruji besi dan baru lengser dari jabatannya setelah didesak pemerintah pada 2011 setelah berbagai kontroversi.

Di luar dunia bola, Nurdin adalah politisi veteran dari Golkar dan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Senin kemarin, lelaki tua itu bercerita kepada kami soal kecintaannya terhadap sepak bola, langkah Golkar menjelang 2024, dan cita-citanya membangun koperasi jadi soko guru Indonesia.

Bagaimana awalnya bisa jatuh cinta dengan sepak bola?

Waktu di kampung dulu kan kita tidak ada kesibukan main anak-anak seperti sekarang yang ada game, ada mall, dan sebagainya, kan kita gak ada zaman dulu. Jadi salah satu hiburan kita adalah bermain bola. Dan main bolanya bukan main bola seperti sekarang. Jadi bolanya itu dari kain, kita gulung itu kain jadi bola. Setelah kelas 6 SD mungkin ya, baru ada bola kaki tiba di kampung saya waktu itu.

Sehingga hobi bermain bola itu memang sejak kecil. Dan kita main bola dari kain bekas yang kita gulung atau dari jeruk. Dan waktu saya sudah mahasiswa, tidak pernah saya lewatkan pertandingan PSM Makassar. 

Karena uang saku kuliah itu sangat terbatas, maka ketika PSM bermain dan kita tidak ada uang, ya kita ikut bagaimana cara masuk tanpa bayar. Itu saya alami, numpang sama orang supaya saya bisa masuk. Saya hanya tidak pernah lompat pagar. Nah sejak itu saya sangat mencintai PSM. 

Menurut Pak Nurdin apa yang bisa kita benahi dari PSSI dan sepak bola kita? Lebih-lebih sejak Tragedi Kanjuruhan kemarin.

Yang harus diubah total adalah mindset daripada seluruh stakeholder sepak bola, bahwa sepak bola tidak identik dengan juara. Sehingga tidak ada pemaksaan kehendak, baik manager, pemilik klub, suporter. 

Kan masalah kita yang selama ini terjadi bahwa tim itu harus juara, tim itu harus menang. Ini boleh dalam program, boleh dalam semua sistem yang kita lakukan, tapi tidak boleh menjadi wajib. Kalau tidak menang kita bikin masalah, kita bikin kerusuhan. Ini yang tidak betul, mulai dari bawah sampai kepada PSSI-nya.

Di zaman saya, di tengah banyak orang yang tidak senang dengan saya, tapi saya sudah menetapkan konsep di PSSI, yaitu menggabungkan Galatama dengan Perserikatan waktu itu. 

Belum pernah kita memiliki klub profesional, saya kumpulin kurang lebih 1000 orang di Holten Sultan, kita bermusyawarah selama tiga hari, baru melahirkan daripada sebuah kompetisi yang profesional, yaitu Liga Indonesia. Saya meletakkan sebuah konsep yaitu industri bola menuju pentas dunia. 

Mau diakui atau tidak, tapi faktanya seperti itu, Liga Indonesia itu saya yang buat, wujud daripada sebuah konsep industri bola menuju pentas dunia. Dan ini sebenarnya hampir terjadi. Andai saja waktu itu pemerintah melanjutkan dukungannya kepada PSSI, 2022 kemarin itu Piala Dunia di Indonesia, bukan di Qatar, karena kita sudah lolos biding, dari 12 tahapan kita sudah lolos 8 tahapan. 

Ketua Umum PSSI tahun 2003-2011 Nurdin Halid di kantornya, Pancoran, Jakarta Selatan. (ERA/Muslikhul Afif)

Jadi kalau PSSI, sepak bola kita mau maju, mindset itu harus diubah, sehingga orang datang menonton, di samping memang mencintai timnya, mencintai klubnya, dia memang cari hiburan, cari kesenangan.

Ini bukan soal nyali. Semua ketua PSSI itu bernyali, zaman dulu sampai sekarang. Kalau tidak, dia tidak jadi ketua umum PSSI. Ini bukan soal nyali, tapi ini soal kemampuan meyakinkan manajemen, baik di PSSI, maupun manajemen klub, manajemen suporter, bahwa sepak bola adalah identik dengan persatuan, penciptaan kebahagiaan, kebanggaan, dan interaksi sosial.

Itu sebetulnya yang saya tanamkan dari dulu. Nah di zaman saya kan, alhamdulillah tidak ada kerusuhan seperti itu. Dan kita harus menjaga betul, karena di Indonesia ini ada musuh bebuyutan, jadi ketika misalnya Persib Bandung bermain dengan Persija, itu dari awal kita sudah antisipasi semua kemungkinan yang akan terjadi, sehingga bagaimana pun tidak terjadi seperti yang di Kanjuruhan. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi.

Nah itu dari sisi manajemen, dari sisi meyakinkan rakyat. Kemudian dari sisi prestasi, sebetulnya PSSI tidak perlu lagi macam-macam buat program sampai akan datang, sampai tercipta sebuah tujuan, yaitu menjadikan Indonesia masuk pentas dunia. Sebab pembinaan usia dini sudah ada itu, dari umur 6 tahun, 12 tahun, 16 tahun. 

Itu dari sisi konsep sudah lengkap, ikuti saja semua rules yang dibuat oleh FIFA, dari sisi konsepsi itu kita sudah mampu menjabarkan. Penciptaan klub profesional, pertandingan profesional, semua sudah ada rules-nya.

Tapi itu dijalankan tidak Pak?

Ya itu tadi, PSSI yang menjalankan, tapi di klubnya pokoknya tim saya harus menang, segala macem dan sebagainya. Ini yang harus diubah total. Dan di zaman saya alhamdulillah ini bisa saya buktikan juga. Tidak mungkin kita bisa ditunjuk Piala Asia kalau tidak ada kepercayaan dari AFC. 

Nah sepak bola itu unsur trust juga tinggi. Tidak mungkin kita ditunjuk sebagai tuan rumah Piala AFF kalau tidak ada kepercayaan. AFF 2010 kan sangat membuat euforia sepak bola Indonesia semakin naik. Dan waktu itu orang-orang politik pun ikut turun nonton.

Masalah mendasar di kita adalah infrastruktur. Untuk menciptakan prestasi, tanpa infrastruktur sepak bola, bagaimana? Satu hal yang sangat aneh, saya pernah roadshow ke Afrika, ke Amerika Latin, ke Eropa, ketika saya calonkan Indonesia jadi tuan rumah, jadi saya tahu kondisi membangun sepak bola. Salah satu hal yang sangat prinsip mengapa kita belum bisa menciptakan tim yang kuat karena kita tidak punya basecamp. 

Coba kalau PSSI mau berlatih? Dia tidak punya basecamp. Tidak usah dulu bicara tentang sport science yang lengkap, basecamp dulu deh. Sementara Indonesia itu bangsa bola, 80% rakyat Indonesia itu cinta dengan bola. Kalau ada pertandingan Timnas kita, menurut saya 70-80% rakyat Indonesia tidak tidur kalau malam, pasti dia tinggalkan pekerjaan buat nonton bola itu.

Ketua Umum PSSI tahun 2003-2011 Nurdin Halid di kantornya, Pancoran, Jakarta Selatan. (ERA/Muslikhul Afif)

Juara itu relatif ya, tim yang bagus aja belum tentu juara, yang penting dulu tim berkualitas. Jadi ketika dia bermain itu penontonnya, suporternya berdecak kagum. Karena dia bisa memberikan tontonan yang menarik.

Kalau pemerintah kita sekarang serius ingin membangun sepak bola Indonesia, bangun infrastruktur yang lengkap. Saya ada laboratoriumnya, jempol aja diletakkan di sebuah alat, ketahuan, “Oh Nurdin Halid cocoknya sayap kanan.” 

Jadi sebelum mereka dilatih sudah ketahuan, ini si Nurdin Halid ini bakatnya gelandang menyerang, atau penyerang murni, atau gelandang bertahan. Maka dia dilatih di situ. Itu yang namanya sarana yang lengkap. Kalau pelatih kita itu, coba dulu di bek kanan, siapa tahu juga bisa bek kiri. 

Nah ini kan PSSI akan masuk era baru, sebentar lagi Konferensi Luar Biasa (KLB), menurut Pak Nurdin antara Erick Thohir dan La Nyalla siapa yang kuat?

Ya dua-duanya punya kehebatan, dua-duanya punya kelebihan, dua-duanya punya kelemahan. Kalau saya, siapa saja di antara mereka, yang penting tadi itu, harus memiliki kemampuan untuk mengubah mindset masyarakat Indonesia bahwa sepak bola tidak identik dengan juara, tapi identik dengan kebahagiaan dan kebanggaan bagi bangsa, bagi daerah, bagi masyarakat. 

Dan yang paling penting, sepak bola adalah alat persatuan, sehingga tidak ada pokoknya. Itu harus dihilangkan itu. Dan saya alami. Apalagi ketika pilkada, itu paling susah. Kalau pilkada, ada daerah minta timnya menang karena mau pilkada.

Kalau bicara politik Pak, Golkar kan sudah membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dengan PAN dan PPP, lalu kapan kira-kira untuk deklarasi calon presiden (capres) 2024?

Itu gini, kalau KIB itu ya, Golkar itu sebetulnya secara organisatoris sudah mendeklarasikan. Karena Pak Airlangga itu sudah diputuskan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Golkar 2019, lalu dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2020, beliau ditetapkan jadi calon presiden, itu keputusan Munas. Dan ini hanya bisa diubah oleh Munas. 

Jadi KIB itu sebenarnya sudah punya calon presiden, yaitu Airlangga Hartarto. Cuman kenapa belum diumumkan? Mungkin karena belum ada kesepakatan ya, biasalah di era multi partai itu kolaborasi, tidak ada kesuksesan politik tanpa kolaborasi, nah kolaborasi melahirkan kesepakatan dan kesepahaman. Ya mungkin ini soal cawapresnya, soalnya kalau Golkar sudah final, Pak Airlangga. Kapan deklarasinya? Saya juga mengharapkan secepatnya. 

Ketua Umum PSSI tahun 2003-2011 Nurdin Halid di kantornya, Pancoran, Jakarta Selatan. (ERA/Muslikhul Afif)

Menurut saya, untuk mencerahkan demokrasi rakyat, maka dari awal itu seharusnya sudah diberikan pilihan-pilihan dan jangan terbatas. Sumber daya kita luar biasa, pemimpin kita banyak, muda maupun yang senior, yang berkualitas dan bisa mimpin negeri ini. Itu kasih rakyat, biar rakyat yang menentukan. 

Jangan cuman dikasih dua pilihan, kalau perlu kasih empat pilihan, karena ada 20% presidential treshold itu. Mereka berkompetisi dengan pertarungan gagasan, pertarungan ide, bagaimana bisa Indonesia lebih maju dari hari ini. Sekarang Indonesia sudah maju dengan Pak Jokowi, cuman bagaimana bisa lebih maju lagi dari sekarang.

Jadi kalau KIB, ya mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, karena sekarang sudah mengerucut sebetulnya.

Tinggal cawapresnya saja ya?

Iya, karena Golkar sudah final, Pak Airlangga keputusan Munas. Jadi sekarang tinggal meyakinkan PPP sama PAN, siapa wakilnya Pak Airlangga supaya bisa menang? Kan gitu. 

Dan masih ada kemungkinan untuk partai lain bergabung dengan KIB?

Bisa saja, karena kita memang sistem presidensial tetapi multi partai. Ya itu memang juga keanehan kita, banyak sekali partai ya, apalagi 2024 nanti ada 17 partai akan ikut pemilu.

Nah, keterbukaan KIB itu luar biasa, kalau ada yang mau bergabung silakan, tapi calon presidennya Airlangga. Bahkan banyak bargaining position yang bisa dilobikan untuk membangun negeri ini, bukan hanya presiden, kan kalau presiden cuman satu. Kalau semua mau jadi presiden, koalisi berantakan.

Pak Nurdin bilang lebih banyak pilihan lebih baik, lalu prediksi Bapak ada berapa paslon nanti yang bersaing di 2024?

Saya sih berharap empat, kan ada empat koalisi, PDIP, KIB, Koalisi Indonesia Raya (KIR), dan Koalisi Perubahan. Tapi feeling saya kok tiga yah.

Kalau posisi Golkar ke depan bagaimana Pak? Kan Golkar selalu ada di kubu pemerintah dan tidak pernah oposisi, apakah langkah ini akan diteruskan?

Itu pasti, karena latar belakangnya, karena doktrinnya, Golkar didirikan memang untuk membangun negeri. Golkar didirikan ini untuk bersama dengan pemerintah. Jadi ide dasar terbentuknya Golkar sebetulnya awalnya itu dari Bung Karno. Kemudian Pak Harto mendirikan Golkar untuk berkarya. Nah kalau jadi oposisi, mau berkarya bagaimana? 

Jadi, kalaupun Golkar kalah dalam pemilihan presiden, dia tetap ikut pemerintah. Karena doktrinnya kekaryaan, kerakyatan yang manusiawi. Memang Golkar didoktrin untuk berkarya membangun negeri. Kalau dia jadi oposisi, dia jadi bingung. 

Dan kita sebetulnya tidak mengenal oposisi di negeri ini, karena kita bukan sistem parlementer seperti di Malaysia misalnya. Jadi Indonesia itu tidak mengenal oposisi. Nah, sekarang kan yang lucu kalau berbeda pendapat dikatakan oposisi, tidak ikut pemerintah dikatakan oposisi. Itu sebetulnya yang rancu di negeri ini.

Kalau Pak Nurdin sendiri, 2024 nanti akan maju di pemilihan legislatif atau bagaimana?

Ya, saya saat ini ditugaskan oleh Ketua Umum Pak Airlangga untuk jadi legislatif, sekarang sudah mulai bekerja. Saya sudah turun ke desa, nanti start setelah DCS (Daftar Calon Legislatif Sementara), tapi tim sudah terbentuk semua, dan sarana-sarana sudah disiapkan, atribut-atribut juga, karena saya kan sebetulnya sudah punya modal sosial, karena di Daerah Pemilihan (Dapil) 9 itu dulu suara saya kurang lebih 700 ribu waktu pemilihan gubernur (pilgub). Sebenarnya tinggal meyakinkan rakyat saja. Untuk pengenalan udah dikenal.

Terakhir, sebelum kita tutup ya, apa yang mau Pak Nurdin capai lagi di politik dan kehidupan?

Kalau di kehidupan syukurlah apa yang dikasih oleh Allah, bisa minum, makan, jalan-jalan, bisa ngongkosin anak-anak selesai sekolah, menurut saya sudah cukuplah, tapi kan manusia tidak pernah ada kepuasan ya? 

Cita-cita saya adalah ekonomi rakyat, cita-cita saya adalah keadilan sosial, idealisme saya adalah di negeri ini bagaimana koperasi itu jadi soko guru perekonomian. Nah, soko guru saya terjemahkan apabila koperasi sudah menjadi pelaku ekonomi dominan, maka itulah soko guru. 

Bagaimana bisa tercipta ini? Harus kita yakinkan penguasa. Keadilan sosial tidak mudah diwujudkan, harus lewat pemerintah, dalam bentuk kebijakan, dalam bentuk konsepsi untuk menciptakan kedaulatan bagi seluruh negeri.