Andi Arief ke Bawaslu: Mirip Mandor Jaman Belanda

Jakarta, era.id - Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Arief kesal dengan Bawaslu. Bawaslu memang baru saja memutus, komentar Andi Arief soal ada dugaan pemberian mahar Rp500 miliar ke PKS dan PAN, ternyata tidak bisa dibuktikan.

Andi jadi peran sentral untuk bisa membongkar kasus ini. Semua tudingan itu berawal dari kicauannya di Twitter, 8 Agustus lalu. Selang enam hari berikutnya, kicauan Andi dilaporkan Wakil Ketua Umum LSM Federasi Indonesia Bersatu, Frits Bramy Daniel ke Bawaslu.

Dipanggil berulang kali oleh Bawaslu, Andi Arief memang tidak pernah bisa hadir. Dia ada di Lampung mengurus keluarganya yang sakit. Tapi Andi Arief menolak disebut menghindari pemeriksaan Bawaslu.

Sejatinya, dia sudah menawarkan sejumlah opsi kepada Bawaslu agar pemeriksaan bisa tetap dilanjutkan. Salah satunya dengan menggelar pemeriksaan di Bawaslu Lampung.

"Saya sempat meminta 3 opsi agar saya tetap bisa memenuhi janji saya memberi klarifikasi ke Bawaslu. Pertama, video call. Kedua, saya menulis klarifikasi yang saya tanda tangani. Ketiga, saya melakukan klarifikasi di Bawaslu Lampung," kata Andi Arief beberapa waktu lalu.

Bawaslu akhirnya melanjutkan pemeriksaan tanpa keterangan dari Andi. Padahal dari Andi lah semua masalah ini bermuara. Dan seperti banyak dugaan orang, kasus ini akhirnya diputus tanpa ada bukti hukum.

Andi Arief jadi mempertanyakan keseriusan Bawaslu. Padahal lembaga itu punya dana operasional. Lagipula, apa salahnya mengirim perwakilan atau bahkan salah satu komisionernya terbang ke Lampung untuk wawancara dengan Andi Arief.

"Kalau Bawaslu serius dan gak pemalas harusnta utus saja komisionernya dua atau tiga orang ke lampung," tulis Andi Arief di akun twitternya.

"Kalau jadi komisioner cuma duduk di belakang meja itu sih bukan pengawas namanya, tapi mirip mandor jaman belanda. Untuk Apa bawaslu dibiayai mahal oleh negara kalau soal jarak saja gak bisa mereka pecahkan. Jakarta lamoung kan hanya urusan 1 jam via pesawat," ketus Andi.

 

Tag: mahar politik prabowo-sandiaga