Pisau Bermata Dua Jurnalisme Warga di Media Sosial

ERA.id - Kasus mafia pajak, dugaan pencucian uang ratusan triliun rupiah, hingga buka-bukaan gaya hidup hedon keluarga pejabat yang mencuat tahun ini, mula-mula semuanya dibongkar bukan oleh media yang sudah berdiri puluhan tahun macam Tempo atau Kompas, tapi dari keributan warganet di media sosial terhadap penganiayaan keji oleh seorang anak pejabat pajak.

***

Setelah lebih dari 20 tahun bekerja jadi wartawan, Rusdi Mathari mencapai pencerahan bahwa “jurnalisme bukan monopoli wartawan”; sebuah kredo yang ia bawa sampai mati. Baginya, ketika banyak pemilik modal cawe-cawe menyetir berita, media-media alternatif mampu memenuhi peran yang ditinggalkan pers sebagai corong kepentingan masyarakat.

Media alternatif punya sumbangsih besar terhadap apa yang kita sebut jurnalisme warga, yaitu ketika warga yang bukan wartawan profesional ikut berperan aktif mengumpulkan dan melaporkan berita. Seperti yang dilakukan blogger Mesir Wael Abbas yang mulai merilis blognya, Egyptian Awereness pada 2004 dan menulis berita-berita yang dihindari media mainstream saat itu, mulai dari brutalitas polisi, korupsi, hingga protes terhadap pemerintah.

Gara-gara tulisannya, ia diganjar Knight International Journalism Award dan jadi blogger pertama yang dapat penghargaan tertinggi dari International Center for Journalist (ICFJ) itu pada 2007. Mungkin baru sejak saat itu juga media-media alternatif dianggap bagian yang tak terpisahkan dari jurnalisme setelah sebelumnya dipandang sebelah mata.

Hari ini, blog pribadi mungkin tak lagi seksi, semuanya beralih ke media sosial macam Twitter. Di sana orang-orang bebas berpendapat, berbagi informasi, hingga menyampah apa saja. Platform itu bahkan sudah menjelma salah satu rujukan utama wartawan-wartawan mengulik berita dan kerap jadi sumber informasi pertama.

Misalnya saja, suatu malam saya pernah kejebak macet berjam-jam di jalan tol dari arah Cawang ke Cibubur. Berjam-jam itu juga saya cari tahu ada apa gerangan lewat kanal-kanal berita di internet. Hasilnya nihil. Radio Elshinta yang jadi andalan saya juga tak mengabarkan apa-apa.

Saya baru menemukan jawabannya saat membuka Twitter dan mengetik kata kunci: tol Cibubur macet. Ratusan pengendara sial yang bernasib serupa membagikan ceritanya. Ternyata pintu keluar tol Cibubur ditutup warga setempat gara-gara uang pembebasan lahan belum dibayar. Sejak saat itu saya sering mengecek perbincangan warga Twitter sebelum pulang kantor untuk menghindari jalan yang macet.

Dilihat dari contoh barusan, selain jadi sumber informasi, Twitter juga jadi media penyalur segala unek-unek masyarakat: entah itu yang kejebak macet; yang kejebak hubungan toxic; yang patah hati; atau yang merasa jadi korban siapa pun. Apalagi di internet orang-orang bisa berlindung di balik anonimitas, sehingga mereka bisa merasa aman untuk menyuarakan apa saja.

Makin ke sini, lambat laun orang-orang rasanya tak lagi berharap keajaiban kepada Tuhan, melainkan Twitter. Kalimat “Twitter do your magic” betul-betul jadi sebait doa yang sering dipanjatkan orang, tak terbatas agama atau keyakinan. Seakan-akan semua problematika hidup bisa kelar selama jadi viral. 

Jurnalisme warga ala netizen di media sosial memang terkadang bisa membuka kotak pandora seperti borok orang-orang pajak kemarin. Namun, bukan berarti praktek begitu tanpa cela sama sekali. Karena media sosial bebas digunakan siapa saja, wajar kalau akhirnya banyak juga yang menyalahgunakannya.

Ketika gosip tak lagi monopoli artis

Seperti halnya jurnalisme bukan monopoli wartawan, gosip juga tak lagi dimonopoli artis sejak era media sosial datang. Memang sih porsi pemberitaan artis masih jadi hidangan utama media, tetapi hari ini berbagai skandal orang-orang biasa juga bisa dinikmati ramai-ramai.

Kemarin misalnya, sebuah video amatir menunjukkan seorang perempuan yang kepergok selingkuh di kamar kos oleh tunangannya. “Padahal udah tunangan, alhamdulillah Ya Allah bisa ketahuan sebelum nikah,” tulis keterangan dalam video yang sudah ditonton ratusan ribu orang itu.

Perihal selingkuh dan skandal percintaan lain sebenarnya bukan hal baru. Praktek seks komersial saja sudah ada sejak zaman Yunani kuno, maka patut diduga kalau perselingkuhan sudah dipraktekkan jauh lebih lama lagi. Masalahnya, dulu perkara begituan paling-paling hanya berujung jadi buah bibir, gosip antar tetangga, atau legenda urban masyarakat.

Namun, sejak ada media sosial, masalah privat bisa jadi tontonan nasional dan tersebar dari ujung timur ke barat. Siapa coba di sini yang belum pernah dengar kasus menantu selingkuh dengan mertuanya kemarin? Nyaris semua netizen Indonesia tahu. Kita boleh sepakat kalau perbuatan tadi ngawur, tapi kita masih bisa berdebat soal apakah segala sesuatu harus di-spill di media sosial? Kami rasa tidak.

Okelah kalau menyangkut hajat hidup orang banyak, kepentingan umum, atau masalah pidana seperti penipuan, pelecehan, dsb. Namun, buat masalah pribadi yang harusnya bisa diselesaikan dengan senyap tanpa gembar-gembor di media sosial, spill di Twitter harusnya bukan dijadikan opsi pertama dan satu-satunya. Mengapa?

Alasannya, pertama, itu tak jauh beda dengan gosip artis yang sesungguhnya tak berdampak apa pun dalam hidup kita. Jujur saja, kita hanya senang membacanya entah untuk menertawakan hidup orang atau mensyukuri hidup sendiri.

Kedua, sering kali praktek spill masalah privat seperti diselingkuhi dsb berdasarkan kekecewaan dan niat balas dendam korban. Dua hal yang tak pernah berakhir baik dan mengaburkan objektivitas kita. Akhirnya, persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan secara efisien dan kekeluargaan malah berlarut-larut jadi tontonan orang.

Ketiga, bukan tidak mungkin orang-orang yang tak bersalah justru ikut terbawa drama tadi. Bukan rahasia umum kalau kemampuan mengulik dosa milik netizen Indonesia melebihi intel mana pun. Ketika masalah perselingkuhan yang menyangkut dua-tiga orang diviralkan, keluarga mereka yang tak tahu-menahu bisa ikut kena getahnya dan di-doxing netizen.

Terakhir, apa yang tersebar di media sosial tak bisa ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran. Perlu ada proses verifikasi dan klarifikasi. 2019 silam pernah viral kasus seorang pelajar yang mengaku dirundung dan dianiaya keji: rambutnya dijambak hingga tersungkur, perutnya diinjak, lalu kepalanya dibenturkan ke aspal. 

Poster #JusticeForAudrey yang sempat ramai di Twitter pada 2019. (Istimewa)

Tagar #JusticeForAudrey jadi ramai di Twitter dan netizen menuntut polisi usut tuntas. Setelah korban divisum, ternyata hasilnya bertolak belakang dengan pengakuannya. Ia dinyatakan sehat walafiat, tak ada tanda-tanda penganiayaan. Banyak yang kena prank dan malu-malu menghapus poster dukungan untuk Audrey yang kadung disebar.

Di sinilah seharusnya peran wartawan bermain. Pers bukan sekadar alat amplifikasi isu di media sosial dan tugas wartawan bukan cuma copy paste apa yang viral di sana. Ketika ada seseorang bilang di luar hujan dan orang lain bilang langit sedang cerah, tugas wartawan bukan mengadu omongan mereka, tapi pergi keluar dan memastikan sendiri kebenarannya.