Peringati 150 Tahun Penghapusan Perbudakan, Raja Belanda Minta Maaf di Depan Ribuan Keturunan Budak

ERA.id - Raja Belanda Willem-Alexander menyatakan permintaan maaf kerajaan pada Sabtu (1/7/2023) atas keterlibatan Belanda dalam perbudakan saat acara Keti Koti untuk memperingati 150 tahun penghapusan perbudakan di bekas jajahan Belanda.

Pidatonya di hadapan ribuan keturunan budak dari negara Suriname di Amerika Selatan dan kepulauan Karibia Aruba, Bonaire, dan Curacao mendapat sambutan positif, tetapi banyak yang mengatakan mereka ingin Belanda membayar kompensasi.

"Hari ini saya berdiri di sini di depan Anda sebagai raja dan sebagai bagian dari pemerintah. Hari ini saya secara pribadi meminta maaf," kata Willem-Alexander disambut sorakan keras seperti dilansir dari CNA.

"Saya bersungguh-sungguh dengan hati dan jiwa saya," lanjutnya.

Acara Keti Koti yang berarti 'memutus rantai' dalam bahasa Suriname diadakan di bawah gerimis ringan di kebun Oosterpark ibu kota. Banyak peserta mengenakan pakaian warna-warni Suriname.

Sebelumnya, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte telah secara resmi meminta maaf pada bulan Desember atas nama pemerintah.

"Perdagangan budak dan perbudakan diakui sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan," ucap Raja Belanda dalam pidatonya yang disiarkan langsung. "Hari ini, saya meminta maaf atas kurangnya tindakan".

Sebuah studi yang dirilis pada bulan Juni mengemukakan bahwa keluarga kerajaan memperoleh 545 juta euro (sekitar Rp9 triliun) antara tahun 1675 dan 1770 dari koloni mereka.

Nenek moyang raja saat ini, Willem III, Willem IV, dan Willem V, termasuk di antara penghasil terbesar dari apa yang disebut laporan Belanda sebagai "keterlibatan negara yang disengaja, struktural, dan jangka panjang" dalam perbudakan.