Anak 7 Tahun yang Diduga Jadi Korban Malpraktik di RS Bekasi Meninggal Dunia

ERA.id - Seorang anak berinisial BAD (7) atau akrab dipanggil A yang didiagnosis mati batang otak dan diduga menjadi korban malpraktik di salah satu rumah sakit (RS) di Kota Bekasi, Jawa Barat, telah meninggal dunia.

"Betul, anak saya sudah meninggal dunia," kata ayah A, Albert Francis kepada wartawan dikutip Selasa (3/10/2023). Albert menambahkan anaknya meninggal pada Senin (1/10) kemarin pukul 18.45 WIB.

Sebelumnya, keluarga melapor ke Polda Metro Jaya setelah anaknya, A diduga menjadi korban malpraktik di sebuah RS di kawasan Kota Bekasi.

"Anak ini ada yang mengalami yang kami duga gagal penindakan yang bisa kita anggap itu malpraktik ataupun kelalaian ataupun kealpaan," kata pengacara keluarga, Cahaya Christmanto Anak Ampun di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (2/10).

Laporan itu teregister dengan nomor LP/B/5814/IX/2023/SPKT POLDA METRO JAYA tertanggal 29 September 2023. Ada delapan orang yang dilaporkan, yakni dr RR, dr L, dr Z, dr WT, dr RI, dr K, dr D (Direktur RS), dan dr F (Manajer Operasional RS).

Terlapor dipersangkakan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 Ayat (I) Juncto Pasal 8 Ayat (1) dan atau Pasal 360 KUHP dam atau Pasal 361 KUHP dan atau Pasal 438 dan atau Pasal 440 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Christmanto menjelaskan, awal mula kejadian tersebut terjadi pada saat operasi amandel dilakukan pada Selasa (19/9). Saat itu korban BAD dan kakaknya berinisial J (10) secara bersama-sama menjalani operasi amandel bersama di rumah sakit tersebut. Untuk korban A menjalani operasi terlebih dahulu. Akan tetapi, korban tak kunjung sadar setelah operasi tersebut.

Orang tua korban terus menunggu anaknya pulih, namun berjalan 13 hari lamanya sejak operasi dilakukan korban masih terkulai lemas. Akhirnya, pihak dokter mendiagnosis A telah mengalami kondisi mati batang otak.

"Nah setelah itu kami tunggu-tunggu, lalu di hari setelah hari tiga itu, dokter RS mengatakan bahwa anak ini sudah mengalami mati batang otak," katanya.

"Situasi anak pun enggak bisa ditinggal karena semakin hari kondisinya semakin kritis. Kedua nafasnya sekarang tinggal satu. Bisanya cuma membuang doang, kalau menghirup dibantu tenaga mesin," tambahnya.