Whoosh! Sensasi Melaju dengan Kecepatan 350 Km/Jam di Darat dengan KCJB

ERA.id - Bagaimana rasanya melaju dengan kecepatan 350 km/jam di darat tanpa memikirkan tilang atau lampu merah sepanjang jalan? Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang baru diresmikan dengan nama Whoosh menawarkan jasa itu dan kami berkesempatan menjajal moda transportasi darat tercepat di Indonesia tersebut. Begini cerita pengalaman pertama kami naik kereta cepat Jakarta-Bandung.

Awalnya, kami dijadwalkan berangkat pada Selasa pagi tanggal 26 September bersama rekan-rekan media lain. Namun, jadwal diundur beberapa kali dan akhirnya kami baru bisa berangkat pada Kamis (28/9/2023) pagi, bertepatan dengan libur Maulid Nabi. Hari itu, kami sampai di kantor lebih cepat dari waktu apel pagi sekuriti, kurang dari pukul 7 dan lampu-lampu masih mati.

Dari kantor ERA di Tanah Abang, kami memesan taksi online menuju stasiun LRT terdekat di Dukuh Atas. Setidaknya ada tiga opsi transportasi umum menuju stasiun kereta cepat di Halim bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Pertama, seperti yang kami coba, menggunakan LRT yang terintegrasi langsung dengan Stasiun Halim. Kedua, naik Bus Rapid Transit (BRT), bus non-BRT, dan shuttle bus yang tersambung dengan Stasiun Halim. Namun, opsi ini sekarang belum tersedia. Terakhir, taksi online.

Rute LRT menuju stasiun kereta cepat di Halim. (ERA/Luthfia Arifah Ziyad)

Perjalanan dari Dukuh Atas ke Stasiun Halim memakan waktu sekitar 20 menit. Kami sampai di sana pukul 8, sejam sebelum jadwal keberangkatan kereta cepat menuju stasiun akhir Tegalluar. Yang kami rasakan pertama kali sesampainya di lorong stasiun kereta cepat adalah: Gerah. Tak lain karena AC-nya masih mati. 

Beberapa fasilitas seperti eskalator juga belum beroperasi dan masih dalam tahap pembangunan. Papan-papan kuning bertuliskan under maintenance berdiri di sana-sini. Namun, suasananya sudah terasa berbeda dibanding stasiun LRT. Stasiun kereta cepat kesannya seperti di bandara, tempat transit para elite.

Dinding kaca lebar di satu sisi memperlihatkan tiang-tiang beton menopang jalur kereta cepat yang bakal kami lalui. Hari itu, ramai orang-orang yang ingin mencoba kereta cepat bersama kami, maklum tanggal merah. Di eskalator menuju peron, para penumpang bertumpuk dan tiap anak tangga terisi. Sebagian yang tak sabar menumpang kereta cepat atau ingin membakar kalori memadati tangga manual yang diapit eskalator kanan-kiri.

Melihat antusiasme orang-orang, jujur kami juga segera ingin duduk di gerbong kereta cepat. Sebelumnya, tiap ke Bandung, paling mewah kami duduk di kursi bisnis Kereta Argo Parahyangan seharga Rp100 ribuan dan menempuh waktu sekitar tiga jam. Pilihan yang agak murah  paling-paling naik bus Primajasa dan merogoh kocek Rp60-80 ribu. Lebih mahal lagi, ada banyak travel trayek Jakarta-Bandung yang menawarkan harga Rp150 ribuan. 

Sayangnya, selain kereta, jalur darat lain rawan bertemu macet, apalagi setelah Jumat berganti malam dan pekerja ibu kota memilih pulang kampung atau berlibur ke Bandung. Maka, bagi kami yang lumayan sering pulang-pergi Jakarta-Bandung, kehadiran kereta cepat terasa cukup berarti. Namun, dengan harga Rp250-300 ribu, apakah itu sepadan?

Naik kereta cepat whoosh whoosh whoosh

Di peron keberangkatan, kami akhirnya berjumpa dengan satu rangkaian kereta cepat delapan gerbong berwarna merah-putih. Kepalanya meruncing seperti moncong pesawat, dan dari sekilas pandang saja kami merasa itu akan berlari begitu cepat. Klaimnya: 350 km/jam! Lebih ngebut daripada yang ada di Prancis atau Jepang.

Penampakan Whoosh kereta cepat Jakarta-Bandung. (ERA/Muslikhul Afif)

Delapan gerbong kereta cepat Jakarta-Bandung bisa menampung hingga 601 orang dan dibagi ke tiga kelas: Second class, first class, dan VIP. Kami mencoba kelas yang paling bawah. Kalau terbukti nyaman, dua di atasnya tak perlu ditanya lagi. Jam sembilan tepat, kami berangkat.

Pertama kali menginjakkan kaki dalam gerbong, rasanya kami seperti orang kota yang baru sekali-kalinya melihat sawah. Menyaksikan pintu antar gerbong yang terbuka otomatis seperti di mall sudah membuat kami kegirangan. Belum lagi melihat nomor kursi yang berbentuk digital. Memang, dibandingkan kereta biasa, yang satu ini kentara lebih berkelas. 

Kursi di setiap gerbong terbagi lima baris: Sepasang di sisi kiri; tiga di kanan; dan keduanya dipisahkan jalan untuk berlalu-lalang. Warnanya terbagi jadi dua: Biru kalem dan abu-abu muda yang serasi. Semuanya dibalut kain bermotif Megamendung. Di setiap kursi tersedia stop kontak dan lubang USB untuk mengisi daya baterai ponsel atau laptop penumpang. Sandarannya juga bisa direbahkan hingga sekitar 135 derajat.

Meski kursi terasa agak rendah bagi kami dan bantalannya kurang empuk, ini masih cukup nyaman untuk perjalanan berdurasi singkat. Ruang kaki antar kursi lumayan lega dan masih disediakan meja lipat seumpama ada yang mau nyambi mengetik. Sayangnya, suhu AC hanya terasa sejuk semilir dan belum cukup dingin di kulit kami.

Penampakan gerbong kereta cepat. (ERA/Muslikhul Afif)

Sejatinya, pemberhentian pertama dari Stasiun Halim berada di Karawang. Namun, waktu kami mencobanya kemarin, Stasiun Karawang masih dibangun dan kereta melewatinya tanpa berhenti. Whoosh langsung menuju ke Stasiun Padalarang dan berhenti di sana setelah melaju selama setengah jam. 

Bagi penumpang yang ingin pergi ke Bandung, mereka bisa turun di Padalarang dan berganti menumpang feeder kereta yang menuju Cimahi dan Kota Bandung. Namun, lagi-lagi, kereta penghubung itu belum kelar digarap. Jadinya kami hanya bisa mengira-ngira berapa waktu yang dibutuhkan dari Padalarang ke Bandung tanpa sempat mencobanya.

Dari Padalarang, kereta segera melesat ke stasiun terakhir: Tegalluar. Total waktu yang kami habiskan dari Stasiun Halim ke Stasiun Tegalluar kurang lebih 45 menit. Jika kita menonton dokumenter kasus kopi Sianida yang baru tayang di Netflix sepanjang perjalanan, kita cuma menghabiskan sepertiga film sebelum turun di stasiun terakhir. 

Para penumpang turun dengan wajah puas. Kebanyakan yang kami wawancarai mengaku suka dengan kereta cepat ini dan merasa sepadan dengan harga yang harus ditebus. Kami juga termasuk, tapi dengan dua catatan. Pertama, feeder atau kereta penghubung dari Stasiun Padalarang ke Kota Bandung juga tidak boleh lamban. Percuma jika kita cepat sampai ke Padalarang, tapi harus memakan waktu lama ke Bandung.

Kedua, alangkah baiknya jika jadwal kereta dibuat lebih banyak lagi. Karena waktu percobaan kemarin, ia hanya melayani tiga jadwal keberangkatan: Pagi, siang, dan sore. Padahal, banyak pekerja Jakarta yang pulang ke Bandung di malam Sabtu selepas kerja. Jika kereta cepat melayani jadwal tersebut, itu bakal jadi opsi yang menarik karena orang-orang bisa menghindari kemacetan jahanam sepanjang tol.

Beban yang ditanggung kereta cepat

Tadi sudah kami ceritakan pengalaman pertama kami naik kereta cepat Jakarta-Bandung (meski baru sampai Padalarang). Sekarang, kita juga harus tahu ongkos yang harus dibayar Indonesia demi membangun kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini. 

Sebelum ada nama Whoosh, kereta itu lebih terkenal dengan sebutan Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Presiden Joko Widodo menandatangani kerja sama pembangunan proyek ini bersama Presiden Xi Jinping pada 2016 lalu. 

Kesepakatannya, 75 persen pembiayaan kereta cepat berasal dari pinjaman pemerintah Indonesia ke China Developement Bank (CDB), sedangkan sisanya ditanggung konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan China.

Penampakan Stasiun Halim. (ERA/Muslikhul Afif)

Berapa perkiraan biaya awal pembangunan kereta cepat? Sekitar Rp86 triliun. Namun, sebagaimana banyak proyek lain, biaya itu membengkak. Pada Februari kemarin, kedua negara sepakat besaran pembengkakan biaya senilai Rp18,2 triliun. Walhasil, pemerintah harus menambah pinjaman lagi ke China. Dari sini, banyak yang menganggap pemerintah sudah terperangkap jebakan utang China. 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa China hanya mau menurunkan bunga utang menjadi 3,4% dari total pinjaman tambahan sebesar Rp8,3 triliun. Hingga hari ini, pemerintah masih menego bunga itu agar bisa lebih turun lagi.

Persoalan selanjutnya, masalah pembiayaan kereta cepat menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antara Jakarta dan Bandung, disebutkan secara tegas bahwa pendanaan proyek ini tidak menggunakan beban APBN. 

Namun, aturan tersebut direvisi lewat Perpres Nomor 93 Tahun 2021 yang menyebutkan bahwa pendanaan dapat berupa pembiayaan dari APBN. Karena itulah Jokowi dianggap ingkar janji.

Lantas, bagaimana kelanjutan nasib kereta cepat? Akankah ia membawa kita melesat menuju Indonesia emas yang digadang-gadang terwujud pada 2045 nanti? Atau malah ia bakal terus membebani ekonomi kita selama bertahun-tahun? Waktu yang akan menjawabnya.

>