AS Minta Bahan Bakar Masuk ke Jalur Gaza, Israel Malah Tuduh Hamas Lakukan Sabotase

ERA.id - Pasukan militer Israel ketar-ketir setelah Amerika Serikat meminta pasokan bahan bakar bisa masuk ke Jalur Gaza. Israel bahkan menuding Hamas memiliki pasokan bahan bakar yang cukup. 

Juru bicara militer Israel Daniel Hagari menuduh Hamas mencuri bensin dari UNRWA.

“Bensin tidak akan masuk ke Gaza. Hamas menggunakan bahan bakar untuk infrastruktur militernya,” kata Hagari, dikutip Al Arabiya, Kamis (26/10/2023).

UNRWA, sebelumnya mengunggah peringatannya di media sosial pada hari Selasa. Pasukan Pertahanan Israel mem-posting ulang dan mengatakan bahwa militan Hamas memiliki lebih dari 500.000 liter bahan bakar dalam tangki di dalam Gaza yang terkepung.

“Tanyakan pada Hamas apakah Anda bisa mendapatkannya,” tulis IDF.

Tuduhan Israel terkait bahan bakar yang disabotase oleh Hamas ini mengacu pada permintaan Amerika Serikat dan PBB. Amerika Serikat memimpin negosiasi dengan Israel, Mesir dan PBB untuk mencoba menciptakan mekanisme pengiriman bantuan yang berkelanjutan ke Gaza. 

Mereka berselisih mengenai prosedur pemeriksaan bantuan dan pemboman di sisi perbatasan Gaza. Gedung Putih menilai seharusnya pasokan bantuan bahan bakar bisa diizinkan masuk ke wilayah Gaza untuk digunakan sejumlah rumah sakit yang merawat korban. 

“Kendaraan pengangkut bahan bakar seharusnya diizinkan masuk Jalur Gaza yang tengah terkepung kendali Israel menolak keras pengiriman bantuan semacam ini,” kata juru bicara Gedung Putih, John Kirby. 

"Bahan bakar adalah komoditas penting bagi kehidupan dan keberlanjutan Gaza bagi penduduk Palestina yang berada di sana,” tegas Kirby. 

Lalu, kata Kirby, pihak AS menyadari pentingnya bahan bakar untuk membangkitkan generator di rumah sakit-rumah sakit Gaza. Bahan bakar juga ajan digunakan untuk menjalankan pompa desalinasi sehingga penduduk bisa mendapatkan air bersih. 

Meski demikian, pihak AS memahami kekhawatiran Israel atas pengiriman bantuan bahan bakar tersebut. AS memahami Israel takut pihak Hamas melakukan sabotase kiriman tersebut yang seharusnya dipakai rumah sakit.  

"Tentu saja kami memahami kekhawatiran Israel mengenai kemungkinan Hamas mencuri bahan bakar itu dan menggunakannya untuk  kepentingan mereka sendiri, sehingga tak boleh digunakan di rumah sakit-rumah sakit dan mesin-mesin desalinasi. Kami memahami semua itu kekhawatiran yang masuk akal, tak perlu dipertanyakan lagi," jelas Kirby.

Meskipun ada kekhawatiran semacam itu, Kirby menyatakan bahan bakar "harus dapat" mencapai warga Palestina di Gaza.

Ada cukup persediaan bahan bakar yang menunggu diangkut ke dalam truk dan dikirim ke Gaza melalui perbatasan Rafah-Mesir.

Pejabat senior bantuan PBB Lynn Hastings mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa PBB memiliki 400.000 liter truk di Mesir yang siap dikirim dan akan menyediakan bahan bakar untuk sekitar 2-1/2 hari.

Rafah merupakan perlintasan utama masuk dan keluar Gaza yang tidak berbatasan dengan Israel. Daerah tersebut menjadi fokus upaya penyaluran bantuan sejak Israel memberlakukan “pengepungan total” terhadap wilayah kantong tersebut sebagai pembalasan atas serangan militan Hamas pada 7 Oktober.

Israel tanpa jeda terus membombardir Jalur Gaza setelah serangan mendadak Hamas di dalam wilayah  Israel pada 7 Oktober yang menewaskan 1.400 warga Israel.  Sebaliknya 5.800 warga Palestina di Gaza tewas akibat serangan balasan Israel.

Selain terus membombardir Gaza, Israel memerintahkan Gaza dikepul total, memutus listrik, bahan bakar, air dan makanan masuk Gaza.

Pengiriman bantuan pertama sejak Israel memblokade total Jalur Gaza, sudah tiba di lokasi pada Sabtu ketika konvoi truk bantuan kedua dan ketiga masuk pada Minggu dan Senin.

Rangkaian pengiriman 54 truk bantuan termasuk dari Mesir melalui pintu lintas batas Rafah yang menjadi satu-satunya jalur menuju Gaza yang tidak dikuasai Israel.