Netanyahu Ogah Turuti Perintah Joe Biden, Sebut Tetap Akan Serang Rafah Lewat Jalur Darat

ERA.id - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak permohonan Joe Biden untuk membatalkan rencana serangan darat ke Rafah. Netanyahu menyebut tidak ada cara lain selain turun ke lapangan untuk memusnahkan Hamas.

Netanyahu mengatakan kepada anggota parlemen pada hari Selasa (19/3/2024) bahwa dia dengan tegas menolak permintaan presiden AS untuk tidak melakukan serangan darat ke Rafah.

"Kami bertekad untuk menyelesaikan pemusnahan batalion-batalion ini di Rafah, dan tidak ada cara untuk melakukan itu kecuali dengan turun ke lapangan," kata Netanyahu, dikutip Reuters, Rabu (20/3/2024).

Rafah sejauh ini menjadi tempat perlindungan terakhir di Gaza bagi lebih dari satu juta pengungsi. Namun Israel meyakini kelompok militan Hamas bersembunyi di Rafah.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan Washington percaya bahwa penyerbuan Rafah akan menjadi sebuah “kesalahan” dan bahwa Israel dapat mencapai tujuan militernya dengan cara lain.

"Anarki merajalela di wilayah yang telah dibersihkan oleh militer Israel, tetapi belum distabilkan” di Gaza dan krisis kemanusiaan akan semakin parah jika Israel terus melanjutkan serangan di Rafah," kata Sullivan mengacu pada pernyataan Biden.

"Kami telah melakukan banyak diskusi di berbagai tingkatan antara militer, intelijen, diplomat, atau pakar kemanusiaan, namun kami belum memiliki kesempatan untuk melakukan diskusi strategis yang komprehensif, terintegrasi," sambungnya.

Lalu, kata Sullivan, para pejabat AS dan Israel kemungkinan akan bertemu awal pekan depan di Washington untuk membahas operasi militer Israel di Rafah.

Juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan Biden sudah meminta Netanyahu untuk mengirimkan tim senior yang terdiri dari pejabat militer, intelijen, dan kemanusiaan ke Washington untuk diskusi komprehensif dalam beberapa hari mendatang.

Menurut catatan kementerian kesehatan Palestina, hampir 32.000 orang tewas dalam serangan balasan Israel sejak 7 Oktober 2023. Warga Palestina yang sampai saat ini masih diselimuti dengan kekhawatiran serangan juga dilanda kelaparan.