Era Ponsel Layar Lipat Segera Dimulai

Jakarta, era.id - Era telepon lipat telah resmi dimulai. Samsung menjadi perusahaan pertama yang memperkenalkan kepada dunia ponsel lipat pintar pertama. Sebuah perangkat yang disebut-sebut sebagai Galaxy X atau Galaxy F, dan konon akan dirilis awal tahun depan.

Meskipun Samsung tidak pernah menampilkan ponsel yang dapat dilipat ini dari dekat, namun menurut cnet.com, perangkat ini nyata. Ponsel ini memungkinkan dibuat konsepnya untuk mendapatkan dukungan perangkat lunak Google.

Bahkan, proyek Samsung tampak telah memacu dukungan resmi dari Android untuk semua ponsel yang dapat dilipat tersebut. Samsung sempat membocorkan beberapa rincian soal ponsel lipat ini pada pertemuan Konferensi Pengembang 7 November lalu, misalnya bocoran soal ukuran layar ponsel yang katanya sebesar 4,5 dan 7,3 inci.

Berdasarkan informasi yang beredar tentang ponsel lipat ini lebih banyak menimbulkan pertanyaan daripada jawaban. Inilah beberapa informasi yang sudah terungkap dan yang masih menjadi pertanyaan banyak orang.

 

Bagi para produsen smartphone seperti Samsung, LG, dan Huawei dinilai tidak dapat membuat ponsel Android yang dapat dilipat tanpa dukungan Google. Sebelum Samsung membuka ponsel lipatnya, Google mengumumkan dukungannya sendiri terhadap pengembangan ponsel lipat.

Tujuannya agar aplikasi dapat bekerja dengan lancar pada saat beralih dari layar eksterior ke satu layar penuh ketika sebuah ponsel lipat dibentangkan, dari satu panel ke beberapa bagian layar yang aktif sekaligus.

Perkembangan ini bisa sekaligus menjawab kebutuhan manusia akan komputer portabel yang powerful namun tetap membuat perangkat tersebut tidak menjadi terlalu besar dan berat untuk dibawa kemana-mana. Konfigurasi ponsel lipat memungkinkan untuk membawa perubahan drastis dalam dunia perangkat digital kedepannya.

Membuat dua layar yang dapat dilipat satu sama lain itu lebih mudah dicuapkan daripada dilakukan. Sebelumnya Samsung dan LG pernah membuat layar melengkung pada tahun 2013 dan 2014, namun masing-masing dari ciptaan tersebut tidak sampai dapat terlipat.  

Membuat perangkat ponsel yang dapat dilipat merupakan tantangan dalam skala yang jauh lebih besar. Mulai dari mengubah baterai dan komponen kaku, pasalnya apabila layar akan dilipat namun dengan rancangan baterai yang bergeser ke satu sisi dapat membuat ponsel terasa tidaak seimbang.

Selain itu, layar fleksibel yang telah digunakan selama bertahun-tahun, tetapi menggunakan kaca tipis dapat membuat layar lebih mudah pecah, apalagi ketika sudah ditekuk ratusan ribu kali dalam dalam seumur hidup perangkat.

 

Produsen Royole telah memecahkan masalah fleksibilitas layar dengan berbahan plastik, untuk menutupi layar OLED. Plastik bukanlah bahan yang populer saat ini, terutama ketika dihadapkan pada pertimbangan label harga mulai dari 1.588 dolar AS (Rp22.969.546 kurs rupiah 14.464 per 1 dolar).

Sementara itu, untuk baterainya, Royole meletakkan baterai di sisi kanan, dan mengatakan itu dapat menyeimbangkan bagian kiri dengan komponen lainnya. Sementara sebuah engsel karet mengontrol fleksibilitas bagian belakang perangkat. 

Dari ponsel lipat ini ada dua keunggulan utama. Pertama, ponsel ini dapat melipatgandakan ruang layar yang ada. Misalnya model Samsung yang memiliki layar 4,5 inci akan bertambah besar ketika membuka lipatan ponsel tersebut menjadi sebesar 7,3 inci. 

Layar yang lebih besar memberi pengalaman kepada pengguna untuk merasakan permukaan perangkat dengan tampilan yang lebih luas, sehingga dapat memungkinkan untuk pengguna melakukan multitasking dalam tiga area sekaligus. Pada perangkat ZTE Axon M memungkinkan penggunaan seluruh layar untuk satu aplikasi, memuat aplikasi terpisah di setiap layar, atau mencerminkan aplikasi yang sama di kedua layar.

Dalam hal layar, Samsung telah membuat rancangan layar terbaru untuk ponsel yang bisa dilipat itu, yang diberi nama Infinity Flex Display. Perusahaan mengatakan bahwa mereka harus memodifikasi layar lapisan biasa yang merupakan bagian dari semua tampilan. Semua layar terbuat dari lapisan, tetapi biasanya ditumpuk dan tidak bergerak.

Selain itu juga Samsung mengatakan bahwa mereka wajib merancang layar Infinity Flex lebih tipis daripada model layar biasanya. Yakni dengan memotong ketebalan lapisan polarizer, yang membantu membuat layar terbaca, sebesar 45 persen.

Kapan Samsung akan menjual perangkat ponsel lipat? 

Samsung mengatakan bahwa mereka akan mulai memproduksi ponsel lipatnya secara massal dalam bulan-bulan mendatang. Kemungkinan ponsel ini akan mulai dijual pada tahun 2019, dan rumor terbaru menyebutkan rilis tersebut akan terlaksana pada bulan Maret. Namun sekali lagi ini hanya perkiraan.

Sedangkan untuk harganya, jika menebak berdasarkan ponsel serupa yang telah dirilis lebih dahulu oleh Royole, mereka mematok harga 1.318 dolar AS atau jika dirupiahkan sebesar Rp 1.9071.460, sementara untuk perangkat dengan RAM 6 GB dan 128 GB penyimpanan internal. Sementara versi RAM 8 GB dan penyimpanan 256 GB dipatok 1.469 dolar AS atau jika dirupiahkan Rp 21.256.430. 

Maka menurut prediksi cnet, harga yang akan dipatok berada pada kisaran 1.500 dolar AS atau jika dirupiahkan menjadi sebesar Rp 21.705.000. 

Tag: samsung