Setelah Golkar Berpaling Lagi ke Dedi

This browser does not support the video element.

Jakarta, era.id - Kepemimpinan Airlangga Hartanto di Partai Golkar membawa angin segar bagi Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Setelah berjibaku dengan jalan yang terjal, DPP Partai Golkar akhirnya mengusung Dedi di Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 mendatang.

Dedi memang telah lama menginginkan menjadi bakal calon gubernur yang diusung partainya. Namun, langkahnya sempat terganjal lantaran Golkar memberikan surat rekomendasi dukungan kepada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk maju dalam Pemilihan Kepala Daerah 2018.

Setya Novanto yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar berharap besar kepada Ridwan Kamil untuk maju dalam pemilihan gubernur Jabar 2018. Alasannya, sosok yang akrab disapa Kang Emil itu dicintai masyarakat Jawa Barat karena dianggap berprestasi memimpin Bandung.

Meski saat pemberian Surat Keterangan (SK) dukungan resmi Dedi tidak hadir, Kamis (9/11), Dedi mengaku toleran. Dia memahami keputusan DPP Golkar dan bersikap profesional, kembali menjalankan tugasnya sebagai kader partai. 

Namun, setelah Novanto lengser, keadaan berpihak kepada Dedi. Era kepemimpinan baru Golkar resmi mencabut dukungan terhadap Kang Emil karena dinilai lamban dalam menentukan siapa yang akan menjadi wakilnya dalam Pilkada 2018.

Keputusan mendorong Dedi sebagai cagub Jabar 2018 diambil pada rapat evaluasi terakhir Golkar terkait Pilkada pada Kamis (21/12), di DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, Partai Golkar mengambil langkah tepat mengganti dukungan dari Kang Emil ke Dedi Mulyadi dalam Pilgub Jabar 2018. Dedi diakui Siti bisa memaksimalkan kapasitasnya terkait tanggung jawab yang diberikan partai Golkar.

"Sebagai partai besar punya kader-kader yang oke memang sudah sepatutnya golkar mengusung kadernya sendiri," ucap Siti kepada era.id, Sabtu (23/12/2017).

Siti menyarankan Dedi untuk cepat menjalin kerjasama dengan sejumlah partai untuk membangun koalisi. Menurut Siti, koalisi dibangun untuk menyepakati soal posisi calon wagub yang ditetapkan saat maju di Pilgub Jabar.

Kandidat calon wagub, dapat diambil dari tiga partai yang telah menjalin komunikasi erat dengan Golkar terkait Pilkada 2018, yaitu PDIP, Demokrat, dan Hanura. 

"Golkar memberi waktu Dedi selama satu bulan untuk membangun koalisi dan menentukan wakil. Saya rasa dia harus cepat dan dalam jangka waktu yang diberikan (Golkar), saya rasa dia juga mumpuni untuk memenuhi persyaratan itu," lanjut Siti.

Wacana baru tentang sosok yang diusung DPP Partai Golkar kembali menyeruak akhir-akhir ini. Dedi Mulyadi-Ridwan Kamil digadang-gadang akan berpasangan dalam Pilgub Jabar 2018. Terkait hal itu, sejumlah kader arus bawah partai berlambang pohon beringin tersebut menyatakan menolak.