Menancap Layar untuk Film Lokal

Jakarta, era.id - 'Marlina' betul-betul jadi sosok 'menakutkan' di panggung Festival Film Indonesia (FFI) 2018 tempo hari. 'Si pembunuh dalam empat babak' jadi barometer penting peningkatan kualitas film nasional. Di sekeliling 'Marlina', deretan film apik juga menuai buah apresiasi yang layak sebagai sebuah karya. Mudah-mudahan, inilah awal kebangkitan film nasional.

'Marlina' memang istimewa. Mouly Surya, sang sutradara, terpilih sebagai Sutradara Terbaik. Duo dara bertalenta, Marsha Timoty dan Dea Panendra berhasil buktikan diri sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Di balik layar, Yunus Pasolang berhasil memenangi kategori Pengarah Sinematografi Terbaik.

Kolaborasinya dengan Kelvin Nugroho dan Frans XR Paat yang terpilih sebagai Penyunting Gambar Terbaik dan Pengarah Artistik Terbaik memang sukses jadi tampilan yang memukau di sepanjang film. Di aspek pemanja telinga, karya Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani juga berhasil memenangi kategori Penata Musik Terbaik, bersama Khikmawan Santosa dan Yusuf A Patawari yang gondol piala sebagai Penata Suara Terbaik.

Sebutlah 'Marlina' sebagai juara umum dengan deretan piala yang digondol dan piala untuk kategori Film Terbaik. Tapi, serius, deretan film dalam FFI 2018 kali ini enggak main-main. Selain 'Marlina', ada Aruna & Lidahnya, Kulari ke Pantai, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, hingga Love for Sale yang secara mengejutkan memunculkan nama Gading Marten sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik.

Secara umum, keragaman tema adalah hal yang paling melegakan sekaligus menyenangkan. Selain itu, kematangan penggarapan serta laju industri yang makin maju tampak begitu menjanjikan. Love for Sale jelas adalah oase dari keseragaman film cinta-cintaan garapan anak negeri. Aruna & Lidahnya tentu adalah ide segar dari kumpulan film bertema drama.

Dan 'Wiro Sableng', tentu adalah bukti bahwa secara industri, ekosistem perfilman Indonesia layak diberi tempat di dunia. Kerja sama LifeLike Pictures dengan Fox International jelas adalah sebuah kolaborasi yang menunjukkan betapa industri film nasional tengah melaju enggak main-main. Lalu, bagaimana peran bioskop-bioskop dalam negeri mendorong kemajuan industri yang kini tengah amat bergairah?

Layar untuk film lokal

Agustus lalu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf menyampaikan tekad untuk 'menasionalkan' bioskop dalam negeri dengan film-film lokal. Bukan, bukan untuk mengerdilkan film-film sineas luar negeri, tapi untuk mendorong laju industri film nasional yang memang tengah butuh perhatian lebih. Dan bioskop, tentu bagian dari ekosistem yang bertanggung jawab mendorong kemajuan itu.

Bioskop jelas adalah sebuah kekuatan yang amat besar. Jumlah penonton film di bioskop tampak mengalami peningkatan signifikan. Tahun 2015, tercatat ada 16,2 juta penonton. Tahun 2016, jumlah penonton film bioskop meningkat cukup pesat ke angka 37,2 juta. Tahun berikutnya, ada 42,7 juta penonton film bioskop yang hilir mudik studio di sepanjang tahun.

Baca Juga : Resensi The Night Comes for Us - Standar Tinggi Film Berdarah Khas Timo

“Akhir Juli 2018, jumlah penonton bioskop di Cinema 21 saja sudah mencapai 35 juta penonton. Kalau ditambah bioskop yang lain seperti dari CGV ya kira-kira mencapai 40 juta penonton per Juli kemarin," kata Triawan kepada Bisnis saat itu.

Tapi, bicara soal film lokal dan film luar negeri di layar bioskop, proporsi tentu jadi salah satu unsur yang patut disoroti. Menurut Triawan, saat ini proporsi penayangan film lokal dan film luar negeri di layar bioskop nasional adalah 40 persen (film lokal) dan 60 persen (film luar negeri). Janjinya, Bekraf akan memperbesar porsi film lokal hingga angka 50 persen di akhir tahun 2018.

Baca Juga : Resensi Buffalo Boys - Lengkap Meski Tak Sempurna

Sejauh ini sih rasanya film lokal mulai dilirik di layar-layar bioskop. Merujuk data jumlah penonton bioskop tahun 2018 yang dirilis situs filmindonesia.or.id, ada sejumlah judul film lokal yang berhasil meraih capaian menjanjikan dengan catatan jumlah penonton yang cukup 'yoi'. Film Dilan 1990 misalnya yang berhasil menarik 6.315.664 penonton ke bioskop.

Di bawah Dilan 1990, ada film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur yang mencatat jumlah penonton 3.270.468 dan masih sangat mungkin bertambah mengingat film ini masih tayang di bioskop. Di bawah 'Suzzanna', film Danur 2: Maddah berhasil menyedot 2.572.6724 penonton, disusul Si Doel The Movie dengan 1.757.6535.

Tag: film indonesia