E-sport Mau Masuk Kurikulum, Memang Kita Sudah Siap?

Jakarta, era.id - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dorong e-Sport masuk kurikulum sekolah menengah. Dalihnya e-Sport memberikan prospek yang menjanjikan di masa depan dalam prestasi dan industri olahraga. 

Menurut Nahrawi, e-Sport lebih dari sekadar permainan. Sebab, e-Sport mengandung nilai-nilai sportivitas, azas saling menghargai, dan membangun semangat kerja sama.

Namun pertanyaannya apakah Indonesia benar-benar sudah siap untuk menerapkan hal tersebut? Mengingat masih ada diskursus tentang penggunaan gawai di sekolah yang belum jelas arahnya.

Seperti yang dikatakan Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, penerapan aturan penggunaan gawai di sekolah belum seragam. Kata dia, ada sekolah yang 100 persen membolehkan siswanya membawa dan mempergunakan gawai, sementara tidak sedikit pula sekolah yang melarang. 

"Artinya bagaimana anak itu memanfaatkan gadget, diskursus itu belum selesai di lingkungan Kemendikbud. Di sekolah (aturan) itu beda-beda, permasalahan terkait penggunaan instrumen di ruang sekolah itu formulasinya kaya gimana masih belum jelas" kata Ubaid kepada era.id Rabu (30/1/2019).

Selain itu, apabila e-Sport masuk ke dalam kurikulum, menurut Ubaid belum ada guru pengajar yang berkompeten untuk itu. 

"Pertanyaannya gurunya siapa? enggak ada itu. Jadi guru itu kan harus lulusan dari LPTK (lembaga yang memproduksi guru-guru dengan berbagai macam materi pendidikan), sementara belum ada LPTK yang menghasilkan guru e-Sport. Nanti di lapangnnya belum siap," ujarnya.

Sementara, Ubaid mengatakan tidak perlu ada pelajaran khusus e-Sport. Karena masih banyak hal penting yang harus dipelajari di sekolah. 

"Kalau mau ya dimasukin aja di pelajaran olahraga dan jasmani saja, enggak perlu dijadikan mata pelajaran baru, dan semua sekolah harus ada pelajaran tersebut," tuturnya

Tag: e-sports riwayat pendidikan tri mumpuni