Pemerintahan Prabowo Dilemahkan Lewat Orkestrasi 'Angsa Hitam' Riza Chalid?
ERA.id - Pengamat Intelijen dari Universitas Indonesia (UI), Chabibi Syaefudin menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang dilemahkan lewat operasi senyap Riza Chalid (RC), tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tahun 2018–2023.
"Di balik riuh rendah kritik tersebut, tercium aroma operasi intelijen yang sistematis, sebuah upaya penciptaan "Black Swan" (Angsa Hitam) untuk mengguncang fondasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui pelemahan instrumen setia negara, yakni Polri dan Kejaksaan Agung," kata Chabibi Syaefudin, Minggu (1/2/2026).
Chabibi Syaefudin menjelaskan fenomena yang melibatkan narasi dari "Kelompok 50" yang diisi oleh deretan tokoh vokal seperti Gatot Nurmantyo hingga Said Didu, menunjukkan jika panggung politik Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Secara teoritis, politik Indonesia saat ini adalah perwujudan dari strategi Subversi dan Agitprop (Agitasi dan Propaganda). Dalam kacamata intelijen, kelompok ini tidak lagi berperan sebagai oposisi konstruktif, melainkan bergeser menjadi Agent of Influence yang digerakkan oleh kepentingan logistik besar yang sedang terdesak.
"Kekecewaan mereka terhadap langkah pragmatis Prabowo yang berkoalisi dengan pemerintahan sebelumnya bukan didasari oleh idealisme, melainkan ketakutan akan hilangnya perlindungan politik bagi jejaring bisnis RC," tuturnya.
Chabibi mengatakan Riza Chalid juga menyerang dengan metode "False Flag Operation" ketika negara sedang "menyikat" simpul-simpul kekuasaannya. Serangan itu mengubah isu reformasi birokrasi diputarbalikkan menjadi narasi pembangkangan institusi.
Serangan terhadap Polri dan Kapolri melalui isu penolakan transformasi posisi Polri di bawah kementerian merupakan puncak dari taktik Divide et Impera modern. Dengan mengembuskan stigma negatif jika Polri melakukan "pembangkangan" atau mbalelo terhadap Presiden, kelompok ini sedang berupaya memutus urat nadi kepercayaan antara Panglima Tertinggi dan alat pengamannya.
Dalam teori Institutional Realism, stabilitas sebuah rezim sangat bergantung pada soliditas hubungan antara kepemimpinan sipil dan aparat keamanan.
Ketika Polri dituduh membuat "tim tandingan" reformasi, Chabibi mengatakan tujuannya bukan untuk memperbaiki institusi. Melainkan menciptakan friksi horizontal dengan TNI dan memperlemah wibawa Kapolri di mata Presiden.
"Ini adalah upaya menciptakan kelumpuhan internal agar energi pemerintah habis untuk memadamkan 'api di dalam sekoci' sendiri, sementara aktor intelektual di balik layar mencari celah untuk melepaskan diri dari jerat hukum," ucapnya.
Lebih jauh lagi, keberadaan figur-figur seperti mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di dalam lingkaran tertentu harus dibaca dalam kerangka Fifth Column atau "Kolom Kelima". Teori ini menjelaskan adanya elemen di dalam atau di dekat kekuasaan yang secara sadar atau tidak menjadi "duri dalam daging", berfungsi sebagai operator yang menjaga kepentingan lama agar tetap bercokol.
"Puncak dari skenario ini adalah persiapan munculnya fenomena Black Swan. Merujuk pada pemikiran Nassim Nicholas Taleb, Black Swan adalah peristiwa langka yang tak terprediksi namun memiliki dampak ekstrem yang menghancurkan. Kelompok 50 dan penyokong logistiknya sedang menanti, atau lebih tepatnya menciptakan kondisi tersebut," katanya.
Jika delegitimasi terhadap Polri dan Kejaksaan Agung berhasil menciptakan kekosongan otoritas atau mosi tidak percaya di tingkat akar rumput, Chabibi menuturkan stabilitas nasional akan runtuh dalam sekejap. Dalam situasi kacau itulah, posisi tawar politik akan bergeser, dan kebebasan bagi aktor-aktor seperti RC menjadi komoditas barter yang mungkin terjadi.
"Presiden Prabowo harus waspada bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berteriak di jalanan, melainkan mereka yang mampu membelokkan opini publik melalui narasi yang seolah-olah akademis dan patriotik, namun berhulu pada kepentingan sempit satu individu," terangnya.