Tanpa Megawati dan Jusuf Kalla, Memang Bisa Jokowi Jadi Presiden?
ERA.id - Presiden ke-7 RI Jokowi diberi fakta pahit bahwa pencalonannya dari Gubernur DKI Jakarta sampai menjadi presiden ada andil PDI Perjuangan dan Jusuf Kalla.
Tercatat sudah dua kali ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming disentil masa lalunya, pertama oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, kedua oleh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla.
Megawati begitu mengagungkan partai yang ia nakhodai. Di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1/2023), dalam pidato perayaan HUT ke-50 PDIP, Mega dengan lantang berujar tanpa partainya maka nasib Jokowi sangat kasihan.
"Pak Jokowi kalau enggak ada PDI Perjuangan, duh kasihan dah," kata Megawati.
Diingatkan Jusuf Kalla
Tiga tahun berselang, kali ini giliran JK yang mengingatkan awal mula Jokowi melangkah ke panggung politik nasional. Kalimat itu terlontar dipicu kegerahan JK soal kasus ijazah hingga pelaporan dirinya ke polisi karena dinilai menista agama.
JK menduga dia dilaporkan ke polisi oleh pemuja Jokowi yang kemudian disingkat ternak Mulyono atau Termul. Di samping itu, JK jengah melihat masyarakat mempertengkarkan keaslian ijazah Jokowi.
"Kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat ini berkelahi sendiri, saling memaki masyarakat, dua tahun," katanya.
Dalam konfrensi pers di rumahnya di Jakarta Selatan, Sabtu silam, JK mengaku netral dalam polemik ijazah Jokowi. Dia membantah memberi Rp5 miliar kepada Rismon Hasiholan Sianipar untuk terus membahas ijazah Jokowi.
"Ini soal Rismon ini sudah melibatkan semua orang, dituduhlah saya, dituduh Puan, dituduh SBY, dituduh siapa. Itu pengalihan saja. Jadi saya marah kenapa? Apalagi saya dituduh kasih Rp5 M, mana saya kasih Rp5 M? Ketemu aja tidak tahu saya, kenal pun tidak. Ini buktinya WA-nya. Tidak, saya bilang," kata JK.
"Rismon mau ketemu saya dengan tujuh orang, saya tidak terima. Roy Suryo mau ketemu, saya tolak. Demi saya mau netral," ujarnya.
Setelah itu, JK menyinggung hubungannya baiknya dengan Jokowi pada saat Jokowi belum menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
"Apa kurangnya saya coba? Saya yang bawa ke Jakarta," katanya.
"Saya yang bantu Jokowi. Tanya sama beliau. Kasih lihat foto ini. Itu masih pakai baju kotak-kotaknya. Janganlah macam-macam begitu," lanjut JK.
"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya," tegas JK.
"Dua tahun dia Gubernur, saya tidak campur, saya tidak pernah datang waktu Gubernur. Tiba-tiba jadi Presiden, saya bilanglah, 'Eh belum cukup pengalaman, jangan, nanti rusak negeri ini', Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya," katanya.
Mega saat itu meminta biar JK yang membimbing Jokowi karena sudah punya banyak pengalaman. Akhirnya PDIP resmi mengusung Jokowi-JK pada Pilpres 2014.
"'Kenapa Bu saya mesti wakil?', 'karena Pak JK yang paling berpengalaman, bimbinglah dia'. Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang'jangan, Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf'. Ya bukan saya minta, bukan. Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzer buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya, ngerti?" imbuh JK.
"Sudahlah Pak Jokowi, sudahlah. Kasih lihat ijazah saja. Itu saja. Timbul lagi, sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Dan saya yakin itu asli, kenapa tidak dikasih lihat? Kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat berkelahi sendiri, saling memaki masyarakat dua tahun," tutur JK.