Cerita Lila Tembus 600 Ribu Penonton, Show Token Bidik Lebih 30 Film yang Siap Diinvestasi

ERA.id - Film terbaru produksi MVP Pictures, Legacy Pictures, Folago Pictures, PK Films, dan Show Token, Cerita Lila, sukses meraih 600 ribu penonton di hari penayangan perdana pada 28 Juni 2026. Kesuksesan ini menjadi titik awal Show Token melakukan ekspansi ke 30 film lainnya. 

CEO Show Token, Akshay Melwani mengatakan industri perfilman Indonesia terus bertumbuh seiring berjalannya waktu, khususnya sebelum Covid-19 melanda. Show Token pun menargetkan sediktinya 30 judul film horor dan drama akan mendapat pendanaan sepanjang 2026.

"Sebelum Covid-19 konten local hanya 30 persen dari keseluruhan box office. Sekarang, mencapai 70 persen. Jadi, kami ingin mendukung pertumbuhan film Indonesia. Horor, drama tentunya," ujar Akshay saat ditemui beberapa waktu lalu.

Bukan hanya itu saja, Akshay menekankan Show Token juga ingin fokus memproduksi konten edukasi untuk anak-anak. Ia pun bersyukur film perdana yang mendapat pendanaan darinya, Cerita Lila, bisa tembus 600 ribu penonton.

"Hampir 600 ribu penonton untuk Cerita Lila (per Kamis, 25 Juni 2026). I mean, terima kasih untuk masyarakat Indonesia yang mendukung Cerita Lila," ujarnya.

Cerita Lila menandai kali pertama Show Token menjadi produser eksekutif film Indonesia. Langkah awal ini pun dijalankan melalui kerja sama dengan MVP Pictures, A&Z Production, serta berbagai studio lokal maupun global. 

Setelah sukses dengan Cerita Lila, Akshay Melwani dan tim bersiap untuk mendukung sejumlah film lainnya, seperti Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Taboo, Siti Vampire, Sebelum Tiga Puluh, dan masih banyak lagi.

"Kami harap untuk proyek film berikutnya, juga bisa tembus lebih banyak penonton. Kami telah rencanakan sekitar 30 film untuk tiga kuartal berikutnya. Di masa mendatang, kami siap mendukung sekitar 300 film," katanya. 

Sementara itu, COO Show Token, Joshua Khubani menyinggung target investasi mencapai 100 juta dolar AS. Joshua mengatakan target investasi di kawasan Asia Tenggara bukan sekadar tentang angka pertumbuhan, melainkan membangun arsitektur baru bagi ekonomi kreatif digital.

"Kami memandang Indonesia bukan sebagai pasar konsumtif, melainkan episentrum talenta yang selama ini kekurangan likuiditas dan system distribusi efisien. Kami hadir untuk menyelesaikan inefisiensi," ujar Joshua.