Instan di Mulut, Fatal di Tubuh: Mengapa Jamu Efek Cepat Sangat Berbahaya bagi Kesehatan?

ERA.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap bahaya produk jamu yang memiliki kandungan Bahan Kimia Obat (BKO). Kandungan zat berbahaya ini kerap kali ditemui pada produk jamu pegal linu yang dipercaya dapat memberikan efek yang cepat pada tubuh.

Berdasarkan temuan BPOM selama enam tahun terakhir, praktik penambahan BKO bukanlah kejadian yang kebetulan. Praktik yang dilakukan pun tercatat secara berulang dengan memilih bahan kimia tertentu, termasuk Sildenafil Sitrat, Deksametason, Sibutramin serta kombinasi Natrium Diklofenak dan Parasetamol.

“Polanya berulang memilih bahan kimia tertentu agar konsumen segera merasakan manfaat, lalu membangun kepercayaan melalui pengalaman sekali minum langsung terasa,” ujar Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Balai Besar POM di Serang, Devana Ardiaty, S.Farm., Apt.

Devana menjelaskan sejumlah kandungan BKO itu kebanyak ditemukan untuk produk pegal linu, obat kuat, hingga pelangsing tubuh. Konsumen yang mengonsumi produk tersebut pun merasa hasil maksimal dengan efek yang diberikan.

Padahal, kata Devana, penggunaan produk yang mengandung BKO itu bisa menyebabkan sejumlah penyakit seperti pengeroposan tulang, serangan jantung, stroke, hingga kematian mendadak. Sayangnya bahaya ini justru dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk menjual secara bebas berbagai produk mengandung BKO ini.

“Mereka hanya menginginkan hasil yang cepat terasa. Celah inilah yang dimanfaatkan pelaku usaha ilegal dengan menambahkan BKO agar produknya tampak lebih ampuh. Semakin cepat efek yang dirasakan, semakin besar pula kepercayaan konsumen,” jelasnya.  

Data BPOM mengungkapkan selama periode 2020–2026 terdapat 449 produk jamu mengandung BKO beredar di Indonesia. Sebagian besar merupakan produk ilegal karena mencantumkan nomor izin edar fiktif (51,22 persen), produk yang tidak terdaftar (33,63 persen) dan produk yang telah dibatalkan nomor izin edarnya (17,37 persen). 

Dari data tersebut lebih dari 90 persen produk tersebut merupakan jamu dengan klaim meningkatkan stamina pria (42,3 persen) mengatasi pegal linu (39,2 persen), dan pelangsing (10,2 persen). Ketiga klaim ini memiliki satu kesamaan, yakni semuanya menawarkan hasil yang ingin dirasakan dalam waktu singkat.

Meski demikian, Devana menekankan pentingnya teliti sebelum membeli produk-produk tertentu agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pertama, cek kemasan, label, izin edar, tanggal kadaluwarsa serta produk yang terdaftar di BPOM.

Kemudian waspada klaim berlebihan yang menyebut produk bisa mengatasi berbagai keluhan penyakit.

“Dalam dunia kesehatan, tidak ada satu produk yang mampu menjadi solusi untuk semua masalah dan solusi yang terdengar terlalu sempurna justru layak dipertanyakan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia turut mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpukau dengan efek instan yang ditawarkan produk, sebab jamu dan obat bahan alam lainnya bekerja melalui mekanisme yang berbeda dengan obat kimia.

“Kesehatan bukan tentang hasil yang instan, tetapi tentang perlindungan bagi tubuh dalam jangka panjang,” pungkasnya.