Rumah Merah Putih: Nasionalisme Anak Perbatasan

Jakarta, era.id - Setelah lima tahun absen dari industri film Indonesia, Alenia Pictures kini kembali dengan karya terbarunya di pertengahan 2019. 

Kali ini, pasangan Ale Sihasale serta Nia Zulkarnaen memperkenalkan Rumah Merah Putih, film yang tak kalah dengan film sarat makna nasionalisme layaknya Denias

Rumah Merah Putih mengangkat tema nasionalisme dari mata anak-anak yang tinggal di perbatasan Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste. Film ini didasari dari tulisan Jeremias Nyangoen dan memilih setting lokasi di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara. 

Di lokasi ini, pernah terjadi kisah aksi nasionalis seorang bocah bernama Joni Kala yang memanjat tiang bendera untuk mengambil tali yang putus. Videonya viral dengan banyak pujian, bahkan sampai diundang ke Istana Negara. Hal itu pun juga ditampilkan dalam film ini. 

Namun yang paling dititikberatkan di film ini adalah bagaimana anak-anak perbatasan mengatasi segala keterbatasan dan memilih untuk menegakkan nasionalisme di tengah mudahnya mereka meninggalkan daerah mereka.

Yang menarik, film ini dibintangi oleh anak-anak Nusa Tenggara Timur yang dipilih Alenia Pictures di beberapa daerah. Terpilihlah tujuh anak asli perbatasan yang akhirnya menetapkan Petrick Rumaklak dan Amori De Purivicacao sebagai pemeran utama. Sementara para bintang dewasanya terdiri para artis tenama seperti Pevita Pearce, Yama Carlos, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, dan artis pendatang baru Dicky Tatipikalawan.

Film Rumah Merah Putih berkisah tentang Farel Amaral (Petrick Rumaklak) dan Oscar Lopez (Amori De Purivicacao) yang tinggal di daerah Silawan, perbatasan antara Nusa Tenggara Timur-Timor Leste. 

Seminggu sebelum perayaan 17 Agustus, Farel, Oscar, dan dua teman lainnya David dan Anton mendapat jatah cat merah putih untuk mewarnai rumah dan lingkungan mereka dari Ruslan (Abdurrahman Arif) dan Oracio Soares (Dicky Tatipikalawan). 

Namun karena terganggu dengan perlombaan panjat pinang yang saat itu sedang digelar, Farel melupakan kaleng cat yang harusnya dibawa pulang.

Merasa takut dimarahin ayahnya (Yama Carlos) dan ibunya (Shafira Umm), Farel yang ditemani Oscar mencoba mencari cara untuk mendapatkan uang dengan berbagai cara. 

Sayangnya, saat ingin membeli cat merah putih yang baru, semua cat dengan harga serupa sudah habis terjual. Satu-satunya pilihan mereka adalah pergi ke kota pinggir perbatasan, Atambua untuk mencari toko penjual cat tersebut. 

Namun hal itu tidaklah mudah, karena mereka harus menjual ayam ke orang yang tinggal di perbatasan Timor Leste dengan bayaran tinggi agar bisa pulang pergi ke kota Atambua.

Lika-liku menggembalikan cat merah putih itu membuat Oscar harus mengikuti lombat panjat pinang. Naasnya, kecelakaan menimpa dirinya yang membuat syok dan tak bisa berjalan. Hal itu membuat Tante Maria Lopez (Pevita Pearce), bibi dari Oscar merasa sedih dan bingung apakah keponakannya harus dibawa ke Kupang yang sangat jauh atau melintasi perbatasan menuju Dili.

 

Merah Putih tak bisa tergantikan

Secara plot dan story telling, film ini berhasil menggugah rasa haru sekaligus miris dengan kondisi yang terjadi di wilayah perbatasan. Sang penulis skenario berhasil menyuguhkan hal itu dengan baik. Penonton dibawa geregetan dengan tingkah polos Farel dan Oscar saat harus mencari cara untuk mendapatkan catnya. Demi tidak dimarahi ayahnya karena menghilangkan cat, keduanya harus bolak balik ke kota Atambua untuk mendapatkan cat tersebut. Termasuk kejadian-kejadian lucu setelahnya.

Sebagai sosok baru dan belum pernah melakukan akting atau berhadapan dengan kamera, anak-anak Nusa Tenggara Timur ini perlu diacungi jempol, khususnya Farel dan Oscar. 

Hanya dalam waktu singkat mereka bisa menunjukkan kemampuannya. Meskipun di awal-awal cerita, ada akting yang sedikit meleset namun semuanya bisa mengalir. Bahkan kalimat-kalimat sentilan dari kedua anak ini mudah diingat seperti ketika mereka ditawarkan warna lain oleh penjual cat; "maaf, merah putih itu tidak bisa diganti." Atau perkataan salah satu teman Farel dan Oscar; "aku Anton Soedarsono. Bapak Malang, Ibu Kupang. Saya Indonesia." Secara tidak langsung kalimat-kalimat memberi edukasi terselubung akan arti nasionalisme dan persatuan.

Sementara, di sisi aktor bintang lainnya, mungkin hanya Pevita Pearce yang cukup menonjol karena ekspresif. Sosok lainnya adalah pendatang baru bernama Dicky Tatipikalawan yang berperan sebagai Cio atau Oracio Soares. Selain ekpresif dan mendalami perannya, ia juga memukau penonton dengan kemampuan beatbox-nya yang sering digunakan untuk menghibur anak-anak.

Yang paling menarik dan memanjakan mata adalah sinematografi alam Nusa Tenggara Timur yang banyak menampilkan wide angle serta panorama. Mulai dari gurun, hutan kaktus, bukit-bukit terjal sungguh memikat. Sementara bahasa yang digunakan juga terasa keasliannya yang menandakan ciri khas latar tempat cerita berlangsung.

Sepertinya, film ini terbagi menjadi tiga topik. Antara perjuangan menemukan cat merah putih, perjuangan Oscar untuk sembuh dengan masalah sarana di wilayah perbatasan, serta viralnya Farel ketika memanjat tiang bendera guna mengambil tali bendera yang nyangkut di puncak tiang.  

Ketiga topik itu yang membuat emosi penonton cerah, kemudian redup, yang kemudian perlahan dibangkitkan kembali. 

Beruntung, ketiga topik itu masih memiliki benang merah. Seandainya tidak, maka ceritanya akan seperti antologi meski menggunakan tokoh-tokoh dan cerita yang sama.

Ada beberapa bagian yang masih terlihat kasar dan tidak diolah dengan baik. Salah satunya ketimpangan detail dan eksekusi bagian ending. Ada beberapa hal yang tidak dijelaskan oleh penulis skenario karena terlihat banyak penonton yang mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati; "eh itu jadinya gimana?" 

Selain itu, ending-nya kurang menggigit karena tidak mempunya unsur kejutan. Seandainya ada kejutan lebih, mungkin penonton akan lebih greget melihat persahabatan dari kedua tokoh utama tersebut.

Film ini adalah film keluarga yang bisa dipastikan wajib ditonton setelah para siswa menyelesaikan ujian akhir kenaikan kelas. 

Di libur panjangnya tersebut, para anak bisa memilih menonton film Indonesia yang banyak memberikan edukasi. Apalagi jadwal tayang filmnya tidak bersaing dengan film Spiderman Far From Home yang baru tayang awal Juli mendatang. 

Kemungkinan Rumah Merah Putih yang tayang 20 Juni 2019 tersebut akan bersaing dengan Koki Cilik 2 yang hanya berbeda beberapa hari jadwal penayangannya.

Tag: film indonesia