Oase Hijau Tersembunyi di Gang Sempit Ibu Kota Jakarta

Jakarta, era.id - Bagaikan oase yang menyegarkan mata ketika melihat rindangnya tanaman hijau tumbuh subur di gang-gang sempit Jakarta. Pemandangan langka dan menyegarkan ini akan membuat lupa, bagaimana buruknya kualitas udara di ibu kota.

Kampung hidroponik, begitulah sebutannya. Daerah yang terletak di Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, ini memiliki ciri khasnya sendiri dengan beragam jenis tanaman mulai dari pakcoy, labu, hingga kangkung dibudidayakan warga menggunakan teknik hidroponik.

Adalah Suparno ketua RT 001/001 yang menggagas ide penanaman tanaman melalui teknik hidroponik di lingkungan tempat tinggalnya. Bekerjasama dengan PMI dan SIBAT Pengadegan, Suparno membentuk tim Hidrofresh dalam merintis kampung hidroponik.

"Muncul idenya tiba-tiba saja. Apalagi 5 Tahun lalu saya juga pernah kurus di ITB di kursusinlah sama CSR PT Korindo soal budidaya tanaman hidroponik," kata Suparno saat ditemui era.id, Sabtu (3/8/2019).

Berbekal ilmu yang didapatnya itu, Suparno mulai membuat tabung tanaman hidroponik pertamanya. Diakuinya saat merintis kampung hidroponik tidaklah mudah, dirinya banyak mendapat cibiran warga yang pesimis saat 'Kampung Hidroponik' didirikan sejak 2016 lalu

"Awalnya susah. Ada juga selentingan yang mengatakan 'apa iya bisa berhasil'. Tapi saya tidak perdulikan, Alhamdulillah berhasil dan kampung hidroponik se-DKI Jakarta itu asalnya dari saya, mereka belajarnya di sini," ungkapnya.

Dengan hadirnya konsep kampung hidroponik, Suparno mengaku banyak yang datang berkunjung ke kampungnya. Menurutnya, banyak masyarakat yang datang untuk sekedar melihat-lihat, ataupun membeli aneka sayuran yang ditanam di kampung hidroponik tersebut.

Kepopuleran kampung hidroponik yang dirintisnya itu juga membuat lingkungannya dikunjungi perwakilan dari sejumlah negara termasuk PMI Internasional dari Swiss dan Amerika. Kampung hidroponik ini juga berhasil meraih sejumlah penghargaan. "Meski belum dikunjungi menteri dan presiden. Saya bangga sudah ada 17 negara yang menginjakan kaki ke kampung ini."

Suparno menambahkan, konsep urban farming yang dilakukannya bersama warga menggunakan media tanam hidroponik akan mampu menciptakan ketahanan pangan dan penghasilan warganya, selain menambah ruang hijau yang kini sedang digencarkan oleh Pemkot DKI untuk mengatasi polusi udara.

"Saya paling suka ngasih materi ke karang taruna. Selain meningkatkan kesadaran mereka untuk menghijaukan kampung, kan hasilnya untuk kita juga, supaya menghirup oksigen yang bagus," lanjutnya. 

Ide menanam tanaman menggunakan media hidroponik juga diikuti warga lain di perkampungan sekitar. Jika tanaman di kebun hidroponik milik RT 001/001 menghasilkan sayur mayur, maka jenis tanaman yang ada di RT 001/002 berupa buah-buahan. 

"Kalau Pak Suparno kan sayuran. Kalau saya buah-buahan namanya Ngank Fruit atau gang buah. Berguru sama Pak Suparno. Cuma media tanamnya berbeda, pipa yang digunakan agak lebih besar karena akar buah-buahan lebih banyak dari sayuran," ucap Ketua Kelompok Tani Rt.001/02 Syahrul di kebun hidroponik miliknya.

"Sudah tiga kali panen, anggur, semangka, melon, tomat, labu, ini belum hijau banget karena umurnya baru satu bulan. Tapi sudah terlihat bakal buahnya," sambungnya.

Menurut Syahrul, konsep urban farming yang dipelajarinya dari Suparno cukup berhasil mengubah image gang-gang sempit dan kumuh yang biasa dilalui warga. Tak hanya itu, warga juga bisa menerima manfaat kebun yang ditanamnya. 

"Harapannya masyarakat yang tidak mau menanam pohon jadi mau. Memang mahal media tanamnya, tapi kan awet. Kita juga lagi usaha kan mencari modal, agar lebih banyak lagi media hidroponik yang bisa ditanami oleh warga," cerita Syahrul.

Tidak hanya Suparno, Syahrul juga berharap kampung-kampung lain di Ibu Kota ini juga ikut merawat lingkungannya. Agar, tidak hanya berdaya dan mandiri dengan penghasilan dari tanaman hidroponik tetapi juga dapat menghirup udara yang lebih baik. 

 

Tag: megapolitan becak di jakarta