Mengasah Akal tentang Bambu Pethuk yang Mahal

Jakarta, era.id - “Sarana Mistik untuk Penglarisan, Wibawa dan Perlindungan.” Begitu kalimat yang disematkan Ki Sabrang Alam dalam situs jual beli bambu pethuknya. Dibangun oleh mitos berantai, bambu pethuk jadi komoditi jual beli bernilai tinggi. Seperti yang telah dibahas dalam artikel Praktik Perdukunan, Dibenci Tapi Dicari, segala hal beraroma mistis selalu punya wangi tersendiri buat masyarakat Indonesia.

Eyang Samudra hidup damai di Dusun Ngepoh, RT 27/RW 7, Desa Metesih, Kecamatan Jiwan, Madiun, Jawa Timur, hingga sang ayah meninggal beberapa tahun lalu. Saat meninggal, sang ayah berwasiat kepada Eyang Samudra untuk menjaga bambu pethuk miliknya. Sejak itulah Eyang Samudra selalu didatangi orang yang menginginkan bambu pethuk tersebut.

Tak main-main, menurut pengakuan Eyang Samudra, orang-orang itu berani menawar bambu pethuk warisan ayahnya hingga harga miliaran. Tak cuma uang, Eyang Samudra bilang, beberapa peminat bahkan menawarkan rumah dan mobil untuk ditukar dengan bambu pethuk warisan ayahnya. 

“Ini peninggalan Suwargi, bapak. Dan saya diminta merawatnya. Banyak orang yang mau membeli dengan harga ratusan juta, bahkan ada yang sampai Rp1 miliar, tapi tak saya berikan,” kata Eyang Samudra, dikutip dari Solopos, Minggu (10/8).

“Pernah suatu hari calon pembeli datang ke rumah dan melihat kondisi hidup saya. Lalu, ia menawari saya rumah dan mobil untuk ditukar dengan bambu ini. Namun langsung saya tolak. Saya katakan, taruhan saya adalah nyawa untuk menjaga bambu ini,” tambahnya.

Eyang Samudra bukan satu-satunya orang yang berhubungan dengan bambu pethuk dan pusaran uang di balik pesona mistisnya. Sebelum berselancar di situs bambupethuk.com yang dikelola Ki Sabrang, kami sempat menengok sejumlah situs jual beli, mulai dari Tokopedia, Bukalapak, hingga OLX. Benar saja, harga jualnya fantastis.

Harga bambu pethuk berkisar antara Rp1 juta hingga Rp3 miliar. Di situs bambupethuk.com sendiri, mereka menetapkan mahar mulai dari Rp1,7 juta per bambu pethuk. Dalam keterangan yang kami kutip dari situs ini, ada sejumlah perkara yang membedakan harga jual bambu pethuk, yakni jenis dan kekuatan mistis yang ditanam di dalamnya.

Bambu pethuk yang dijual Ki Sabrang barangkali bukan bambu pethuk asli. Lewat situsnya, mereka mengakui bambu pethuk yang mereka jual bukan bambu pethuk yang terbentuk akibat proses alamiah alam raya. Namun, dengan kekuatan Ki Sabrang, mereka mengklaim dapat memasukkan energi yang biasa dimiliki bambu pethuk asli pada umumnya.

Konon, semua bambu pethuk yang dijual telah melalui rangkaian prosesi mistis yang dilakukan langsung Ki Sabrang. Untuk memberi muatan magis berupa khadam pada bambu pethuk, Ki Sabrang harus menghabiskan 15 hari berpuasa yang dibarengi tapa kungkum. Dalam kurun waktu itu, Ki Sabrang hanya bisa memproduksi tiga potong bambu pethuk.

 

Bambu pethuk dan kekayaan

Pada dasarnya, bambu pethuk adalah sebuah anomali alam. Jika bambu pada umumnya memiliki ruas satu arah, bambu pethuk justru punya ciri khas berupa ruas yang saling bertemu. Pertemuan dua ruas inilah yang jadi dasar penyebutan 'pethuk' (bertemu). Tak cuma unik secara bentuk. Secara supranatural, bambu pethuk dipercaya memiliki daya tarik magis di dalamnya.

Konon, setiap bambu pethuk dihuni oleh makhluk halus. Hal itulah yang dipercaya dapat memberi kekuatan magis bagi pemilik bambu pethuk. Selain itu, bambu pethuk juga kerap disebut sebagai pusaka lantaran dipercaya sebagai medium pertapaan di masa lampau. Dengan segala keistimewaan itu, bambu pethuk bertumbuh jadi komoditas berharga tinggi

Sejatinya, kami tak menutup mata soal bambu pethuk yang bisa mendatangkan uang dan membuat seseorang jadi kaya raya. Iya, buat orang-orang seperti Ki Sabrang, setidaknya. Dengan tingginya harga jual dan nilai mitos dalam bambu pethuk, mereka para penjual bambu pethuk jelas berpotensi kaya raya. Tapi, buat yang membelinya?

Hubungan bambu pethuk dan gelimang uang sejatinya juga bisa kita lihat dari sepak terjang Paul Hendrawan. Ia bukan dukun, bukan juga penguasa pusaka-pusaka. Paul adalah YouTuber. Konten di dalam channel YouTube Paul berisi perjalanannya berkeliling Indonesia untuk mencari keberadaan bambu pethuk yang mudah-mudahan asli.

Entah, apa Paul pernah menemukan bambu pethuk yang asli atau tidak. Yang jelas, sejauh penelusuran, kami tak berhasil mendapati satu pun video yang menunjukkan keberadaan bambu pethuk asli. Dalam setiap kontennya, Paul seringkali melakukan pengecekan terhadap temuan-temuan benda mirip bambu pethuk. Sayang, kebanyakan ternyata tak alami alias buatan.

 

Lupakan soal segala 'kebenaran' membingungkan soal bambu pethuk. Paul --sejauh penelusuran kami-- memang tak pernah mendapatkan bambu pethuk yang asli. Dari sekian banyak percobaan transaksi yang Paul perantarai, tak ada sepeser pun aliran uang yang nampak. Tapi, jika melihat kebesaran channel YouTube-nya, jelas ada aliran uang yang besar di sana.

Kami berupaya menghubungi Paul lewat sejumlah kontak yang ia cantumkan di channel YouTube maupun di akun Instagram-nya. Kami ingin mencari tahu, bagaimana Paul mengelola channel-nya, bagaimana putaran uang di baliknya, serta apa tujuannya membuat channel ini. Sayang, kami gagal. Tak ada satu pun kontak kami yang dijawab oleh Paul.

Maka, kami coba menebak seberapa besar putaran uang dalam channel YouTube Paul. Secara umum, ada dua indikator yang bisa digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan sebuah channel YouTube: CPM (Cost Per Mile) dan CPC (Cost Per Click). Dua indikator itu baru bekerja dengan dua syarat.

Syarat pertama adalah pertambahan jumlah subscriber minimal seribu dalam waktu satu tahun. Kedua, konten video channel tersebut harus ditonton minimal selama empat ribu jam oleh semua viewers dalam kurun waktu yang sama.

CPM adalah uang yang didapatkan sebuah channel setiap seribu penayangan iklan di seluruh video. Merujuk data situs moneysmart.id, Mei 2019, nilai CPM di Indonesia saat ini adalah Rp7000 per seribu tayangan iklan.

Sementara itu, CPC adalah nominal yang didapat sebuah channel dari setiap klik iklan yang tayang di dalam konten video. Nominal CPC sendiri berkisar antara Rp5.000 hingga Rp12.000.

Merujuk data situs socialblade.com, channel Paul Hendrawan telah berhasil mengumpulkan 340,491 subscribers dengan total views mencapai 91,989,468. Angka itu ia dapat dari 453 video yang diunggah sejak channel-nya dibuat pada 11 November 2013.

Dengan capaian itu, channel Paul terklasifikasi sebagai channel Grade B. Pendapatan Paul pun terbilang besar. Dalam 30 hari terakhir, perkiraan pendapatan channel Paul berkisar di angka 3,7 ribu hingga 58,9 ribu US dolar atau setara dengan Rp52.716.000 hingga Rp813.532.000 dengan kurs Rp 14,286 yang berlaku hari ini.

Akhir kata, akhirnya kita mendapat alasan paling masuk akal bagaimana sebuah bambu pethuk bisa membuat seseorang kaya raya.