Mendalami Tingginya Solidaritas Antar-Pengguna Vespa

Jakarta, era.id - Banyak yang bilang kalau pengguna motor skuter, khususnya pengguna merek Vespa dikenal memiliki solidaritas yang tinggi kepada sesamanya. 

Kalau di jalan, walaupun enggak kenal, sesama pengendara Vespa bakalan saling sapa, entah melambaikan tangan atau membunyikan klakson. 

Hal ini dibenarkan oleh pengamat transportasi, Muslich Zainal Asikin. Kata dia, ada kegiatan sosial secara tidak disengaja antar pengguna Vespa. 

Semisal, ada pengguna Vespa yang motornya mogok di jalan, lalu ada pengguna Vespa lain yang melihat, enggak jarang mereka berhenti untuk membantu agar Vespanya bisa menyala kembali. 

"Kenapa bisa gitu? Karena mereka merasakan nasib yang sama. Mengerti suka-duka menjadi pengguna Vespa, itu yang membuat mereka solidaritasnya tinggi," tutur Muslich kepada era.id, Minggu (18/8/2019).

Sejarah

Muslich bilang, hal itu tidak terlepas dari sejarah awal penggunaan Vespa. Ada satu fenomena sosial yang kompleks yang terjadi di Inggris sekitar tahun 60-an, di mana para pemuda atau kelas pekerja di London yang saat itu berada pada kondisi ekonomi yang kurang baik, tetapi mereka tetap ingin menikmati gaya hidup. 

Peminatan motor skuter mulai marak oleh kalangan tersebut. Diakui oleh Muslich, memang pengguna Vespa berasal dari kelas pekerja karena harganya terjangkau. 

"Untuk kendaraan bermotor yang paling atraktif dan harganya relatif terjangkau itu kan Vespa atau skuter. Sebelum munculnya motor motor Jepang memang itu yang paling diminati. Jumlah pemiliknya juga cukup besar di Indonesia pada generasi awal," jelasnya. 

Begitu pula dengan klub Vespa. Di banding klub-klub kendaraan bermotor lainnya, klub ini lebih menonjol dan memikat perhatian khalayak. Komunitas Vespa juga lebih menonjol dari segi sosial. 

"Otomatis, kalau mereka sudah berkumpul kan enggak cuma membahas soal Vespa doang, kebanyakan sambil melakukan kegiatan sosial, seperti memberikan bantuan untuk korban bencana alam. Karena mobilitas mereka lebih gampang," ungkap Muslich. 

Vespa di sekitar kita

Kami juga mengulik alasan seorang anggota klub Vespa bernama Sunartato bisa tertarik membuat klub motor skuter. 

Mulai dari perminatan terhadap mesin otomotif motor skuter, Sunartato bersama teman-temannya memutuskan untuk membuat klub Vespa bernama Lhapscoot sejak 2017. Anggotanya sekitar 15 orang. 

"Alasan bikin klub Vespa ini karena ingin menyalurkan hobi, dan menunjukkan eksistensi siapa kita. Mulai dari sering belajar otomotif bersama di salah satu bengkel dan sering touring bersama, sekalian saja kita bikin komunitas," ungkap Sunartato.

Komunitas Vespa ini enggak memiliki jabatan struktural seperti ketua. Semuanya dijadikan anggota. Tapi, kalau Lhapscoot sedang membuat acara, ada satu anggota yang dipilih sebagai koordinatornya.

Palajaran yang Sunartato dapat dari komunitas Vespa ini selain mempererat pertemanan adalah belajar solidaritas dan menanamkan nilai kemanusiaan. 

"Kalau lagi touring, kita selalu bawa peralatan lengkap, seperti kunci-kunci, ban serep, daleman mesin. Kalau ada yang mogok di jalan, ya kita benerin bareng-bareng," tutur dia. 

"Selain touring, Lhapscoot juga pernah berpartisipasi galang dana dan logistik untuk korban bencana alam atas nama gabungan komunitas skuter se-Jakarta Utara," lanjutnya. 

Tak hanya melakukan kegiatan sosial, Sunartato bilang komunitasnya juga berupaya menghasilkan keuntungan dari kegiatan dan pengetahuan otomotif mereka. 

"Kita juga beberapa kali beli Vespa bekas, kita rakit dan cat kembali supaya layak pakai, terus Kita jual lagi. Keuntungannya kita bagi bersama. Kita juga merakit mesin pengapian, kita jual mesin itu ke komunitas Vespa lain," pungkasnya. 

Tag: lifestyle