Meminimalisasi Tumpukan Pakaian dengan Ikut #TukarBaju

Jakarta, era.id - Berangkat dari kesadaran akan perlunya mengubah gaya hidup konsumtif, ternyata sejalan dengan tren fashion saat ini. Perlahan milenial mulai melirik konsep hidup minimalis dan memperhatikan dampak buruk dari lingkungan.

Tak bisa dipungkiri memang, siklus mode busana tak lagi berpatokan dengan musim. Hal ini membuat bisnis pakaian, berkembang ke arah fast fashion --istilah modern untuk menyebut pakaian murah yang diproduksi cepat oleh toko retail demi menanggapi tren baru.

Bagi banyak orang, kemunculan fast fashion justru menjadi kabar buruk yang semakin melanggengkan budaya konsumerisme di masyarakat. Kabar buruknya lagi, fast fashion turut menyumbang pencemaran lingkungan dan eksploitasi pekerja demi menciptakan produk murah yang bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

Hal itulah yang ditangkap oleh komunitas Zero Waste Indonesia, dengan mengajak masyarakat untuk bergaya hidup #zerowaste dengan meminimalisasi sampah, secara khusus pakaian. Salah satu caranya, menukar pakaian lama kalian untuk orang lain yang lebih membutuhkan. Idenya mirip seperti donasi atau menyumbangkan pakaian lama kalian. Tapi lewat #TukarBaju, kalian bisa mendapatkan baju baru setelah menukar pakaian lama kalian.  

Jadi saat, kalian punya pakaian yang masih layak pakai dan jarang digunakan karena berbagai alasan seperti ‘ah masih sayang’, ‘barang ini dulunya punya kenangan’, 'simpan dulu deh nanti juga dipakai', dan masih banyak lagi alasannya. Kalian bisa ikut menukarnya di #TukarBaju, jadi kalian tidak harus ketinggalan fashion dengan tumpukan baju yang sudah dibeli.

 

 

 

 

 

View this post on Instagram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Intip yuk baju-baju yang berhasil menjadi stok kita di acara Pop-Up #TukarBaju kemarin (geser gambar ke kiri ????????) . Kami sangat berterima kasih kepada #TemanTukar yang sudah mendonasikan bajunya di tanggal 12-17 Mei 2019 ke @antologi_space. Banyak juga #TemanTukar yang bahkan mengirimkan bajunya jauh-jauh dari Jakarta dan kota lain luar Yogyakarta sehingga baju-baju yang didonasikan dan lolos kurasi bisa kami jadikan stok untuk pop-up #TukarBaju di Jogja Minggu, 19 Mei lalu ???????? . Pengalaman yang seru banget bisa mengadakan acara #TukarBaju di Jogja. Serunya adalah kami banyak menemukan fakta-fakta seru selama #TukarBaju berlangsung???? . ????Kami banyak menemukan baju batik & vintage yang sebelumnya di Jakarta tidak kami temukan ???? Koleksi baju pria lebih banyak dibanding acara #TukarBaju sebelumnya ???? Ditemukan uang receh pecahan Rp5,000 dan Rp2,000 di dalam saku celana????, hayo ngaku siapa yang suka lipat-lipat uang di dalam saku celana sampai lupa? ???? Jumlah baju yang ditukar selama acara berjumlah lebih dari 1000 buah baju ???? Jumlah baju yang didonasikan selama acara berjumlah kurang lebih 850 buah baju . Setiap kota memiliki keunikannya sendiri-sendiri ya, kali senang sekali bisa berkesempatan untuk menyapa warga Jogja dan menemukan banyak cerita dan pengalaman seru selama acara. . Tidak sabar nih menyapa #TemanTukar lainnya. Selanjutnya kami harus pop-up di kota apa ya? ????????????

A post shared by #TukarBaju (@tukarbaju_) on

Seperti halnya yang dilakukan Anisa Malia (25), yang pernah ikut berpartisipasi di acara #TukarBaju. Bagi Anisa, ketimbang membeli baju dan terjebak tren fast fashion yang menuntutnya harus membeli banyak pakaian. Dirinya lebih memilih untuk menukar semua pakaian dan barangnya dengan ikut #TukarBaju.

“Awalnya ikutan tukar baju karena gue rutin declutter (menyimpan) pakaian. Jadi selagi bisa pinjam atau tukar, gue bakal coba itu dulu sih. First impression ya datang ke acaranya rapih banget. Berasa lagi milih baju baru di toko gitu,” kata Anisa saat berbincang dengan era.id, Sabtu (21/9/2019).

Anisa menjelaskan, tidak sekedar datang lalu pilih baju dan pergi. Tukar baju ternyata mementingkan kepuasan mereka yang berpartisipasi. Di mana, pakaian yang ada sudah diseleksi kondisi fisik barang atau dikurasi, dikelompokan sesuai warna dan jenisnya.

“Baju sama selama dipisah jadi enak milihnya. Nah, kedua kali ikut acaranya pas di Grand Indonesia itu lebih ramai, dari yang pertama. Nah itu juga dia (penyelenggara) buat antrian biar enggak sesak saat milihnya. Pokoknya dibuat nyaman banget. Padahal ya bukan lagi beli baju, cuma sekedar tukar. Pokoknya gue jadi ketagihan ikut tukar baju. Selagi bisa punya baju ‘baru’ gratis, ngapain beli,” ujar Anisa.

Menurut Anisa, jika dilihat dari perspektif zero waste tukar baju bisa menjadi solusi mengurangi limbah tekstil dan sampah fashion. Meningkatkan kesadaran akan lebih perduli dengan bumi, jadi salah satu alasannya.

“Itu jadi salah satu bentuk partisipasi gue akan peduli bumi. Ini jadi langkah awal di mana gue belajar hidup minimalis. Enggak melulu ngikutin perkembangan fesyen yang mana jadi impulsive buying,” tuturnya.

Belajar jadi minimalis, kata Anisa, sudah dilakukannya selama kurang lebih 7 bulan. Sedangkan, belajar untuk hidup zero waste sudah ia tekuni selama 4 bulan. Lagi-lagi karena kesadaran limbah tekstil yang berakibat buruk pada kerusakan bumi.

So I migrate to slow fashion. Meminimalisir hal-hal di atas dengan stop beli pakaian baru sejak 4 bulan yang lalu, dan coba konsisten sampai bulan-bulan berikutnya? Rutin declutter pakaian yang sudah enggak ‘sparks joy’ lagi, lalu di preloved atau di #TukarBaju Kalau urgently butuh pakaian, gue coba thrifting dulu, tapi dengan menerapkan ‘1 in 1 out’ masuk pakaian baru, keluar pakaian lama,” tuturnya.

 

 

 

 

 

View this post on Instagram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[TIPS THRIFT SHOPPING] Dalam gaya hidup zero waste ada yg namanya “beli secondhand / bekas”. Dari pada membeli barang produksi baru lebih baik kita memanfaatkan barang yg sudah ada untuk menghindari barang tersebut menjadi potensi sampah. Beli baju bagus yg sesuai style kita memang menyenangkan, tapi ga semua baju bagus itu harus dibeli baru. Selain @tukarbaju_ memiliki baju baru bisa dilakukan dengan "Thrift Shopping". Apa sih Thrift Shopping itu? Thrift shopping adalah istilah menjual atau membeli barang bekas atau secondhand. Kalau di Instagram, istilah populernya preloved. Jadi, barang tersebut sudah pernah menjadi milik seseorang dan akhirnya dijual kembali dengan harga g jauh lebih murah dari harga awalnya. Di Jakarta, Thrift Shop ini gampang banget ditemuin, misalnya di Pasar Senen, Pasar Baru dan Pasar Santa. Masing-masing dari mereka menjual banyak barang bekas, tapi barang yg paling mudah ditemuin adalah pakaian bekas. Nah, ada tips nih buat kalian yg mau coba beli pakaian di Thrift Shop: ???? Datangi tokonya langsung untuk cek kondisi barang ???? Pakai outfit yg nyaman karena berbelanja di Thift Shop tidak senyaman berbelanja di mall ???? Harus sabar, jeli dan teliti memilih barang ???? Siapkan stamina prima karena kamu bakal menelusuri banyak toko untuk menemukan barang yg sesuai ???? Pandai menawar. Tidak selalu barang yg dijual di Thrift Shop memiliki kualitas yg bagus. Terkadang, bisa jadi baju yg mereka jual sudah kehilangan dua kancing atau celana yg dijual ternyata memiliki bolong sedikit. Jadi, kalau menemukan pakaian bagus yg memiliki kerusakan, jangan takut untuk menawar! ???? Bawa reusable bag sendiri untuk menempatkan pakian yg kamu beli ???? Setelah sampai di rumah pastikan baju yg dibeli langsung dicuci bersih. Oh ya, sebelum mencuci dengan sabun, dianjurkan terlebih dahulu untuk merebus pakaian dengan air panas selama 10 menit agar kuman lebih cepat mati. Ingat, walaupun baju tersebut terlihat masih bagus dan layak pakai, tapi kita tidak tahu kuman dan bakteri apa saja yg menempel di baju tersebut. Share yuk, di mana lokasi Thrift Shopping favorit kamu? . ????: IDN Times

A post shared by Zero Waste Indonesia (@zerowaste.id_official) on

Jadi ketimbang banyak pakaian yang tertumpuk di lemari pakaian, ada baiknya ikut komunitas semacam ini. Enggak harus beli pakaian baru, pakaian lama pun bisa jadi model alternatif untuk kalian kenakan dan enggak bikin ketinggalan zaman.

 

Tag: fashion nikah milenial